SAMARINDA–Bangunan berdimensi 1x4 meter berdinding kayu menjadi tempat tinggal Danuar Nur Hakiki. Bertahun-tahun dia tinggal di bangunan Jalan Pangeran Hidayatullah, Karang Mumus, Samarinda Kota, itu. Di sana, dia kerap berteriak tanpa alasan. Warga sekitar tahu bahwa pria kelahiran 5 Januari 1979 itu berstatus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Namun, kemarin tingkahnya kelewatan. Nyawa seseorang terancam karena ulahnya.
Kemarin siang, Danuar–yang lebih akrab disapa Junaidi–menyerang Rio Sonata Riyanto, pelajar difabel. Terjadi tidak jauh dari kediaman Junaidi. Menurut keterangan Yulianto (29), warga sekitar, dia melihat Junaidi mengejar korban ke dalam gang. Di dalam gang, Junaidi menusuk Rio, yang sehari-hari menyambi sebagai juru parkir (jukir).
Rio menerima luka di beberapa bagian dari keganasan Junaidi. Di perut kanan, tangan kiri, dan telinga. Setelah ditusuk, korban tergeletak dan bersimbah darah. Beruntung warga melihat kejadian itu. Rio segera diselamatkan. Sementara itu, Junaidi melarikan diri. Tubuh kurusnya membuatnya terlalu gesit untuk dikejar. Dia menghilang di tengah keramaian.
Junaidi sempat terlihat memanjat atap rumah warga sekitar. Warga kembali mengejar. Kali ini bersama kepolisian yang sudah hadir untuk menangani perkara. Namun, Junaidi kembali menghilang.
Rey Ferli (21) memberi keterangan. Ferli punya hubungan keluarga dengan Junaidi. Dia membenarkan kerabatnya yang kerap bertingkah aneh itu. "Tapi kalau sama keluarga, baik-baik saja," tuturnya.
Ferli menyebut, pagi harinya masih sempat bertegur sapa. Hal yang tidak lepas dari ingatan, kebiasaan Junaidi yang selalu meminta uang atau rokok. "Kalau dikasih, enggak lama kemudian, diam. Kadang teriak juga," tambahnya. Pemuda berambut lurus itu tak menampik, pelaku sudah bolak-balik ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam. Namun, pelaku bisa keluar lagi dengan dalih biaya perawatan. Panggilan Junaidi, disebut Ferli, memang permintaan pelaku.
Pantauan Kaltim Post, di sekitar tempat tinggal Junaidi, beberapa anggota keluarganya bermunculan. Dari informasi yang diperoleh, Junaidi jarang diperhatikan keluarganya. "Makanya, kadang jadi jukir juga dia (Junaidi)," sambung Ferli.
Di tempat terpisah, Dayat (40), warga sekitar, menuturkan bahwa tetangganya itu memang sering membawa benda tajam. "Saya enggak tahu dapat dari mana, bukan tadi (kemarin) saja dia menenteng pisau," ujar Dayat. Namun, terkadang Junaidi juga datang ke masjid untuk salat berjamaah.
Menjelang petang, sekitar 17.00 Wita, Junaidi yang mengenakan celana panjang krem terlihat di Jalan Pulau Banda, Samarinda Kota. Dia diringkus tanpa perlawanan. Dia lantas dibawa ke markas polisi di Jalan Bhayangkara. Dia terus meminta rokok. Sementara kondisi Rio, masih dalam perawatan tim dokter di RS Dirgahayu.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto menegaskan, bakal membawa Junaidi ke rumah sakit khusus. "Sudah ditangkap, tapi anggota masih ingin memeriksa. Memastikan yang bersangkutan punya kartu khusus atau tidak," singkatnya. (*/dra/ndy/k8)
Editor : octa-Octa