SAMARINDA–Ekonomi kreatif menjadi salah satu tolok ukur baru untuk perkembangan pariwisata daerah. Namun, merangsang para pelaku untuk terus berinovasi jadi pekerjaan besar pemerintah saat ini.
Kaltim pun memiliki potensi mengembangkan ekonomi kreatif. Bahkan, untuk bersaing di level nasional. Akan tetapi, hal tersebut belum ditunjang dengan baik oleh pemerintah. “Pemerintah perlu buat ekosistem yang kondusif untuk para pelaku ini,” ucap Hetifah Sjaifudian, anggota Komisi X DPR RI dalam dialog Pengembangan Publikasi Produk Kreatif di Hotel Midtown, kemarin (13/3).
Pertumbuhannya pun bisa menyerap tenaga kerja yang lebih efektif. Tapi, konektivitas antara pemerintah pusat, khususnya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan para pelaku ekonomi kreatif seringkali terputus.
Perlu legislasi yang lugas agar ini bisa terkoneksi sehingga koordinasi pemerintah daerah, pusat, dan pelaku ekonomi bisa berada dalam satu kanal. “Biar Kaltim tak melulu dilihat dari sektor industri ekstraktif saja. Ekonomi kreatif di Kaltim juga subur, kok,” sebutnya.
Dikonfirmasi terpisah, Fahmy Akmal, pelaksana tugas direktur Perkembangan Pasar Dalam Negeri Bekraf, menuturkan, ekosistem kondusif sangat diperlukan agar pelaku ekonomi kreatif bisa tumbuh subur. Kelak menguatkan perekonomian daerah.
Kini Bekraf tengah mencari solusi agar memantik pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya, menggandeng e-Commerce untuk menyediakan kanal pelaku ekonomi dalam memasarkan produknya. “Kendala lain, kami juga butuh keaktifan para pelaku usaha sendiri karena kami menangani se-Indonesia,” sebutnya.
Karena itu, keaktifan pelaku ekonomi kreatif untuk mendaftarkan produknya lewat aplikasi Bekraf Information System in Mobile Application (Bisma). Jika telah terdaftar, sebut dia, maka akan mudah memproses pendaftaran hak kekayaan intelektual produk tersebut dan membantu memasarkan produk-produk olahan tersebut. “Masalah ini yang sering jadi kendala,” singkatnya. (*/ryu/ndy/k8)
Editor : octa-Octa