BONTANG–Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni memberikan ucapan selamat kepada pengurus Asosiasi Industri Kerajinan (Asik) Kota Bontang masa bakti 2018–2021 yang baru dilantik, Selasa (26/3). Pelantikan berlangsung di Auditorium Taman 3D. Pada kesempatan itu, Neni menyampaikan harapannya agar Asik menyusun program jangka pendek dan jangka panjang dalam rangka memajukan industri kerajinan di Kota Taman.
“Insyaallah, dengan telah dilantiknya ketua dan pengurus hari ini, Asik segera menyusun program jangka pendek dan jangka panjang. Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Perindagkop akan senantiasa berupaya agar semua organisasi dan pengrajin bisa berdaya dengan terus melakukan pendampingan yang maksimal. Seperti salah satu perajin kita yang karyanya telah mendapat Standar Nasional Indonesia kemarin. Perajin tersebut kita dampingi juga didukung oleh perusahaan-perusahaan,” tutur Neni.
Karena itu, pada kesempatan ini ia juga mengimbau pengurus dan anggota Asik untuk terus berinovasi. “Kita biasanya masih kalah dalam kemasan. Sebab itu, bagaimana caranya kita dapat mengemas karya kita agar orang tertarik membeli. Alhamdulillah, dengan pendampingan organisasi dan Disperindagkop, saya lihat sudah luar biasa kemasannya. Apalagi kerajinan batik Bontang kita sekarang,” tambahnya.
Pada acara ini, Pemerintah Kota Bontang mengundang empat perajin batik khas Bontang. Sebagai komitmen pemerintah dalam memajukan industri ini, Neni pun mengatakan, hasil batik keempatnya akan digunakan sebagai seragam jajaran ASN dan non-ASN di setiap perangkat daerah.
“Sekitar lima ribuan ASN dan Non-ASN akan mengenakan karya batik khas Bontang. Ini peluang yang sengaja dibuka pemerintah untuk perajin dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat. Saya tidak mau kalau nanti batik ini diproduksi di kota lain. Semua harus dilakukan di Bontang. Saya ke mana-mana terus memperkenalkan batik Bontang. Termasuk tas buatan DWP yang saya suka kenakan. Itu khas Bontang,” ujar Neni.
Pemerintah Kota Bontang melalui Disperindagkop terus berupaya agar industri kerajinan ini terus hidup di Kota Bontang. Dalam berbagai kesempatan, Neni kerap mengajak masyarakat untuk berwirausaha. “Tidak mengandalkan SDA, karena Bontang bukan kota kaya akan sumber daya alam,” katanya. Hal itu dia tekankan bukan tanpa alasan. Neni menyebut, pertumbuhan ekonomi makro Kota Taman telah didominasi oleh industri hilir dan bukan dari industri nonmigas, yakni kenaikan sebesar 1,38 persen. Sehingga dia dapat simpulkan bahwa Kota Bontang memiliki peluang di industri tersebut. (hms8/kri/k8)
Editor : octa-Octa