Sebagian warga Samarinda benar-benar menderita. Belum surut air yang merendam kawasan Bengkuring, hujan lebat kembali datang kemarin (9/6). Kota Tepian bak danau. Banjir di mana-mana.
SAMARINDA bukan satu-satunya daerah di Kaltim yang diterjang hujan lebat kemarin. Hujan merata hampir di semua kabupaten/kota di Benua Etam. Dari pantauan Kaltim Post, akibat hujan itu membuat sejumlah daerah banjir. Selain Samarinda, ada Bontang, Kutai Kartanegara, dan Penajam Paser Utara (PPU).
Namun, yang paling terasa dampaknya adalah Samarinda. Jalur lintas antarkota sempat dibuat macet sejak pagi. Tepatnya di persimpangan Kompleks Perumahan Alaya, Jalan DI Pandjaitan, Sungai Pinang. Genangan air setinggi 80 sentimeter membuat mobil-mobil yang hendak melintas keluar Samarinda terhenti. Ditambah jalur tersebut menjadi jalan utama akses ke Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto.
Kasat Lantas Polresta Samarinda Kompol Erick Budi Santoso menyebut, jalur alternatif yang biasa digunakan juga terdampak banjir. “Makanya angkutan ke bandara kami maksimalkan dari kepolisian, TNI, dan unsur relawan, bolak-balik,” ujar perwira melati satu tersebut.
Mantan kapolsek Kawasan Pelabuhan (KP) Samarinda itu menjelaskan, anggota satuan lalu lintas semuanya all out ditempatkan di beberapa titik jalan yang menggenang. “Ini sudah urgent. Kami juga membantu warga yang sakit dan mau melahirkan,” sambung Erick.
Di antaranya, petugas ditempatkan di Jalan DI Pandjaitan, simpang Mal Lembuswana, simpang Sempaja (Jalan Wahid Hasyim-PM Noor), simpang HM Ardans, simpang Remaja (Jalan Ahmad Yani-Mayjen Sutoyo), simpang Muara (Jalan Slamet Riyadi-RE Martadinata), dan beberapa titik lainnya. “Tapi yang kami maksimalkan di sini (simpang Alaya), karena banyak warga yang hendak berangkat ke bandara dari sini,” tegasnya.
Harian ini juga sempat bertemu dengan Septian WN (52). Ibu rumah tangga (IRT) yang hendak bertolak ke Jakarta. Tepatnya di Cibubur, Jakarta Timur. “Pesawat pukul 14.15 Wita, tapi kalau kondisi Samarinda hujan dan banjir, berangkat lebih cepat,” ucap Septian saat ditemui di simpang Perumahan Alaya.
Seorang warga membantu membawakan barang warga lainnya yang akan menuju bandara APT Pranoto. (RAMAS/PROKAL.CO)
Ibu yang kembali ke ibu kota negara bersama anaknya itu ingin balik setelah berlebaran di Kota Tepian. Padahal, jam di tangan masih menunjukkan pukul 10.30 Wita. Dampak banjir di Jalan DI Pandjaitan membuat sebagian besar penumpang pesawat terlambat.
Pantauan Kaltim Post, armada truk kepolisian, baik dari Polresta Samarinda dan Detasemen B Pelopor Polda Kaltim bolak-balik ke Bandara APT Pranoto. Bahkan, petugas memanfaatkan mobil dengan bak terbuka yang mengarah ke bandara agar kendaraannya bisa ditumpangi. “Jalur Samarinda-Bontang sempat lumpuh. Tapi kami berupaya semua, termasuk kendaraan milik TNI juga dipakai membantu,” terangnya.
Kendaraan secara perlahan juga bergantian untuk melintas. Pasalnya, hanya kendaraan besar yang bisa menembus banjir di Jalan DI Pandjaitan. “Pilotnya saja terjebak banjir. Jadi, pesawat sebagian ada yang tertunda penerbangannya,” sambung Erick.
Sementara itu, di simpang Sempaja, kendaraan-kendaraan kecil dipastikan tidak bisa melintas. Kedalaman air mencapai hampir 1 meter. Harian ini bahkan menumpang kendaraan TNI yang mengevakuasi warga di kawasan Batu Cermin, Sempaja Utara, Samarinda Utara.
KAPAN BERAKHIR: Ibu dan anak ini menerobos banjir. (RAMAS/PROKAL.CO)
Hingga pukul 13.00 Wita, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, 13 titik mengalami genangan. Dengan ketinggian 25–75 sentimeter. Jalan Juanda, simpang Mal Lembuswana, Jalan P Antasari, Jalan Suryanata, Jalan dr Soetomo, Jalan Wahid Hasyim I dan II, Jalan PM Noor, Jalan AW Sjahranie, Jalan Ahmad Yani, Kompleks Griya Mukti Sejahtera, Perumahan Bengkuring, dan Jalan DI Pandjaitan. Namun, kondisi serupa juga merambat ke daerah lain. Yakni, Jalan S Parman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Hasan Basri.
Khusus kawasan Perumahan Bengkuring dan Griya Mukti, yang sudah banjir sejak Lebaran Rabu (5/6), terlihat sebagian besar warga mulai meninggalkan rumah. Mengungsi lantaran air kiriman bukan surut, melainkan malah bertambah tinggi. Bahkan, sebagian besar warga memanfaatkan fasilitas masjid yang berada lebih tinggi.
Kepala BPBD Samarinda Sulaiman Sade menuturkan, armada berupa perahu sudah diterjunkan dan disebar ke beberapa titik. “Di Bengkuring memang semakin dalam. Tapi kami tidak bisa menyampingkan daerah lain yang juga terdampak banjir,” sebutnya. Kembali disinggung mengenai titik banjir, pria yang tujuh tahun bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Samarinda itu menjelaskan, sudah lebih 20 titik. “Ini sangat ironis,” tambahnya.
Sulaiman berharap, hujan tak lagi turun. “Kalau turun, banjir tentu bisa lebih lama,” ungkapnya. Namun, dia tetap mengacu pada situasi tanggap darurat yang ditetapkan Pemkot Samarinda dalam musibah banjir.
Ditambah air kiriman dari hulu Sungai Karang Mumus (SKM), disebut Sade, bisa menambah lama waktu genangan. Faktor lain, luapan air Sungai Mahakam membuat genangan hanya stagnan. Hingga pukul 08.30 Wita kemarin, genangan di kawasan Jalan Ahmad Yani masih setinggi 90 sentimeter.
PELEBARAN JALAN
Menata ulang akses jalan dan sistem irigasi di sekitar Jalan Urip Sumoharjo atau Terminal Lempake, Samarinda Ilir, menjadi solusi terbaik untuk mengurai persoalan banjir yang kerap memutus akses lalu lintas yang menuju Bandara APT Pranoto Samarinda tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim Salman Lumoindong menyebut, saat ini, Pemprov Kaltim dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Balikpapan telah mengusulkan anggaran penataan dan pelebaran akses jalan dari daerah Lempake menuju Bandara APT Pranoto.
Dana sekitar Rp 60–70 miliar akan digelontorkan untuk menata poros Samarinda-Bontang tersebut. Nantinya, anggaran tersebut digelontorkan melalui APBN 2019–2020. Pekerjaan itu akan masuk proyek tahun jamak (multiyears contract). “Yang tahu teknis terkait itu adalah BPJN. Mereka memang ada menganggarkan dana itu,” kata dia.
Namun, sebelum anggaran megaproyek itu digelontorkan, sambung Salman, BPJN meminta agar Pemkot Samarinda segera memastikan pembebasan lahannya. Sebab, pelebaran jalan tersebut akan membutuhkan tambahan lahan yang cukup panjang.
“Proses pembebasan lahan itu membutuhkan kerja sama dengan Pemkot Samarinda. Rencananya, pelebaran jalan dilakukan dari bandara ke dalam Kota Samarinda. Terutama di sekitar daerah Lempake yang jadi akses masuk dan keluar akan ditata,” tuturnya.
Dengan terus meningkatnya jumlah kendaraan yang keluar dan masuk Samarinda dari Bandara APT Pranoto, jalan di daerah Lempake dan sekitarnya harus ditata. Apalagi dengan banjir yang kerap menutup akses Jalan Urip Sumoharjo dan sekitarnya.
“Selain memang dilebarkan, jalan dari Lempake ke bandara dibuat menjadi dua jalur. Kebutuhannya tidak hanya jangka pendek, tetapi memang jangka panjang. Apalagi sekarang belum ada jalan alternatif yang ke bandara,” katanya.
Contoh jalan itu bisa becermin pada akses jalan yang dimiliki Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Baik yang berada di depan bandara maupun dari kedua sisi jalan yang akan masuk ke bandara sama-sama mempunyai jalan yang lebar dan dibangun menjadi dua jalur.
“Karena jalan yang dimulai dari daerah Lempake hingga bandara itu beranda muka Samarinda. Kalau jalannya ada dua jalur, tentu akan sangat bagus. Apalagi panjangnya mencapai sekitar 25 kilometer. Sekarang tinggal bagaimana memastikan proses pembebasan lahannya,” pungkas dia. (*/dra/*/ryu/*/drh/rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria