SAMARINDA–Friksi di tubuh PKS menyeruak ke permukaan. Kehadiran Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) jadi pemantik terbelahnya salah satu partai Islam itu. Di Samarinda, tercoretnya Sarwono dari pencalonan wakil wali (wawali) kota Samarinda yang diusung PKS digantikan Arif Kurniawan kian membakar friksi yang telanjur menganga sejak awal tahun ini.
“Kami kecewa dengan sikap yang diambil kepengurusan saat ini,” ucap Tohad, kader PKS Samarinda.
Menurut dia, kehadiran Garbi mestinya tidak menjadi soal. Posisi Sarwono untuk diusung sebagai wawali bakal memberi peluang menang lebih besar. “Langkah yang diambil kepengurusan PKS Samarinda kini terkesan gegabah,” sambungnya.
Senada, Kepala Bidang Pembangunan Jaringan dan Ekonomi PKS Samarinda Eka Bayu mengaku tidak pernah diajak bicara soal pergantian Sarwono menjadi Arif Kurniawan. Mereka justru dihadapkan pada pilihan, berdiri di sisi Garbi atau PKS. “Karena ikut ormas justru berujung seperti ini,” ungkapnya kecewa.
Ditemui terpisah, Ketua DPD PKS Samarinda Dimyati Mustofa menuturkan, pergantian nama tersebut sudah diusulkan jauh sebelum Pemilu Serentak 2019 dihelat. “Prosesnya panjang sudah dari awal tahun, makanya SK itu baru terbit pada 5 Juli,” ucapnya.
Dia menambahkan, soal Garbi yang disebut sekadar ormas, tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah. Apalagi, polemik nasional sudah jamak diketahui publik. Jadi, tidak elok mengganggap masalah ini bukan hal krusial. Termasuk, klaim kader yang memilih mundur itu.
“Kalau itu, klaim yang terlambat. Sudah banyak yang beralih bahkan sebelum pemilu dihelat. Pengaruhnya bisa dilihat dari hasil pemilu sekarang di Samarinda,” tutupnya. (*/ryu/dns/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria