Potensi pendapatan daerah hingga miliaran rupiah dari parkir menguap di tangan jukir liar. Belum lagi keresahan warga, karena jukir liar kerap menjengkelkan.
BALIKPAPAN- Juru parkir (jukir) liar jadi persoalan klasik di Balikpapan. Bertahun-tahun dikeluhkan, tak pernah dituntaskan.
Hanya bermodalkan sempritan dan rompi oranye yang dijual bebas, jukir liar bebas, sebebas-bebasnya menarik duit dari pengemudi yang memarkir kendaraan di pinggir jalan.
Tak ada batas bagi mereka. Pengunjung restoran, warung-warung kopi kecil, apotek, ATM, hingga pengunjung rumah ibadah tak lolos dari praktik ilegal ini.
“Bikin jengkel. Waktu datang mau parkir mereka tak kelihatan. Begitu mau pulang eh jukir-nya nongol. Sempritannya keras banget. Wajahnya garang. Motor dipegangi. Ya terpaksa bayar,” keluh Astuti, warga Balikpapan Barat.
Ia menceritakan pengalaman itu didapatnya saat berbelanja di deretan penjual kue tradisional di Pandan Sari dalam.
Repotnya dan bikin jengkel, kata Astuti, kalau tak ada duit kecil. “Saya bilang lain kali ya, nggak ada receh. Jukir-nya bilang ada angsul. Maksudnya nggak mau ngasih, tapi kesannya harus bayar,” katanya.
Pengalaman tak jauh beda dialami Rina, warga Kota Minyak lainnya. Malah lebih parah. Ia bertamu di depan rumah kerabatnya di Kompleks Pertamina persis di awal tanjakan Gunung Pipa.
Saat akan pulang seseorang mendatangi dan meminta bayaran jasa parkir. Rina mengaku bingung karena ia parkir di dalam kompleks Pertamina. “Sejak kapan Pertamina mengutip biaya parkir di kompleks perumahan. Parah,” tuturnya.
Ia juga bingung, di sejumlah tempat di Balikpapan, jukir liar terkesan dibiarkan. Pemerintah kota seperti tak bisa mengatur. Padahal kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik horizontal.
Sebab tak jarang, pengendara yang tak membayar dicaci jukir liar. Bukan cerita baru, lanjutnya, ribut mulut antara pengguna jalan dan jukir liar berujung kontak fisik.
Dalam pantauan media ini, jukir liar, tanpa tiket mengutip duit Rp 2.000-5.000 dari pengendara yang parkir di kawasan yang mereka kuasai.
Beberapa dari mereka mengaku tak pernah mematok tarif. Bahkan mengaku sebenarnya hanya membantu pengendara yang parkir di pinggiran jalan. “Kalau dikasih ya syukur. Tak dikasih tak masalah,” kata Rn, salah seorang jukir liar di Jalan A Yani.
Per hari, kalau apotek tempatnya mangkal ramai pengunjung, duit Rp 100-150 ribu biasa dikantonginya. Ia berdua dengan temannya. Pagi sampai sore, dilanjut sore sampai malam.
Di sebuah toko, masih di bilangan Jalan A Yani, jukir liar malah sampai empat orang di satu kawasan. Toko ini memang selalu ramai pengunjung. Saat akhir pekan, Rp 200 ribu angka yang biasa dikantongi jukir liar per orang.
Malah ada kabar, kawasan parkir di toko ini diperjualbelikan. Kalau butuh duit, jukir bisa menjual pekerjaan kepada penggantinya. Harganya lumayan tinggi, hingga delapan digit.
Beberapa waktu lalu media ini pernah menurunkan tim survei untuk mencari tahu potensi pendapatan dari jukir liar di Kaltim, termasuk Balikpapan. Potensinya lumayan, hingga miliaran rupiah per tahun. Itu dengan asumsi hampir 600 ribu kendaraan roda dua dan empat berseliweran setiap hari.
Bila 1 persen saja dari jumlah itu setiap hari “kena razia” jukir liar satu kali, ada potensi pendapatan Rp 12 juta per hari. Per tahun tak kurang Rp 4,32 miliar. Padahal dalam sehari, satu kendaraan kerap kali harus berurusan dua bahkan tiga kali dengan jukir liar. (*/okt/ms/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria