Sudah sembelih kambing untuk hajatan keberangkatan umrah, pamitan keluarga dan tetangga, ternyata gagal berangkat ke Tanah Suci. Ada pula yang sudah sampai Singapura harus balik lagi, dengan pesawat berbeda pula.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya, Jawa Pos
LELAH, bingung, kecewa. Semua seperti bertumpuk-tumpuk di wajah sepuh Misdur. ”Yo opo maneh (mau bagaimana lagi, Red),” katanya, pelan.
Baru beberapa detik berselang, jelang tengah hari kemarin, sebuah pengumuman terdengar di Terminal 1 Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo. Yang intinya memastikan bahwa dua jadwal penerbangan Saudi Airlines yang mengangkut jamaah umrah harus dibatalkan. Pertama pukul 11.50 WIB dan berikutnya 16.15 WIB.
Itu terjadi menyusul kebijakan pemerintah Arab Saudi untuk mencegah persebaran Covid-19 atau yang lazim dikenal sebagai virus korona, melarang masuk jamaah umrah dari berbagai negara. Termasuk dari Indonesia.
Misdur yang berangkat bersama sang istri pun cuma bisa pasrah. Dari semula bersiap berangkat ke Tanah Suci akhirnya hanya bisa menunggu bus untuk membawa pulang mereka ke Situbondo, Jawa Timur.
”Padahal, berangkat tadi sudah kondangan (selamatan) dan pamitan dengan keluarga dan tetangga,” kata pria 70 tahun itu.
Mengutip data Kementerian Agama, ada 364 calon jamaah umrah melalui Juanda yang gagal berangkat kemarin. Misdur termasuk di dalamnya. Mereka semestinya terbang dengan pesawat Saudi Airlines dengan nomor penerbangan SV 3813 pada pukul 16.15.
Ada dua jenis penerbangan umrah. Yang pertama menggunakan pesawat carter seperti yang akan digunakan Misdur dkk. Sebelum SV 3813, ada satu flight carter umrah yang berangkat pukul 11.50 WIB dari Juanda dengan membawa 438 jamaah. Karena larangan dari pemerintah Arab Saudi baru berlaku pukul 12.00 WIB tepat, mereka bisa tetap terbang.
Jenis flight umrah satunya lagi menggunakan pesawat reguler. Kemarin ada 51 jamaah umrah yang sempat berangkat menggunakan jenis pesawat itu. Persisnya, Singapore Airlines, dan transit di Singapura.
Namun, nasib mereka juga tidak lebih baik. Ke-51 orang tersebut harus kembali ke Surabaya dengan Malaysia Air. ”Jadi, mereka yang transit akhirnya kembali dengan maskapai berbeda,” ucap Communication and Legal Manager Bandara Internasional Juanda Yuristo Ardhi.
Seperti Misdur, mereka yang gagal berangkat hanya bisa pasrah atau ngedumel. Betapa tidak, yang dijadwalkan terbang sore rata-rata sudah empat lima jam berada di bandara. Jadilah, untuk menenangkan diri, sebagian di antara mereka tidur di lantai anjungan.
Dedi Laksono, calon jamaah lain yang semestinya satu flight dengan Misdur, menceritakan, untuk selamatan sebelum berangkat, dirinya menyembelih kambing. ”Subuh sebelum ke Surabaya saya pamit ke keluarga sambil nangis,” kata pria asal Jember, Jawa Timur, tersebut.
Tapi, mimpi ke Tanah Suci itu kandas sesampai di Bandara Juanda. ”Siapa yang menyangka, sudah tinggal terbang, ternyata batal,” kata dia sembari menunggu proses pemulangannya ke Jember.
Bukan hanya yang akan berangkat yang terkena efek kebijakan pemerintah Arab Saudi. Sebanyak 85 jamaah umrah asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang bersiap pulang lewat Jeddah juga tertahan.
”Mestinya besok (hari ini, Red) mereka bertolak dari Jeddah,” jelas Syamsul Anam, salah seorang pengelola perjalanan umrah, kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Sangat mungkin mereka akan pulang lebih lama dari waktu yang dijadwalkan. Sebab, pesawat yang semestinya membawa mereka pulang tertahan di Indonesia.
”Tiket sudah ada, tapi pesawatnya tidak ada,” ucap pria yang juga sekretaris jenderal Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (FK KBIH) Banyuwangi itu.
Atas kejadian tersebut, dia meminta jamaah umrah yang di Jeddah maupun keluarga di rumah agar tidak khawatir. Pihaknya memastikan jamaah akan baik-baik saja.
Saat ini pihaknya sudah menyewa hotel khusus untuk menampung para jamaah yang diperkirakan molor jadwal pulangnya. ”Sementara dua hari kita sudah sewakan hotel,” jelasnya. (*/sli/aif/c10/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria