Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Di Tengah Pandemi, Puasa Tetap Khusyuk

izak-Indra Zakaria • 2020-04-19 22:04:09
ilustrasi
ilustrasi

BALIKPAPAN-Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan panduan kegiatan ibadah Ramadan selama pandemi Coronavirus disease (Covid-19). Ada beberapa poin yang disampaikan, misalnya tidak menggelar buka puasa bersama kolega atau keluarga besar.

Kemudian berbuka puasa dan sahur cukup di rumah bersama keluarga inti. Begitu pula untuk salat berjamaah dan salat Tarawih cukup di rumah. Hal itu dibenarkan oleh Kemenag Balikpapan. Imbauan serupa juga telah dikeluarkan melalui surat yang berbunyi seruan Ramadan yang dikeluarkan pada 13 April.

Isi surat terkait panduan pelaksanaan ibadah Ramadan di tengah pandemi Covid-19. Kepala Kemenag Balikpapan Alfi Taufiq menuturkan, tahun ini dianjurkan untuk tidak perlu mengadakan sahur on the road dan iftihar jama’i atau buka puasa bersama.

Sehingga sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti saja. Tujuannya untuk menghindari keramaian, mengingat masih ada wabah Covid-19 tersebut. “Salat Tarawih dan Witir, tadarus Al-Qur’an, dan ibadah sunah lainnya dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah,” pesannya.

Bahkan tahun ini, sementara meniadakan peringatan Nuzulul Al-Qur’an dalam bentuk tablig yang menghadirkan banyak jamaah. Pihaknya sudah mengatur tentang kegiatan mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah cukup melalui lembaga resmi amil zakat.

Namun, semua itu masih menunggu kondisi selanjutnya. Adapun bisa berubah jika situasi dari penyebaran wabah telah membaik. Namun, jika saatnya telah diterbitkannya pernyataan resmi Pemkot Balikpapan yang menyatakan keadaan telah aman dari Covid-19. “Maka pelaksanaan ibadah Ramadan dapat dikerjakan seperti biasa,” ujarnya.

Dia mengimbau agar warga sebaiknya memperbanyak membaca salawat dan istighfar, berdoa agar wabah Covid-19 segera hilang. Tidak kalah penting, masyarakat tetap bisa menyambut Ramadan dengan penuh rasa syukur.

Kemudian menanamkan niat tulus ikhlas melaksanakan puasa, meningkatkan amal ibadah, dan bakti sosial. Pihaknya juga telah melakukan sejumlah persiapan menyambut Ramadan. “Di antaranya membuat jadwal imsakiah, penetapan kadar dan nilai zakat serta fidiah, tinggal rukyatul hilal untuk penetapan awal Ramadan,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Balikpapan Muhammad Hendro mengatakan, pihaknya sudah memberikan imbauan yang mengacu pada keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait ibadah di tengah pandemi Covid-19. Sebelum momen Ramadan, kegiatan ibadah di masjid Muhammadiyah sementara dihentikan dulu.

“Seperti salat berjamaah, salat Jumat, dan pengajian,” tuturnya. Ada pun peniadaan ibadah di masjid itu sudah berlangsung hampir sebulan terakhir. Keputusan itu berlaku sejak 21 Maret, Muhammadiyah memilih “lockdown” untuk seluruh kegiatan yang melibatkan khalayak.

Dia menuturkan, bahkan keputusan untuk meniadakan kegiatan di masjid itu sudah mengalami masa perpanjangan hingga dua kali. Melihat situasi dari wabah itu belum kunjung membaik. “Sehingga saat ini seluruh aktivitas ibadah di rumah,” ujarnya. Sedangkan panduan ibadah Ramadan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020 pada 24 Maret.

Surat itu berisi tentang tuntunan ibadah dalam kondisi darurat Covid-19, termasuk selama Ramadan. Bunyi edaran dianjurkan bagi warga Muhammadiyah tetap menjalankan ibadah puasa. Namun untuk kegiatan buka puasa, tarawih dengan kaitan kegiatan masjid dihentikan dulu.

“Dihentikan sementara sampai ada perkembangan yang memastikan bahwa situasi sudah aman,” ungkapnya. Salat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya. Termasuk kegiatan Ramadan yang lain seperti ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf, dan lainnya.

Pihaknya selaku pimpinan daerah tinggal mengikuti arahan tersebut itu. Surat edaran itu menjadi panduan bagi warga dan institusi dalam Muhammadiyah. “Kegiatan seperti syiar Ramadan yang mengumpulkan banyak orang sementara sangat dianjurkan untuk tidak dilakukan dulu,” ucapnya.

Begitu pula dengan salat Idulfitri yang merupakan sunah muakadah dan merupakan syiar agama yang amat penting. Namun jika Covid-19 belum mereda, salat Idulfitri dan seluruh rangkaiannya misalnya mudik, pawai takbir, halalbihalal, tidak perlu diselenggarakan.

Namun, jika ketentuan pihak berwenang Covid-19 sudah mereda, maka bisa dilaksanakan dengan tetap memerhatikan petunjuk dan ketentuan yang dikeluarkan pihak berwenang. “Adapun kumandang takbir Id dapat dilakukan di rumah masing-masing selama darurat Covid-19,” pesan dia.

Hendro menjelaskan, Muhammadiyah memutuskan hal ini juga sudah menghadirkan para ahli dalam sidang. Misalnya melibatkan ahli di bidang kesehatan masyarakat hingga orang-orang yang dianggap memiliki kompetensi untuk berbicara terkait pandemi Covid-19.

Menurutnya, tidak semata-mata hanya keputusan dari sudut pandang Muhammadiyah. Keputusan didukung karena melihat kebutuhan dan kondisi saat ini demi kepentingan bersama. Bahkan pihaknya lebih dulu memutuskan tujuannya untuk mengantisipasi hal yang lebih buruk.

Apalagi ada prediksi pandemi itu mungkin sampai bulan sekian. “Jadi kami cepat buat aturan atau imbauan agar segera disampaikan hingga ke ranting,” bebernya. Kemungkinan besar masa kegiatan ibadah terhenti sementara ini akan diperpanjang lagi.

“Sebab melihat perkembangan kasus Covid-19 baik tingkat lokal dan nasional. Belum lagi memang sudah sesuai anjuran fatwa MUI,” tuturnya. Kebijakan hampir serupa juga dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Balikpapan Muhammad Muhlasin menjelaskan, ritual Bulan Suci kali ini agak sedikit berbeda dari tahun sebelumnya.

“Ada ujian dari Allah berupa wabah Covid-19,” sebutnya. Contoh untuk keputusan salat Jumat, merujuk hasil kajian Lembaga Bahtsul Masail PBNU pelaksanaan salat Jumat bergantung dari status setiap zona.

“Pada daerah dengan zona merah yang memiliki potensi penularan besar, hendaknya tidak melakukan salat Jumat. Namun, diganti dengan salat Zuhur di rumah masing-masing,” ucapnya. Namun, jika masjid ini berada di zona hijau atau aman, maka tetap bisa melaksanakan kegiatan ibadah seperti biasa.

Misalnya hanya di area selatan yang zona merah, maka tidak perlu ada kegiatan di masjid sana. Namun, untuk daerah lain yang aman bisa jalankan kegiatan. “Jadi, tidak semua daerah wajib tidak melaksanakan salat Jumat, bergantung kondisi daerah,” sebutnya.

Begitu pula untuk pelaksanaan ibadah lainnya seperti salat lima waktu hingga tarawih di masjid tentu ditiadakan dulu. “Apalagi buka puasa bersama yang sifatnya sunah saja, kalau memang pemerintah sudah menetapkan itu zona merah sebaiknya kegiatan Ramadan dilakukan dengan keluarga saja,” bebernya.

Namun, tentu yang bisa menentukan zona ini adalah pemerintah. Dia berharap pengurus masjid bisa koordinasi dengan pihak terkait untuk mengetahui status zona daerah tersebut. Sehingga masyarakat dalam melakukan ibadah ini punya panduan daerah mana yang boleh dan tidak.

“Perlu pemetaan zona yang jelas, jika merah tentu dilarang. Kalau daerah hijau aman yang mungkin lingkungannya dan jamaahnya hanya murni orang di sana,” ungkapnya. Berbeda dengan masjid di pinggir jalan dan dekat area fasilitas publik seperti bandara atau pelabuhan, sementara kegiatan perlu ditiadakan.

Menurutnya, tidak kalah penting adalah peran pemerintah untuk sosialisasi secara masif. Melibatkan camat dan lurah agar imbauan benar-benar sampai masyarakat. Edaran tidak hanya melalui media sosial, namun perlu disampaikan melewati organisasi pemerintahan hingga ke tingkat bawah.

Dia mengimbau agar umat Islam di Balikpapan bersama menghadapi Bulan Suci dengan gembira walau berada di tengah wabah. Perkuat ukhuwah islamiah dan tolong-menolong dalam kondisi seperti sekarang banyak yang terdampak. “Maka yang punya kemampuan lebih bisa membantu kaum kurang mampu,” imbaunya.

Caranya memperbanyak infak dan sedekah, apalagi mumpung ini bulan baik dalam momen Ramadan. Dia menganjurkan agar semua masyarakat memperkuat amal ibadah dan berdoa kepada Allah. “Semoga ujian ini cepat berlalu, kita doakan kepada saudara-saudara yang sakit terindikasi virus cepat disembuhkan,” pungkasnya. (gel/rom/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Seputar Balikpapan