Kurang lebih dua bulan lamanya, semua peserta didik dirumahkan. Meski hal itu sering dinanti, namun nyatanya tak seindah yang dibayangkan.
Sherina Lely Agow misalnya. Salah satu mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, juga mengalami suka-duka selama menjalani sistem belajar online yang terbilang mendadak.
Sherina, sapaannya, sedikit bercerita kepada awak Kaltim Post. Selama masa pandemi Covid-19 mengharuskan ia dan mahasiswa lain untuk stay at home. Segala aktivitas yang biasa diadakan di kampus, kini dilakukan di rumah masing-masing. Termasuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Tak jarang, perempuan kelahiran Kotamobagu, 28 September 2000 ini merasa agak kaku. Sebab, kebiasaan interaksi secara langsung dengan dosen, sekarang harus dengan sistem kuliah online. Menurut dia, beradaptasi pun cukup sulit.
Kendati beranggapan seperti itu, Sherina meyakini diri selalu ada hal positif dari suatu kejadian. Misalnya saja, baik pengajar maupun peserta didik bisa terlatih dalam menggunakan aplikasi-aplikasi online yang bermunculan. Tentu saja yang juga menjadi anjuran dalam proses pembelajaran.
“Terkesan agak seru juga, bisa sedikit bercanda antara dosen dan mahasiswa. Kami juga bisa agak santai, karena pelaksanaannya bisa di rumah atau di tempat lain,” celoteh perempuan berdarah Minahasa ini.
Kemarin (13/5), ialah hari ketiga dirinya melaksanakan ujian akhir semester (UAS). Tentu saja dilaksanakan melalui daring. Pertama-tama dirinya harus log in melalui portal kampus. Lalu, bisa memilih aktivitas untuk ujian.
Dengan catatan, dosen mata kuliah terkait telah menetapkan waktu pelaksanaan ujian. Kata dia, jika sesi ujian belum dibuka maka mahasiswa tidak dapat melakukan check in ke portal. Check in sendiri sangat penting sebagai pengganti kehadiran kelas.
Dari pelaksanaan ujian ini, Sherina mengaku tak mengalami kendala. Seperti gangguan sinyal yang kerap mengganggu pengguna internet. Akan tetapi, saat pelaksanaan kegiatan perkuliahan, hambatan ini tetap ia temui. Khususnya saat ingin mengirim tugas.
Putri pasangan Sukaharto Agow dan Jeske Likke Akay ini menjelaskan, berbeda saat pelaksanaan ujian normal, ujian di masa pandemi ini bagi dia lebih mudah. Selain itu, dosen memberi waktu selama 24 jam bagi mahasiswa untuk mengumpulkan hasil ujian.
Melihat dan menjalani kondisi saat ini, membuatnya yakin pelajar Tanah Air bisa mengikuti perkembangan teknologi.
“Kan diajari tuh cara-caranya. Sekarang juga setiap harinya berhadapan dengan sistem seperti ini, jadi pasti terbiasa dan bisa,” ucap mahasiswi semester II, jurusan Teknik Perminyakan ini.
Namun dari semua yang dilalui, jauh di lubuk hatinya, ia tetap memilih kegiatan perkuliahan yang normal. Baginya, tatap muka langsung dengan pengajar lebih efektif. Hal lain, berbaur dengan teman sebaya di kampus adalah hal yang paling dirindukan. Nyatanya, hal sama dirasakan oleh teman-teman kuliahnya.
Ujian akhir ini pun akan ia jalani hingga Jumat (15/5) nanti. Harapannya, wabah ini segera berakhir agar ia dan teman-teman kembali berkumpul seperti dulu. Kata dia, kondisi saat ini bisa menjadi peluang masyarakat untuk istirahat sejenak dari rutinitas yang padat.
“Buat yang lain, pelajar seperti saya, sistem saat ini bukan beban. Tapi, kesempatan buat kita belajar biar jadi lebih baik lagi,” tutup perempuan yang hobi membaca ini. (*/okt/ms/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria