Banjir menjadi tema sentral pada pilkada kali ini. Warga menginginkan pemimpin dengan karakter berbeda.
Nyaris tiada hujan yang tak berujung banjir di Samarinda. Minimal menghasilkan genangan di beberapa kawasan. Belakangan muncul titik-titik genangan anyar. Intensitasnya pun kian rapat.
Realita di depan mata itu selaras dengan survei tim Andi Harun-Rusmadi, 2019 lalu. Bahwa, sedikitnya ada tiga masalah fundamental yang diinginkan warga Kota Tepian untuk mendapat prioritas penyelesaian; banjir, tata kota, dan lapangan pekerjaan.
Tak buang waktu, Andi Harun-Rusmadi segera mengemas konsep penanganan halai-balai banjir di Samarinda. Mereka menamainya Samarinda Tangguh Banjir (lihat infografis).
“Konsep ini lahir dari penelitian dan studi empiris mengenai karakter banjir kota Samarinda. Faktor penyebab tentu beragam, di antaranya pengaruh iklim atau cuaca, pengaruh perubahan daerah aliran sungai (DAS), pengaruh mengecilnya kapasitas sungai karena sedimentasi dan sampah, hilangnya daerah-daerah tampungan air permukaan karena alih fungsi lahan,” tutur Andi Harun.
Pada satu sisi, keadaan morfologi kota Samarinda bagian hilir ternyata lebih rendah dan bergelombang. Khususnya wilayah utara. Sedangkan bagian hulunya berbukit dan terdapat patahan, khususnya wilayah selatan.
“Dan pada sisi yang lain, perubahan signifikan pada DAS Mahakam dan sub-DAS Karang Mumus memaksa kita untuk berani melaksanakan program pengendalian banjir Samarinda yang terintegrasi antara penanganan daerah bagian hulu, bagian tengah, dan bagian hilir,” sambung dia.
Andi Harun menggandeng Rusmadi yang punya latar berbeda. Andi Harun terkenal sebagai politikus dan pengusaha. Sementara Rusmadi berangkat dari akademisi dan birokrasi. Andi Harun mumpuni untuk urusan melihat peluang dan beradu gagasan. Sementara Rusmadi punya kapabilitas dalam memetakan tantangan daerah ketika berada di puncak jabatan ASN di Kaltim
Mantan sekprov Kaltim itu dipinang politikus yang lebih dari dua dekade malang melintang di perpolitikan Bumi Etam. Kombinasi kerja keduanya menyajikan duet yang dinilai mampu beradaptasi di pelbagai situasi Samarinda yang tentu tak bisa dipimpin hanya dengan emosional belaka.
Penempatan penanganan banjir sebagai prioritas, tampaknya menjadi pilihan yang bagus. Sebab, menurut analisis pengamat lingkungan dan dosen Fahutan Unmul Bernaulus Saragih, paslon dengan visi-misi terbaik dalam melepaskan Samarinda dari belenggu banjir akan melenggang ke Balai Kota. Alias memenangkan kontestasi pilkada.
“Sebab, masyarakat Samarinda sudah bosan dengan permasalahan banjir yang terus terjadi dan mengganggu perekonomian,” ujar dia melalui news analysis kepada Kaltim Post.
Apalagi, sambung dia, bila pemilik hak suara adalah kaum rasionalis dan idealis. Namun, bisa dipastikan bahwa dua kelompok pemilih itu belum menjadi bagian dari mayoritas penduduk Kota Tepian. Kelompok mayoritas, kata Bernaulus, masih pemilih pragmatis yang sangat mudah dipengaruhi isu kekerabatan, agama, dan berbagai bentuk fasilitas serta fulus paslon.
Bernaulus menyebut, visi-misi terbaik tentunya yang rasional, terukur, dan tidak muluk-muluk. Mengapa urusan banjir menjadi tema sentral? “Sebab, banjir di Samarinda mengindikasikan beberapa kegagalan pemerintahan sebelumnya. Maka warga tentu ingin pemimpin yang berbeda,” urai Bernaulus.
Paslon dengan pemahaman banjir dan sebab musababnya serta mampu mengoordinasikan kabupaten/kota lainnya dengan provinsi dan pusat adalah figur yang diinginkan masyarakat. Artinya, Samarinda memerlukan kepemimpinan yang kuat.
“Karena jelas masalah banjir bukan sekadar masalah Pemkot Samarinda semata, tetapi ada setidaknya Kukar, Pemprov Kaltim, dan pemerintah pusat beserta pihak swasta dan masyarakat yang turut berperan dalam menuntaskan banjir,” jelas dia.
Paslon haruslah yang memiliki kemampuan memobilisasi sumber daya. Terutama terkait investasi untuk menyelesaikan banjir melalui berbagai skema. Dari satu sisi, banjir adalah alat tawar pemkot ke pemprov dan pusat. Kemampuan lobi diperlukan untuk meyakinkan pemerintah di level atas agar lebih peduli dengan kota yang dulunya penyumbang devisa besar dari kayu lapis ini.
“Paslon yang memiliki jaringan dan pengalaman serta pergaulan tingkat nasional akan lebih memudahkan mobilisasi sumber daya dalam penanggulangan banjir. Karena jelas bahwa jika hanya mengandalkan APBD kota, tidak akan memadai,” terang Bernaulus.
Pemimpin harus bisa memantik masyarakat untuk berpartisipasi secara sukarela membenahi kota. Membangunkan modal sosial yang masih tidur ini perlu keteladanan dan bukti yang kuat dari pemimpin.
“Singapura bermula dari rawa, tanpa sumber daya memadai, tetapi tekad yang kuat dan bersih dari seorang Lee Kwan Yu (perdana menteri dari tahun 1959–1990) tak perlu seratus tahun menjadikan Singapura sebagai negara maju dan salah satu yang terkaya di dunia,” tutup Bernaulus. (***/dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria