Banjir seperti masalah klasik di Balikpapan. Terlebih saat hujan. Sejumlah kawasan terendam. Walau memang tidak lama, tapi tetap saja merugikan warga.
BALIKPAPAN–Warga Balikpapan tampaknya harus mengakrabkan diri dengan banjir. Belum adanya penanganan yang signifikan, selalu membuat beberapa titik di Kota Minyak terus tergenang kala hujan lebat. Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.
Belum maksimalnya penanganan banjir di Balikpapan itu terlihat pada Kamis (19/8). Hujan lebat yang terjadi sekitar pukul 08.30 Wita, membuat sejumlah kawasan terendam. Di mana, hujan lebat yang disertai kilat (petir) dan angin kencang itu terjadi selama 4 jam. Mengakibatkan lokasi langganan banjir kembali terendam.
Menurut pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan, sejumlah kawasan tergenang banjir kemarin. Di antaranya, di Jalan MT Haryono, Kecamatan Balikpapan Selatan. Titik banjir terdalam berada di depan Roti Tiam tak jauh dari Siloam Hospitals dan depan Global Sports.
Dari data BPBD Balikpapan, sebaran banjir berada di empat kecamatan. Yakni, Balikpapan Utara, Balikpapan Selatan, Balikpapan Tengah, dan Balikpapan Kota. “Ketinggian air terpantau rata-rata 60 sentimeter,” kata kepala BPBD Balikpapan Suseno.
Suseno menuturkan, petugas gabungan turun untuk membantu sejumlah aktivitas warga yang terhambat karena hujan. Contoh warga yang terjebak banjir di kawasan Jalan MT Haryono saat akan ke rumah sakit.
“Ada warga mau antar kantong darah ke Siloam Hospitals, kondisi urgent. Jadi anggota yang kebetulan ada langsung membantu,” ujarnya. Termasuk beberapa orang yang perlu ke rumah sakit untuk berobat. Sehingga hampir semua petugas membantu warga.
Suseno menambahkan, beberapa rumah di Jalan Telindung, Balikpapan Utara, juga sempat tergenang air karena berada di dataran rendah. “Tim membantu sedot air dengan pompa dan masih banyak yang perlu bantuan. Jadi petugas sudah menyebar. Mobil saya juga dipakai untuk warga berobat ke puskesmas,” pungkasnya.
Namun, banjir tersebut tak berlangsung lama. Setelah hujan deras berhenti beberapa waktu setelahnya, genangan pun turut surut. Meski begitu, hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.
Itu merupakan akibat dari sirkulasi siklonik yang terpantau di Laut Natuna bagian utara. Yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi. Memanjang di Kalimantan Utara hingga perairan utara Kalimantan. Serta membentuk daerah pertemuan angin atau konfluensi yang memanjang dari pesisir timur Sumatra Utara, Semenanjung Malaysia, Laut Natuna hingga perairan utara Kalimantan.
Kondisi itu disebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut. Dan membuat potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang juga kilat/guntur untuk periode 19 hingga 23 Agustus 2021.
Diperkirakan cuaca serupa terjadi di hampir sebagian besar wilayah di Kaltim. “Terjadi pada dini hari hingga pagi hari,” ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Erika Mardiyanti.
Selain itu, pasang surut air laut Balikpapan, akan mencapai puncak tertinggi pada 23 dan 24 Agustus 2021. Dimulai pukul 05.00 Wita hingga 08.00 Wita. Maka, warga Balikpapan diimbau agar tetap waspada pada potensi hujan sedang hingga lebat periode 19-23 Agustus. Karena bisa menyebabkan banjir di Balikpapan dan sekitarnya.
Untuk program penanganan banjir dalam waktu dekat, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda Litbang) Balikpapan Agus Budi Prasetyo tak banyak menjelaskan.
Pasalnya, dia masih sibuk mengikuti kegiatan evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Balikpapan untuk tahun 2021–2026. Evaluasi itu dilakukan oleh Pemprov Kaltim. “Saya masih mengikuti kegiatan evaluasi RPJMD dari gubernur,” ucapnya singkat kepada Kaltim Post (19/8) kemarin.
Namun, pada kegiatan Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RPJMD Balikpapan Tahun 2021-2026, yang dilaksanakan bulan lalu, dia menerangkan salah satu program yang diprioritaskan untuk diselesaikan adalah masalah banjir. Yang sampai saat ini, belum bisa dituntaskan. “Diharapkan sampai akhir RPJMD Balikpapan bisa bebas banjir. Karena saya kira ini adalah visi dan misi (Wali Kota Balikpapan). Dan kami bisa berharap seperti itu,” katanya kala itu.
Pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2021 dalam rangka Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2022 diterangkan, prioritas pengendalian banjir tahun depan. Di mana Bappeda Litbang sudah melakukan identifikasi saluran prioritas dan keperluan pendanaan penanganan banjir.
Minimnya anggaran disebut jadi salah satu penyebab tahun ini Pemkot Balikpapan tak bisa berbuat banyak menangani banjir. Sehingga prioritas penanganan baru dilakukan tahun depan.
Ada empat daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi prioritas dalam penanganan banjir di Kota Minyak. Yakni DAS Ampal, DAS Klandasan Kecil, DAS Sepinggan, dan DAS Batakan Manggar. Total keperluan anggaran untuk penanganan banjir di kawasan itu sebesar Rp 628,639 miliar.
Sekkot Balikpapan Sayid MN Fadli mengatakan, pendanaan penanggulangan banjir di Balikpapan akan diarahkan untuk mengatasi permasalahan DAS Ampal. Di mana, penanganan DAS Ampal itu, selain dianggarkan APBD Balikpapan, juga akan mendapat pendanaan dari APBD Kaltim dan APBN melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV.
“Saya berharap pembiayaan untuk DAS Ampal ini bisa menjadi prioritas. Agar minimal tahun 2022, tahun pertama RPJMD, banjir yang sekarang ini, sedada atau sepinggang, minimal bisa selutut lah. Pada 2023,” katanya.
KLAIM BUKAN BANJIR
Sementara itu, Kasi Operasi dan Siaga Basarnas Balikpapan Octavianto mengklaim terendamnya sejumlah kawasan di Kota Minyak kemarin bukan banjir. Melainkan genangan air setinggi sekitar 50–70 sentimeter. Akibat struktur di Balikpapan banyak yang berbukit. Sehingga membentuk cekungan dan menciptakan genangan air.
Kemudian didukung dengan daerah yang memiliki kadar serapan air rendah dan curah hujan tinggi beberapa hari terakhir. “Air mulai surut sekitar 30 menit setelah hujan berhenti,” katanya. Pihaknya menurunkan beberapa tim di berbagai lokasi. Setiap tim terdiri 5–10 orang.
Basarnas Balikpapan juga mempersiapkan perlengkapan rubber boat sebagai antisipasi jika perlu evakuasi warga. Tadi sempat ada evakuasi tapi hanya mereka yang melintas. “Kami juga cek titik rawan di permukiman warga seperti di Beller,” ujarnya.
Biasanya evakuasi dengan rubber boat fokus pada lokasi banjir di perumahan atau permukiman. Misalnya membantu evakuasi orang sakit hingga ibu hamil yang akan melahirkan. Namun syukurlah kondisi genangan air tidak begitu signifikan. Tak ada korban jiwa atau memerlukan evakuasi.
“Kendaraan juga lebih banyak yang memilih menunggu air surut baru melanjutkan perjalanan lagi,” ucapnya. Dia menambahkan, genangan air paling dalam berada di depan Global Sports sekitar 60 sentimeter. Sedangkan lokasi banjir paling lebar di Jalan MT Haryono.
Selain genangan air, pihaknya mendapat laporan terjadi longsor di pemukiman warga yang berlokasi di daerah Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan. “Itu rumah warga, tapi tidak ada korban. Kami lihat Balikpapan cukup rawan longsor karena 60 persen wilayah berbukit,” bebernya.
Seperti daerah Sumber Rejo, Telaga Sari, dan Prapatan memang dikenal rawan longsor. Namun untuk kejadian longsor di Sepinggan terhitung laporan yang baru. “Kami berharap warga waspada, hujan tidak menentu. Semoga masyarakat lebih aware terutama yang tinggal daerah perbukitan rawan longsor,” ucapnya. (gel/kip/rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria