Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Puasa Formalitas dan Substantif

izak-Indra Zakaria • 2022-04-02 11:49:53
Bambang I
Bambang I

Ramadan 1443 Hijriah sudah di ambang pintu. Umat muslim seluruh dunia sejatinya sudah siap menyambut dengan kegembiraan dan persiapan lainnya seperti persiapan mental, harta, dan pengetahuan dalam rangka memaksimalkan dulangan keutamaan Ramadan nanti.

Ramadan merupakan bulan madrasah yang harusnya dinantikan setiap muslim. Untuk menempa dan mengisi kembali jiwa yang dirasa kering dan gersang. Ibarat musafir yang sedang kehausan mencari sumber air di tengah tandusnya gurun, Ramadan merupakan telaga yang akan melepaskan dahaga sang musafir. Ramadan adalah telaga bagi mukmin di seluruh dunia.

Ramadan Allah jadikan sebagai penghulu bulan. Bulan paling agung, mulia, dan penuh keberkahan. Sebab, di dalamnya terdapat sejumlah momentum penting bagi kaum mukmin. Satu di antaranya perintah berpuasa.

Salah satu ibadah terpenting dan menjadi penciri utama bulan Ramadan adalah puasa wajib. Setiap orang beriman diperintahkan melaksanakan puasa selama sebulan penuh, kecuali golongan tertentu yang karena berhalangan diberi keringanan untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadan.

Puasa hakikatnya adalah menahan dan mengendalikan nafsu yang bersemayam dalam diri manusia. Namun dalam pelaksanaannya, hakikat puasa sering terabaikan. Justru puasa formalitas yang lebih dominan terlaksana. Dari sini dapat dipahami bahwa pelaksanaan puasa dapat dibagi menjadi dua yaitu puasa formalitas dan puasa substantif.

MENUJU PUASA SUBSTANTIF

Puasa formalitas dalam pengertian sederhana bisa diterjemahkan sebagai puasa fikih. Puasa yang hanya terbatas dalam terminologi fikih saja yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari dengan niat beribadah hanya kepada Allah.

Dalam masyarakat, puasa secara fikih atau puasa formal dijadikan ukuran seseorang telah melakukan ibadah puasa atau tidak. Jika muncul pertanyaan, apakah Anda berpuasa? Jawaban anak yang masih kecil ataupun yang sudah dewasa bisa ya atau tidak. Ukurannya disandarkan pada pengertian formalitas fikih. Yang penting tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami-istri, serta diniatkan hanya untuk Allah, maka sudah masuk kategori berpuasa. Dan sebaliknya jika melanggar hal yang membatalkan puasa secara fikih maka dianggap tidak berpuasa.

Puasa formalitas dalam bentuk lain yang tidak menyertakan niat karena Allah juga sering terjadi. Ada orang yang berpuasa dengan rasa terbebani dan berat hati. Berpuasa didasarkan atas rasa malu kepada atasan, ingin dipuji orang lain, juga bagian dari puasa formalitas yang membohongi diri sendiri karena sebenarnya hanya berpura-pura puasa.

Bentuk lain puasa formalitas yang ironis adalah menjadikan puasa sebagai alibi untuk tidak produktif seperti hari-hari biasanya, menjadi orang manja dan pantas dihormati, serta berperilaku sangat konsumtif. Puasa dijadikan tameng untuk tidak melakukan aktivitas produktif seperti biasanya.

Puasa juga dijadikan dalih untuk menjadi orang yang pantas dihormati karena berpuasa dan merasa derajatnya tinggi dibandingkan orang lain, sehingga merendahkan orang lain yang tidak berpuasa bahkan dibarengi tindakan kekerasan kepada mereka. Puasa tidak melahirkan sikap pengendalian diri, sebaliknya nafsu berbelanja dan balas dendam ketika buka puasa melebihi orang yang tidak berpuasa.

Sedangkan puasa substantif adalah puasa yang dilakukan dengan kesadaran diri yang didorong atas dasar iman untuk menjaga segala dorongan dan kecondongan negatif dan mengendalikannya. Mampu menahan tidak berbuat yang dilarang agama dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.

Orang yang berpuasa secara substantif tidak akan mau berbuat kerusakan, baik yang merusak dirinya sendiri maupun orang lain ataupun alam. Ia juga tidak akan tega melakukan tindak kekerasan dan menimbulkan keresahan di masyarakat.

Dalam lingkup sosial, segala tindakan diarahkan untuk berbuat kebajikan membantu orang lain, berempati kepada penderitaan orang lain. Secara ritual, pengamalan dan pengalaman ibadahnya diupayakan secara maksimal dan meningkat.

Pengamal puasa substantif memahami puasa tidak terbatas hanya dalam pengertian fikih yang hanya menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi diperluas dengan menghindari perilaku-perilaku yang merusak ibadah puasa. Jika dalam puasa formalitas yang dihindari hanya makan, minum, dan berhubungan seks, maka dalam puasa substantif yang dihindari adalah berdusta, berbicara yang tidak manfaat, menggunjing, berkata jelek, memfitnah, mengadu domba, menebarkan permusuhan, dan menzalimi orang lain.

Puasa substantif lebih mengedepankan kualitas puasa dengan baik dalam dimensi ritual vertikal dan sekaligus sosial horizontal. Terkait dengan ritual vertikal, puasa dijadikan media untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih tujuan utama berpuasa yaitu derajat takwa. Ibadah puasa diiringi dengan ibadah ritual lain seperti salat, zakat, banyak berzikir, membaca Al-Qur’an, dll.

Sementara dalam dimensi sosial horizontal, puasa merupakan kawah candradimuka orang-orang yang beriman dalam mengasah kepekaan terhadap orang lain. Mengalami tidak makan dan minum, merasakan haus dan lapar sebagai ajang latihan raga dan jiwa untuk merasakan bagaimana orang lain mengalami penderitaan lapar dan haus karena kemiskinannya.

Tujuan tertinggi dari puasa adalah takwa yang didapat dari puasa yang bersifat substantif, bukan puasa formalitas dan simbolik. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita mampu menjalankan ibadah puasa substantif dan meraih derajat takwa. Amin. (dwi/k8) 

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria