Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Taliban Larang Budi Daya Opium di Afghanistan

izak-Indra Zakaria • Senin, 4 April 2022 - 17:35 WIB
Seorang pria Afghanistan bekerja di ladang opium di provinsi Jalalabad. (Parwiz/ Reuters/Antara)
Seorang pria Afghanistan bekerja di ladang opium di provinsi Jalalabad. (Parwiz/ Reuters/Antara)

Pemerintah Taliban melarang budi daya narkotika di Afghanistan. Untuk diketahui, Afghanistan adalah produsen opium terbesar di dunia. ”Sesuai dekrit yang dikeluarkan Pemimpin Agung Emirat Islam Afghanistan, diberitahukan kepada semua warga Afghanistan bahwa mulai sekarang, budi daya opium dilarang keras di seluruh negeri,” menurut surat perintah dari pemimpin tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada.

”Jika melanggar, tanaman akan dihancurkan dan si pelanggar akan diperlakukan menurut hukum syariah,” kata perintah tersebut, yang diumumkan dalam jumpa pers oleh Kementerian Dalam Negeri di Kabul. Perintah itu mengatakan produksi, penggunaan, atau pengangkutan narkotika lain juga dilarang. Pengendalian obat-obatan terlarang menjadi salah satu tuntutan dari komunitas internasional kepada Taliban yang merebut kekuasaan pada Agustus.

Taliban sedang berupaya mendapatkan pengakuan formal dari dunia internasional untuk mengurangi sanksi yang menghantam keras sektor perbankan, bisnis, dan pembangunan.

Menjelang akhir kekuasaannya yang pertama pada 2000, Taliban melarang penanaman opium tapi menghadapi penentangan keras dan akhirnya mengubah pendirian mereka. Produksi opium Afghanistan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, menurut petani dan anggota Taliban kepada Reuters seperti dilansir dari Antara

PBB memperkirakan nilai produksi opium di negara itu mencapai 1,4 miliar (Rp 20,12 triliun) pada 2017. Situasi ekonomi yang buruk telah mendorong penduduk di provinsi-provinsi tenggara untuk menanam opium karena lebih cepat dipanen dan memberi hasil lebih banyak dari tanaman lain seperti gandum.

Sumber di kalangan Taliban mengatakan kepada Reuters mereka mengantisipasi penentangan yang keras dari beberapa elemen di kelompok itu terhadap larangan opium. Mereka juga mengatakan ada lonjakan jumlah petani opium dalam beberapa bulan belakangan.

Seorang petani di Helmand mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir harga opium telah berlipat dua, dipicu isu bahwa Taliban akan melarang budi daya. Namun dia mengatakan, masih menanam opium untuk menafkahi keluarga. ”Tanaman lain tidak menguntungkan,” kata dia. (jpc) 

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara