Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pengguna Pertamax Bermigrasi ke BBM Bersubsidi, Waswas Pertalite Ikut Naik

izak-Indra Zakaria • 2022-04-11 12:00:32
Warga isi Pertalite.
Warga isi Pertalite.

Peliput:

M RIDHUAN

mad.dhuan@gmail.com

 

NOFFIYATUL CHALIMAH

nofi.office@protonmail.com

 

 

FUAD MUHAMMAD/KP

PILIH YANG MURAH: Naiknya harga pertamax direspons dengan sejumlah orang beralih ke pertalite. Disparitas harga dinilai jadi salah satu penyebab.

 

Harga pertamax sudah naik. Banyak yang mengkhawatirkan pengguna BBM nonsubsidi itu beralih ke pertalite. Bahan bakar subsidi itu pun terancam langka.

 

SUASANA SPBU Pertamina di Jalan MT Haryono, Kelurahan Damai, Balikpapan Selatan tampak ramai, Sabtu (9/4) siang. Kendaraan datang silih berganti mengisi bahan bakar minyak (BBM).

Meski ramai, namun tidak terlalu antre hingga jalan. Dari pantauan awak media, untuk kendaraan roda dua, rata-rata hanya memerlukan kurang dari 120 detik sejak awal antre hingga bisa sampai ke dispenser bahan bakar. Sementara untuk roda empat, rata-rata kurang dari 400 detik. “Ini kategorinya sepi. Soalnya akhir pekan. Biasanya Senin sangat ramai,” ungkap Kafilah, kepala sif SPBU kemarin.

Untuk sepeda motor, kebanyakan mengantre di dispenser BBM jenis pertalite. Karena sudah self service, petugas SPBU cukup menerima pembayaran. Empat nozzle bekerja semua. Sementara dispenser BBM jenis pertamax antreannya dua kali lebih sedikit dari pertalite. Tetapi kebalikan dengan antrean roda empat. Justru antrean terpanjang berada di sisi dispenser BBM pertamax. “Kenaikan harga pertamax tidak terlalu berpengaruh terhadap pergeseran atau migrasi ke pertalite. Memang ada, tapi sedikit,” sebut Kafilah.

Kata dia, sehari sebelum keputusan menaikkan harga pertamax, antrean membeludak. Banyak kendaraan, baik roda empat dan dua antre khususnya di dispenser pertamax. Kemudian, pada 1 April, saat harga baru diterapkan, hingga tiga hari kemudian, suasana SPBU disebutnya sepi. Normal lagi pada 4 April. “Itu pun antrean di pertamax biasa saja. Tak banyak perubahan dibandingkan sebelum pertamax naik,” ujarnya.

Harga pertamax yang sebelumnya Rp 9.200 kemudian menjadi Rp 12.750 disebut Kafilah tidak pula membuat konsumen rela antre ke pertalite. Karena jika antrean pertalite dirasa cukup panjang, konsumen memilih mengisi pertamax. Kondisi itu pada akhirnya tidak memengaruhi ketersediaan pertalite di SPBU.

“Sebelum dan sesudah pertamax naik, pasokan ke kami normal. Pertalite 32 kiloliter (KL), pertamax 8 KL per hari. Itu pun pertalite kalau akhir pekan seperti ini banyak sisa. Itu saja isi pagi, sampai siang masih tersisa 20 KL,” bebernya.

Bagi Kafilah, konsumen di Balikpapan tidak terlalu memikirkan soal harga. Terutama untuk BBM, yang terpenting barangnya tersedia. Dan biasanya menjelang Lebaran nanti, Pertamina akan menambah pasokan untuk mengakomodasi mudik Idulfitri 2022. “Syukurnya untuk pertalite di Balikpapan ini selalu aman stoknya. Yang beda sekarang tidak boleh lagi beli pakai jeriken. Karena statusnya sudah subsidi,” ucapnya. 

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga melalui Regional Kalimantan memastikan ketersediaan pasokan pertalite di wilayah operasionalnya. Area Manager Communication & CSR Regional Kalimantan Susanto August Satria mengungkapkan, masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan pasokan bahan bakar jenis pertalite. “Memang terjadi peningkatan konsumsi (pertalite) sejak 1 April,” ucap Satria, Jumat (8/4).

Namun, peningkatan konsumsi BBM khususnya pertalite diungkapkannya lebih utama karena faktor meningkatnya kegiatan masyarakat selama Ramadan. Dan secara berangsur aktivitas ekonomi semakin meningkat karena kondisi pandemi yang membaik. “Stok pertalite kami pastikan aman dan tersedia. Di tingkat SPBU kami mengirimkan sesuai permintaan,” sebutnya.

Soal status pertalite yang kini menjadi jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP), Pertamina disebutnya mengimbau masyarakat untuk membeli bahan bakar sesuai peruntukannya. Juga sesuai spesifikasi kendaraannya. “Agar membeli bahan bakar dengan RON minimal 92. Untuk kendaraan mewah menggunakan pertamax,” ujarnya.

Namun terkait pola pengawasan, awak media tidak mendapatkan informasi lebih lanjut. “Sejauh ini pasokan sesuai permintaan, distribusi juga dalam kondisi baik,” imbuhnya.

Begitu pula apakah pertalite akan menjadi beban baru bagi Pertamina? Karena berpotensi langka dan menyebabkan antrean panjang seperti kasus premium dulu, lewat pesan WhatsApp disebut Pertamina akan menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sayangnya, hingga berita ini diketik kemarin, awak media belum bisa menerima data terkini tren konsumsi pertalite dan pertamax dari tahun ke tahun di Kaltim.

EFEK DOMINO

Meski di masyarakat Kaltim, kenaikan harga pertamax tidak terlalu memengaruhi banyak konsumen, efek tetap akan dirasakan. Efek yang pernah dirasakan ketika pemerintah memutuskan premium menjadi JBKP. Yang kemudian perlahan menghapuskannya agar konsumen beralih ke pertalite. Di mana saat itu secara langsung memengaruhi harga-harga di pasar.

“Dengan naiknya harga pertamax, pertama maka akan ada migrasi ke pertalite yang harganya jauh lebih murah,” ucap pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Purwadi, Jumat (8/4).

Migrasi lambat laun akan memengaruhi antrean kendaraan di SPBU. Kondisi itu yang saat ini sudah terjadi di sejumlah SPBU di Samarinda. Dirinya secara pribadi juga merasakan mulai kesulitan mendapatkan pertalite di SPBU di Samarinda. Perilaku lain, konsumen yang tidak ingin mengantre panjang akan memilih mengonsumsi pertamax. Atau terpaksa membeli pertamax karena langkanya pertallite. “Bagi seorang pelaku usaha, perubahan ongkos BBM akan mengubah juga ongkos produksi. Kondisi inilah yang kemudian akan berdampak pada harga di pasar,” jelasnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul itu mengkhawatirkan, perubahan status pertalite sebagai JBKP akan semakin membebani keuangan negara. Sebab, semakin banyak masyarakat yang mengonsumsi pertalite di tengah mahalnya pertamax. Sementara kondisinya di lapangan tidak ada sistem pengawasan yang tegas.

“Mau mobil mewah kalau mau isi pertalite juga tidak masalah. Dan sudah bisa dilihat ketika berbondong-bondong isi pertalite. Bukannya beban APBN semakin berat di sana,” sebutnya.

Baginya kenaikan harga pertamax semakin memukul daya beli masyarakat setelah dinaikannya PPN 11 persen. Apalagi momen tersebut dilakukan pada Ramadan dan jelang Lebaran 2022. Di mana inflasi selalu terjadi pada sembako akibat tingginya permintaan dan konsumsi masyarakat. Meski pandemi berangsur membaik, secara makro pun pemulihan ekonomi belum menunjukkan tren positif.

“Hampir semua daerah seperti Kaltim, ekonominya tumbuh tidak sampai 5 persen setelah terpuruk turun 2,9 persen pada 2020 lalu,” katanya. Hal itu menunjukkan ekonomi masyarakat belum leluasa di tengah melandainya kasus Covid-19.

Terdekat jelang Lebaran 2022, Purwadi ingin pemerintah dan Pertamina tidak hanya berkoar soal stok BBM aman. Tetapi secara langsung terlibat pengawasannya dan memastikan tidak terjadi antrean terlalu panjang. Yang bakal berimbas pada tersendatnya ekonomi masyarakat. “Jangan sampai ngomongnya stok tersedia, tetapi di SPBU antreannya luar biasa panjang,” ungkapnya.

TERULANG KASUS MIGOR

Peneliti Organisasi Riset (OR) Tata Kelola, Ekonomi, dan Kesejahteraan Rakyat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Maxensius Tri Sambodo mengkhawatirkan migrasi pengguna pertamax ke pertalite. Kondisi itu dipicu kenaikan harga pertamax yang mencapai sekitar 40 persen.

“Saya tidak bisa menyebutkan berapa banyak yang migrasi. Tapi, itu pasti ada,” kata peneliti yang akrab disapa Max tersebut. Max berharap pemerintah bisa mengantisipasi kondisi itu. Jangan sampai pertalite langka. Sebab, pertalite menjadi tumpuan kelompok ekonomi menengah ke bawah. Apalagi, sekarang premium semakin sulit didapatkan.

Selama bisa diantisipasi dengan baik, Max mengatakan, kenaikan pertamax tidak akan berdampak besar pada ekonomi. Namun, jika nanti pertalite langka, kemudian BBM yang tersedia hanya pertamax, risikonya berdampak ke inflasi. Masyarakat dengan daya beli yang belum terlalu kuat bakal terdampak.

Yang perlu diantisipasi adalah dampak psikologis masyarakat. Ketika pemerintah mengumumkan harga pertamax naik, psikologis masyarakat bakal merasa semua bahan pokok ikut naik. Masyarakat kelompok tertentu akan menaikkan harga barang yang dijual. Alasannya, mengantisipasi kenaikan beban biaya yang bakal ditanggung.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengkhawatirkan kenaikan harga pertamax bakal diikuti dengan kelangkaan suplai pertalite. Ujung-ujungnya, pemerintah mengembalikan harga pertalite sesuai dengan harga keekonomian atau harga pasar. “Sama seperti kasus minyak goreng,” ujar Trubus.

Sebagaimana diketahui, minyak goreng (migor) kemasan sempat langka beberapa waktu lalu. Tepatnya saat berlaku harga maksimal Rp 14 ribu/liter. Akibat kelangkaan itu, pemerintah mengembalikan harga minyak goreng kemasan ke harga pasar atau keekonomian. Tidak berselang lama, stok minyak goreng kemasan langsung melimpah di ritel modern.

Begitu pula dengan pertalite nanti, Trubus khawatir sengaja dibuat langka. Kemudian dijadikan alasan untuk menaikkan harga. Karena itu, dia berharap kenaikan harga pertamax diikuti dengan jaminan pasokan pertalite. “Jangan apa-apa kemudian dilarikan ke harga pasar. Masyarakat menengah ke bawah bisa klenger,” katanya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk mengomunikasikan kepada rakyat terkait kenaikan harga di sektor energi dan pangan. Menurutnya, kenaikan harga sudah tidak bisa dimungkiri lagi.

Jokowi menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh ekonomi global. Kenaikan inflasi di beberapa negara dan kondisi internasional yang tidak menentu memberikan pengaruh ke dalam negeri. “Tidak mungkin kita tidak menaikkan BBM. Untuk itu kemarin menaikkan pertamax,” ujarnya.

Dia meminta agar menteri dan kepala lembaga harus waspada. Setiap hari atau minggu harus menghitung kenaikan harga global. “Harus selalu dirapatkan agar tidak keliru mengambil keputusan,” beber Jokowi.

Menjelang Lebaran, Jokowi minta agar seluruh pihak hati-hati terkait ketersediaan pangan dan energi. Menteri dan kepala lembaga harus mengambil sikap yang tepat. Setiap pernyataan yang keluar dari pejabat negara harus sensitif terhadap kesulitan rakyat. Jokowi tak ingin jika pemerintah dianggap tidak bekerja karena melakukan hal yang biasa saja. “Kenaikan pertamax, menteri tidak memberikan penjelasan apa-apa. Ceritakan ke rakyat. Ada empati ke rakyat,” ungkapnya.

Di sisi lain, belum selesai tekanan yang dirasakan masyarakat setelah kenaikan harga pertamax, kini muncul sinyal kenaikan lainnya. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, rencananya harga pertalite dan elpiji 3 kilogram menyusul naik.

“Overall, yang akan terjadi itu pertamax, pertalite, premium belum, gas yang 3 kilo itu (ada kenaikan) bertahap. Jadi, 1 April, nanti Juli, nanti September. Itu bertahap (naiknya) dilakukan pemerintah,” ujarnya. Adapun harga pertalite di Kaltim sebesar Rp 7.650 per liter.

Meski begitu, dia belum menyebut secara terperinci wacana kenaikan tersebut. Yang jelas, hal tersebut dipengaruhi situasi memanas akibat serangan Rusia ke Ukraina.

Selain itu, Luhut menilai bahwa penyesuaian harga pertamax terbilang terlambat. Sebab, harga minyak dunia mengalami tren kenaikan sejak lama. Karena itulah, kenaikan harga BBM jenis pertamax sudah harus dilakukan pada 1 April 2022. Keputusan itu diambil demi menyelamatkan keuangan Pertamina imbas mahalnya harga minyak mentah dunia.

Terpisah, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading Pertamina Irto Ginting menuturkan, pihaknya menyerahkan rencana kenaikan harga tersebut pada keputusan pemerintah. “Penetapan harga BBM subsidi dan elpiji subsidi merupakan kewenangan pemerintah, ya,” ujarnya singkat. (rom/k16)

           

Editor : izak-Indra Zakaria
#bbm