Margiyono
Dosen Fekon Universitas Borneo Tarakan
Kita kenal “heart of Borneo”. Penting kiranya kita kenalkan Borneo adalah “Heart of Indonesia”. Bukan kah sudah lama kita juga mengenal “Borneo paru-paru dunia”. Kini, hati yang juga paru-paru itu tidak sesehat dulu. Tekanan demi tekanan silih berganti. Ada banyak lobang bekas tambang. Hamparan lahan yang tak lagi hijau. Ternyata itu lahan kritis. Luasannya kian meningkat. Saat musim berubah selalu diliputi kecemasan. Musim hujan datang banjir meluas. Lalu berganti musim. Kemarau tiba, sungai menyusut. Menjadi dangkal.
Bukan hanya itu, lahan bekas hutan dan tambang yang ditumbuhi ilalang ikut menambah kecemasan. Saat kemarau datang seringkali berubah menjadi lautan api. Sungguh tragis! Hujan salah. Panas pun salah. Nampaknya alam mulai berteriak, ia sudah tak mampu menahan tekanan, yang tak berkesudahan. Teriakan itu, kian melengking. Bak alarm yang sering kali dicueki. Reaksinya justru alarm dimatikan. Kita pun melanjutkan untuk terus bermimpi. Mimpi tentang kesejahteraan. Resepnya investasi dan pertumbuhan.
Tulisan ini membahas realitas pertumbuhan ekonomi di Borneo. Simpanan kekayaan alam yang melimpah itu kini terus menipis. Tidaklah heran jika masa keemasan kayu, berganti minyak. Ketika minyak menipis berganti ke gas. Kemudian gas pun terasa agak sulit dicari, otak berputar lagi mencari yang lain. Ketemulah emas hitam yaitu batu bara.
Aktivitas penambangan batu bara kini lagi seru-serunya. Gejala itu tampak jelas, jika kita terbang di atas Pulau Kalimantan. Tampaklah dalam hamparan tertentu truk-truk besar hilir mudik di atas tanah yang memerah. Mereka mengangkut gundukan warna hitam. Tak salah lagi, itu batu bara. Cadangan batu bara terbesar nasional ada di perut bumi Kalimantan. Banyaknya cadangan batubara di Kalimantan mencapai 51,9 miliar ton. Jumlah itu adalah 49,6 persen dari total sumber daya batu bara Indonesia, Siburian (2012).
Banyaknya batu bara itu sering kita sebut “simpanan kekayaan”. Namun melihat sejarahnya batu bara itu adalah “kekayaan yang tersisa”. Kenapa begitu? Bukannya kita mahfum bahwa Kalimantan sudah melewati empat fase. Dari fase kayu, kemudian menjadi fase minyak. Berikutnya fase gas dan saat ini kita berada pada fase batu bara. Pertanyaan? Ketika hutan dan komoditas tambang yang mempunyai nilai lebih tinggi sudah habis, jenis tambang lain yang nilainya lebih rendah menjadi pilihan.
Sisa kekayaan itu terus dikeruk. Jika didarat kita lihat truk-truk yang hilir mudik. Di sungai-sungai yang airnya kecokelatan tampak ponton membawa bukit hitam menuju ke pelabuhan internasional. Hasrat mengangkat batu bara dari perut bumi seperti menggaruk kulit kita yang gatal. Semakin digaruk semakin asyik. Walau kadang kulit terluka dan berdarah. Investor, pekerja, pemerintah ramai-ramai menikmati hikmat dan nikmatnya garukan.
Investor menikmati potensi keuntungan atas modal yang ditanam. Pekerja menikmati pendapatan di tengah kebutuhan dan harga-harga yang kadang meningkat tak kenal kompromi. Pemerintah juga sedang tersenyum menikmati pajak, bagi hasil dan masyarakatnya yang asyik bekerja meskipun melukai, melubangi bumi yang menjadi titipan generasi mendatang ini. Naiknya kebutuhan belanja bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga pemerintah. Bagaimana tidak sederetan janji waktu kampanye harus direalisasi selama periode jabatannya.
Semakin meningginya niat memperoleh pajak. Maka semakin kencang pula mesin pengeruk bekerja. Jika ini terjadi sepanjang waktu, maka aktivitas tambang akan terus bekerja. Ujungnya stok kian menipis dan habis. Tidaklah heran jika satu komoditas habis, ganti komoditas lainnya. Karena itulah yang bisa menjadi solusi jangka pendek. Jangka pendek itu terus berulang-ulang. Sekalipun telah berganti generasi.
Ujungnya menumpuk menjadi rangkaian jangka menengah dan panjang. Belum lagi jika ini dikaitkan dengan paradigma otonomi daerah yang sering kali dimaknai, setiap daerah memiliki wewenang untuk mengelola sumber daya yang dimiliki. Situasi ini agaknya menjadi pemicu lajunya degradasi sumber daya alam di Kalimantan.
Marginalisasi di Pusaran Investasi
Struktur ekonomi suatu wilayah menunjukan pola produksinya. Selain Kalbar dan Kalteng tiga provinsi yang lain di Kalimantan didominasi tambang. Berdasarkan data BPS, Kaltim lebih dari 43 persen, Kaltara lebih 25 persen, dan Kalsel di atas sedikit 18 persen. Sementara Kalteng dan Kalbar hanya lebih 7 persen. Struktur ekonomi yang dominan sering kali disebut leading sector. Sebagai industri utama maka akan diikuti oleh sektor pendukungnya. Baik dalam aspek riil atau aspek finansiilnya.
Aktivitas tambang membutuhkan investasi yang besar. Karena itu tidak heran jika banyak perusahaan multinasional yang beroperasi di Kalimantan. Perusahaan besar memiliki kemampuan finansial yang besar. Sehingga akses dan kapasitas permintaan kreditnya juga besar. Permintaan kredit investasi untuk sektor pertambangan secara aggregate selama lima tahun terakhir juga meningkat.
Data yang dihimpun dari Bank Indonesia tahun 2016 kredit investasi untuk sektor tambang 8,54 triliun rupiah. Kemudian, 2021 meningkat menjadi 18,35 triliun rupiah. Presentase terhadap total kredit pertambangan juga meningkat dari 8,33 persen menjadi 12,17 persen.
Secara nominal lima tahun terakhir pertumbuhan kredit sektor pertambangan adalah 115 persen. Artinya rata-rata pertumbuhannya adalah 23 persen/tahun. Kenaikannya sangat tinggi. Menjelaskan bahwa, upaya untuk melakukan aktivitas penambangan sangat besar dan bersemangat. Permintaan kredit pertambangan periode yang sama, tertinggi terjadi di Kaltim. Bahkan lebih dari separuh dari seluruh Kalimantan. Nominalnya mencapai Rp 6,83 triliun, lima tahun berikutnya meningkat menjadi Rp 10,62 triliun.
Meskipun pertumbuhan porsi kredit pertambangan tertinggi terjadi di Kalsel yaitu dari 8,48 persen di tahun 2016. Lima tahun kemudian menjadi 28,05 persen. Nominalnya dari Rp 1,02 triliun menjadi Rp 5,22 triliun.
Meskipun jumlah kredit investasi pertambangan Kaltim tertinggi namun porsi kredit sektor tambangnya hanya 14,94 persen. Kemudian tahun 2021 naik lagi menjadi 15,27 persen. Untuk Kalbar dan Kalteng juga meningkat lebih 250 persen, meskipun proporsi kreditnya di bawah 10 persen. Satu-satunya provinsi yang menurun adalah Kaltara. Tahun 2016 sebesar 8,09 persen turun menjadi 2,13 persen atau dari Rp 141,24 miliar menjadi Rp 89,93 miliar.
Sepertinya besarnya investasi tidak berdampak langsung pada peningkan kesejahteraan. Meskipun investasi di Kaltim tertinggi, justru kemiskiannya meningkat. Tahun 2016 kemiskinan Kaltim 6,11 persen. Tahun 2021 meningkat menjadi 6,28 persen.
Lebih memprihatinkan jumlah pengangguran. Selama lima tahun terakhir selain Kaltim, pengangguran di empat provinsi yang lain menurun. Namun, Kaltim justru meningkat dari 3,9 persen menjadi 6,83 persen. Kelimpahan sumber daya dan derasnya investasi ternyata tidak mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih baik. Realitas itu menunjukan, kelimpahan sumber daya tidak dinikmati oleh masyarakat lokal, namun lebih menguntungkan pemilik modal. (luc/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria