Sejak 2018, Gloria bercita-cita mengikuti PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara). Saat itu ia masih mahasiswa semester tiga jurusan akuntansi di Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).
INFORMASI PPAN dari salah satu guru bahasa Inggrisnya. “Waktu itu amunisi untuk ikut PPAN masih minim, jadi masih butuh pengalaman prestasi, kemudian internasional exposure,” ungkap perempuan kelahiran Balikpapan, 10 November 1998 itu.
Gloria mengikuti berbagai perlombaan dan konferensi tingkat nasional dan internasional. Salah satunya Bali Democracy Student Conference (BDSC) Desember 2018, yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Di sana, dia bertemu 137 peserta dari 58 negara, termasuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Pada 2019, Gloria juga mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar di Mariano Marcos State University, dan magang di perusahaan Filipina selama sebulan. Dengan modal pengalaman itu, dia mendaftar PPAN pada 2020, dengan pilihan program SIYLEP (Singapore-Indonesian Youth Leaders Exchange Programme). Seleksi dilakukan Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Kaltim di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.
Seleksi berkas, tes tertulis, wawancara, dan unjuk bakat. Gloria menampilkan kemampuan bermain sampe dan ukulele sebagai representasi budaya suku Dayak Bahau yang merupakan suku dari ibu Gloria. Setelah melewati semua tahapan, dia terpilih sebagai kandidat utama program SIYLEP, mewakili Kaltim pada 2021-2022.
Gloria senang dan bangga ketika nama kandidat utama diumumkan lewat akun resmi PCMI Kaltim pada April 2021. “Orangtua saya ikut mantengin. Dan kami bersyukur sudah keterima,” ujar perempuan yang pernah tinggal di Sydney, Australia.
Program SIYLEP terbagi menjadi dua fase. Pertama, kunjungan delegasi Indonesia ke Singapura. Namun, karena pandemi Covid-19, fase itu dilakukan daring dari Jakarta selama tujuh hari, pada 21–28 November 2021. Gloria bersama 33 delegasi Indonesia lainnya mengikuti pre-departure training yang membahas tentang sustainability and climate change bersama para ahli dan aktivis lingkungan. Mereka diresmikan Kemenpora sebagai delegasi Indonesia untuk SIYLEP.
Fase kedua adalah kunjungan delegasi Singapura ke Indonesia. Fase itu dilakukan secara luring di Bali selama tujuh hari, pada 18–24 September 2022. Gloria dan delegasi Indonesia bertemu dengan delegasi Singapura. Mereka berdiskusi tentang isu lingkungan dan mengerjakan proyek online dengan tema Membangun Kota Impian yang Ramah Lingkungan. “Kami membahas fasilitas apa yang mau dipakai, kemudian kebijakan apa untuk impian kita sebagai kota yang ramah lingkungan,” sambungnya.
Di fase kedua mengusung tema Youth Entrepreneurship Youth Action in Tourism Recovery After Pandemic. Di Bali, Gloria dan delegasi Indonesia bertemu langsung dengan delegasi Singapura yang berlatar belakang aktivis, profesional, dan pemerintah. Mereka melakukan studi lapangan tentang dampak pandemi terhadap UMKM di sektor pariwisata. Mereka memberikan rekomendasi kepada UMKM dan pemerintah Bali untuk bangkit dari krisis Covid-19.
Selain itu, mereka berkunjung ke kantor pemerintahan Bali dan bertemu wakil gubernur Bali. Mereka berdiskusi tentang G-20 dan 55 tahun hubungan diplomatik Singapura dan Indonesia. Mereka juga mengunjungi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali dan berdialog dengan para pegiat lingkungan tentang industri pariwisata di Bali. “Kami bahas tentang bagaimana caranya tetap melakukan bisnis pariwisata tapi tetap menjaga lingkungan,” tutur Gloria.
Gloria banyak mendapat pengalaman menarik dari SIYLEP. Salah satunya bertukar pikiran secara intens dengan para pemuda Singapura. “Kami membahas isu lingkungan dan suatu masalah yang memang saat ini terjadi. Aku memahami perbedaan pikiran, cara pandang mereka, dan menerima pikiran baru dari mereka yang aku sendiri enggak pernah terpikirkan sekali pun,” ungkapnya.
Dia menyukai aktivitas field study yang praktikal. Dia dan delegasi lainnya turun langsung untuk mencari masalah yang dihadapi UMKM di sektor pariwisata Bali yang terdampak Covid-19. Mereka memberikan rekomendasi yang disampaikan ke pemerintah Bali untuk direalisasikan.
Gloria juga senang bisa memiliki relasi di 33 provinsi di Indonesia. Dia merasa jangkauan jaringannya semakin luas dan bermanfaat. “Kalau ada projek antarprovinsi, kami bisa saling bantu,” bebernya.
Tidak merasakan duka selama mengikuti program SIYLEP, Gloria hanya sedih ketika harus berpisah dengan delegasi lainnya. Namun, dia tetap berkomunikasi dan bekerja tim. (dra/k16)
ARINA NURHIDAYAHareenaheedayah@kaltimpost.co.id