Usia bangunan Pasar Pagi diperkirakan sudah melewati setengah abad. Sudah beberapa kali pula pemugaran. Namun, bangunan yang ada saat ini dianggap tak lagi baik. Sejak awal tahun pemkot berencana merekonstruksi bangunan.
SAMARINDA–Kajian demi kajian dilakukan pemerintah kala itu. Peninjauan lapangan dilakukan guna mengetahui langkah tepat yang ingin diambil. Hingga akhirnya pemerintah mengambil sikap membangun dan menata ulang Pasar Pagi.
Dianggap sudah uzur, lantaran dibangun era 60-an, serta penataannya dianggap semrawut dan terkesan kumuh, konstruksi bangunan tersebut dianggap sudah nol. Hal itu dinilai cukup membahayakan pedagang maupun pengunjung. Namun, pemerintah tetap mengusung konsep pasar rakyat.
Ada wacana penataan ulang, membuat sejumlah pedagang resah. Beberapa waktu lalu bahkan sempat bertandang ke Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Pagi, mempertanyakan hal tersebut. Informasi yang diperoleh bahwa terhitung November hingga Desember, pedagang bakal direlokasi ke sejumlah titik. Hal itu yang memicu pedagang kebingungan. Seorang pedagang yang namanya enggan dikorankan menyebut, sudah berjualan cukup lama di Pasar Pagi. Namun, adanya rencana pemkot akan membangun ulang, informasi yang didapat tak banyak.
“Belum ada pemberitahuan secara resmi, karena mungkin masih rencana. Jadi saat ini pedagang masih banyak mendengar selentingan informasi yang berhubungan dengan pembongkaran dan relokasi pasar. Jadinya pedagang resah,” ucapnya. Dijelaskannya pula bahwa saat mendatangi UPTD, ada komunikasi baik yang terjalin. “Kami dapat informasi itu yang pertama proses pemindahan akan berlangsung November nanti. Untuk waktu dan tempat persisnya belum dijelaskan, katanya nanti ada sosialisasi dari pemerintah,” sambungnya.
Berkenaan dengan pemindahan pedagang, pihaknya mendapatkan informasi ihwal relokasi tersebut. “Titiknya ada di Mal Mesra Indah, Segiri Grosir, Pasar Kedondong dan Pasar Merdeka,” sambungnya. Namun, jika keinginan pedagang dipindahkan, berharap tak jauh dari Pasar Pagi atau lokasi awal berdagang. “Kan sudah ada pelanggan, agar akses pelanggan itu tidak jauh. Kami (pedagang) menginginkan jika direlokasi secara bersamaan, dijadikan satu tempat. Sehingga memudahkan pelanggan juga. Semoga saja dipertimbangkan pemerintah. Termasuk menyediakan relokasi sesuai dengan akses yang mudah, bersamaan berdasarkan besaran dan jenis usahanya, serta luas petaknya,” imbuhnya.
Meski disebutnya bakal ada pro dan kontra ihwal pemindahan tersebut, dia dan pedagang lain berharap relokasi itu tak dilakukan dalam waktu dekat. “Kalau bisa selesai Lebaran (Idulfitri). Karena kami baru saja peralihan setelah Covid-19. Mereka berharap dengan waktu selesai Lebaran, itu bisa dijadikan pegangan, karena kalau pindah, omzet pasti turun. Dan itu juga untuk pemerintah bisa bersiap, jangan hanya kami,” tegasnya.
Ditemui terpisah, Kepala Sub-Tata Usaha UPTD Pasar Pagi Abdul Gafur menjelaskan, kondisi yang kumuh dan uzur jadi alasan faktor dilakukannya rekonstruksi. “Semrawut kabel, terus lantai, dan kelayakannya. Tidak layak dari segi apa pun,” sebutnya. Namun, dia belum berani bicara memerinci terkait informasi tersebut.
Berdasarkan data yang diperoleh, sekitar 1.800 pedagang menggantungkan nasibnya dari berjualan di Pasar Pagi. Dengan bangunan baru nantinya, daya tampung yang bisa diterima jumlahnya bisa lebih dari yang ada saat ini. Bahkan, rencana pemerintah tak hanya soal Pasar Pagi, termasuk menata masalah parkir yang kerap jadi biang kemacetan di titik tersebut. (dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria