Keluarga tak ada yang mengira kepergian Muhammad Alfarizi begitu tragis. Jasad remaja 19 tahun itu ditemukan terbungkus dalam karung dengan kondisi tangan terikat yang menyambung ke leher.
HATI ibu mana yang tak tergores melihat anaknya ditemukan dengan kondisi tragis. Dalam karung dan dibuang ke saluran pembuangan.
Cerita mengenai mendiang Muhammad Alfarizi atau remaja yang akrab disapa Alfa itu harian ini dapatkan dari beberapa keluarganya yang bertandang ke Polresta Samarinda, Senin (30/10) lalu. Amrullah, sang kakak, mengatakan kaget mendengar bahwa almarhum adiknya itu berutang. “Logikanya ya, Mas, dia (pelaku) itu kan dari keluarga broken home. Mohon maaf, dari cerita teman-teman korban, yang sering membantu itu adik saya. Jadi pas pelaku sakit, adik saya yang belikan makan, mengantarkan nasi. Itu bukan sekali, sering,” ucapnya. “Jadi rasanya aneh kalau adik saya yang berutang Rp 1,5 juta,” imbuhnya.
Di sisi lain, anak bungsu dari empat bersaudara itu merupakan sosok yang rajin. Ihwal soal warisan seperti yang disampaikan di media sosial, Amrullah membantah. “Pertama soal handphone, itu dia beli karena waktu dia sempat kerja di salah satu perusahaan ritel, diharuskan pakai HP yang kualitas fotonya bagus. Karena kerja dia kadang foto produk,” jelas sang kakak. Sehingga, handphone yang dimiliki Alfa memang secara kualitas harus cukup baik. “Kedua, soal motor. Itu dia kredit sama ibu. Motor itu dibeli second sama orang di Sambutan. Dan memang kondisinya sudah modifikasi begitu,” sambungnya.
Alfa memang dikenal dekat dengan sang ibu. “Karena setiap ke mana-mana itu selalu mengabarkan sama orangtua. Jadi misalnya lagi di tempat temannya, di jalan apa kah, itu selalu ngabarin,” timpal keluarga yang lain. Meski saat kejadian Alfa tak sedang berstatus sebagai pekerja, korban terakhir sempat mencurahkan isi hatinya kepada sang ibu.
“Alfa ditanya sama orang-orang, Ma, kok enggak kerja lagi. Padahal itu lagi usaha juga, sana-sini ngelamar, jadi memang nunggu panggilan. Bukannya enggak berusaha. Itu dia sempat curhat,” lanjut sang kakak. Alfa juga dikenal rajin beribadah.
Amrullah dan keluarga yang lain meminta polisi benar-benar transparan terhadap menangani kasus tersebut.
Untuk diketahui, ulah TS, tersangka yang masih berusia 17 tahun yang menghabisi nyawa Alfa, memang masih di bawah umur. Sehingga penanganan perkaranya pun berbeda. Kurang dari dua pekan, polisi menjadwalkan rekonstruksi kejadian guna mengetahui bagaimana kejadian tersebut. “Kalau tidak ada halangan, rekonstruksi bisa di lokasi kejadian,” tegas Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli. (dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria