Mulai fogging, kampanye pengendalian jentik, hingga pengerahan kader sampai dusun-dusun sudah dilakukan. Kini, cara baru dijajal untuk menekan demam berdarah dengue: melawan nyamuk dengan ’’nyamuk’’.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
SOMASI itu ditujukan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ditandatangani lebih dari 100 orang dari beberapa organisasi. Intinya, meminta penghentian sementara penyebaran nyamuk Wolbachia. Mereka khawatir akan terjadi wabah.
Namun, Budi menilai langkah pemerintah sudah tepat. Nyamuk dengan bakteri Wolbachia di dalamnya sudah dilakukan penelitian ilmiah yang bermula di Jogjakarta 10 tahun silam. ’’WHO menerimanya sebagai salah satu metode mengurangi dengue,’’ tuturnya, Sabtu (23/12).
Kemenkes mencatat, sejak Januari hingga November tahun ini, ada 76.449 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 571 kematian. Padahal, pemerintah menargetkan pada 2030 dapat mengeliminasi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk itu. Nah, menyebarkan nyamuk Wolbachia diharapkan bisa menekan DBD.
Lima kota dicoba menjadi lokasi penyebaran nyamuk Wolbachia. Yakni, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang.
Di Kupang, misalnya, penyebaran dilakukan sejak akhir Oktober.
Kemenkes menyebar ember berisi telur nyamuk yang sudah terdapat bakteri Wolbachia. ’’Kami melihat Wolbachia bagus. Makanya kami lakukan pilot project, dan Kupang salah satunya,’’ tutur Budi saat menghadiri pelaksanaan pilot project di Kupang.
Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, menjadi percontohan. Di sana, angka DBD yang banyak dengan kesakitan tertinggi. Apalagi, Kecamatan Oebobo termasuk berpenduduk padat.
Telur nyamuk yang dibagikan kepada warga akan menetas setelah dua minggu. Bukan hanya itu, warga juga diberi pakan nyamuknya. Mirip ternak. Kecamatan itu butuh 700 ribu telur setiap minggu. Pengamatan terus dilakukan hingga kini.
Diharapkan, dalam setahun, populasi nyamuk dengan Wolbachia sampai 80 persen dari populasi nyamuk Aedes aegypti yang merupakan inang pembawa dengue. ’’Mudah-mudahan dengan pilot project ini, penularan dengue yang lumayan banyak bisa menurun,’’ harap Budi.
Peneliti nyamuk Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada Adi Utarini menuturkan, sejak 2016, hasil penyebaran nyamuk Wolbachia di Jogjakarta sudah berjalan efektif. Dengan nyamuk Wolbachia dalam populasi nyamuk di Jogjakarta, kasus DBD sudah turun 77 persen. Bahkan, tercatat perawatan untuk kasus DBD juga turun hingga 86 persen. ’’Angka kejadian DBD saat ini terendah sejak 30 tahun lalu,’’ ungkapnya dalam kesempatan terpisah.
Hasil itu menjadi legasi keberhasilan nyamuk Wolbachia dalam menekan dengue. Peneliti pun melapor ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). ’’Rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory group (VCAG),’’ terang perempuan yang akrab disapa Uut itu.
Dia memaparkan, VCAG dari WHO menyimpulkan sudah ada bukti penyebaran Wolbachia ke populasi nyamuk Aedes aegypti menunjukkan dampak bagi kesehatan. Data itu sudah dianggap cukup oleh WHO guna memulai pengembangan pedoman untuk rekomendasi intervensi pelepasan Wolbachia dalam pengendalian dengue. Efikasi itu tidak hanya terlihat di Jogjakarta. Hasil yang konsisten juga terlihat di Brasil, Vietnam, bahkan Australia.
Sebelumnya, tim independen dari Kemenristekdikti juga menganalisis risiko teknologi dan menyatakan teknologi Wolbachia berada pada kategori risiko terendah, yaitu dapat diabaikan atau negligible. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merekomendasikan agar inovasi pencegahan dengue dengan teknologi Wolbachia bisa menjadi kebijakan Kemenkes untuk penanganan dengue di Indonesia.
’’Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik apa yang jadi goals standar riset di bidang kedokteran dan kesehatan, serta sudah menghasilkan bukti ilmiah terbaik,’’ katanya. Rekomendasi dari WHO dan AIPI itu dinilai valid.
Namun, lanjut Uut, implementasi intervensi Wolbachia sebagai pelengkap program pengendalian dengue memerlukan sinergi pusat dan daerah. Perlu juga dukungan dari masyarakat.
Lantas, bagaimana nyamuk dengan Wolbachia ’’bekerja’’? Nyamuk Aedes aegypti betina yang sudah memiliki Wolbachia akan menghasilkan telur yang semuanya juga ber-Wolbachia. Bakteri Wolbachia juga bisa pada nyamuk jantan. Jika nyamuk itu membuahi, telurnya tidak menetas.
Seperti di Kupang, di Jogjakarta warga juga dititipi ember berisi telur dan pakannya. Dua minggu sekali, ember itu diambil untuk dibersihkan. Lalu, diisi lagi dengan telur baru serta diletakkan pada tempat yang teduh. Tidak setiap rumah diberi ember itu. Peneliti memakai jarak 75–100 meter untuk setiap ember.
Setelah 6–7 bulan, dilakukan pemantauan dengan hasil sekitar 60 persen dari nyamuk Aedes aegypti di alam sudah mengandung Wolbachia. Lalu, pelepasan telur akan dihentikan dan dibiarkan berkembang secara alami.
Menurut Uut, manfaat yang dirasakan lainnya adalah menekan biaya untuk pengendalian nyamuk Aedes aegypti. Di Jogjakarta, pada 2022 sudah dilaksanakan 200 kali fogging. Namun, tahun ini baru sembilan kali. ’’Penghematan bisa sekitar Rp 200 juta,’’ ungkapnya.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu menyatakan, melihat keamanan nyamuk Wolbachia, Kemenkes memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk itu di lima kota di Indonesia. Namun, meski menunjukkan hasil yang baik, penyebaran nyamuk itu tetap dievaluasi. ’’Tujuannya untuk mengetahui perkembangan dari penyebaran nyamuk ber-Wolbachia,’’ ungkapnya.
Kemenkes juga telah mengeluarkan Buku Pedoman Penanggulangan Dengue dengan metode nyamuk ber-Wolbachia di lima kota. Untuk memastikan implementasi Wolbachia berjalan baik, sesuai dengan penelitian di Jogjakarta. (*/c18/fal)
Editor : izak-Indra Zakaria