LOA JANAN. Mantan Kepala Desa (Kades) Loa Duri Ilir Fahri Arsyad tengah menjalani pemeriksaan di Polres Kutai Kartanegara (Kukar). Fahri diperiksa terkait adanya laporan dugaan penggelapan yang dilakukannya selama menjabat.
Salah seorang tokoh masyarakat Loa Duri Ilir, Subagyo membenarkan kabar tersebut. Bahkan saat ditemui awak media ini Minggu (13/10) siang, Subagyo menyampaikan beberapa indikasi kasus penggelapan yang dilakukan mantan kades yang masa jabatanya berakhir Juni lalu.
“Selain dugaan penggelapan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT STA dan PT KPP, ada lagi anggaran untuk tandon air dan petak Pasar Loa Duri Ilir. Saya ada datanya,” ujar Subagyo tegas.
Berdasarkan data yang dimiliki Subagyo, anggaran dana CSR dari perusahaan yang dikucurkan ke desa untuk kepentingan warga berkisan Rp 1,2 miliar per tahun. Namun dalam pelaporannya, hanya digunakan Rp 1.020.000.000. Subagyo menyebut, artinya ada dugaan sekitar Rp 180.000.000 yang hilang per tahun. “Kalau dikalikan dengan masa jabatan selama enam tahun, ada sekitar Rp 1.080.000.000 yang hilang,” tutur Subagyo menjelaskan.
Selain itu, terang Subagyo, pengadaan tandon air bagi warga juga terindikasi dikorupsi. Pada 2015 desa sudah mengganggarkan Rp 14.758.000. Kegiatan yang sama kembali dianggarkan di 2016 sebesar Rp 30.060.000. “Padahal yang digunakan tandon yang sama, hanya berubah tempat kemudian difoto sebagai bahan laporan,” urainya.
Subagyo juga menyebut, dugaan korupsi juga terjadi pada anggaran untuk pembangunan petak Pasar Loa Duri Ilir. Pada 2018, pembuatan sarana belanja tersebut sudah dianggarkan Rp 89.266.100. Namun di tahun ini, kegiatan yang sama kembali dianggarkan Rp 136.315.000. Hal ini menjadi pertanyaan besar baginya selaku salah satu tokoh masyarakat setempat.
“Padahal sebenarnya jika dana CSR, ADD maupun Dana Desa (DD) bisa dikelola dengan baik, saya yakin Loa Duri Ilir akan jauh lebih maju,” paparnya. Itu sebabnya, jelang pemilihan kepala desa yang akan dilaksanakan pekan ini, Subagyo berharap kepada warga untuk jeli memilih calon pemimpin. Dengan harapan, Desa Loa Duri Ilir semakin maju dan berkembang dari berbagai lini ke depannya. “Kiranya masyarakat Loa Duri Ilir jauh lebih bijak untuk menentukan pilihannya. Jangan terbuai dengan janji manis,” tuturnya.
Dikonfirmasi melalui sambungan telepon siang kemarin, Fahri membenarkan sempat menjalani pemeriksaan di Polres Kukar atas dugaan penggelapan dana CSR. Bahkan Fahri juga sudah menjelaskan secara gablang kepada tim penyidik tentang mekanismen turunnya anggaran, hingga pengelolaan anggaran tersebut. “Keluarnya (dana CSR, Red) melalui tahapan-tahapan (yang benar, Red). Bahkan kami dijadikan pilot project pengelolaan dana desa oleh BPKP,” terang Fahri.
Disinggung soal tahapan penyidikan atas dugaan kasus yang kini menerpa dirinya, Fahri menyebut bahwa tak ada satu pun saksi yang bisa membuktikan adanya dugaan kasus penggelapan tersebut. “Sekarang pengacara saya lagi proses untuk (mengajukan, Red) SP3 (surat penghentian penyelidikan),” tandasnya mengakhiri. (adv/anto/rin)
Editor : rusli-Admin Sapos