BONTANG – Kelurahan Satimpo menyerahkan barang pengadaan program stimulan ke dua RT, Sabtu (30/9). Sasarannya ialah RT 19 dan 21. Lurah Satimpo Maryono mengatakan, kedua wilayah ini memperoleh masing-masing 20 glodok madu lanceng.
Pengadaan ini diusulkan warga setelah melihat keberhasilan dari RT 18 dalam budi daya tersebut. “Tahap pertama kami bagikan 20 glodok dulu,” kata Maryono.
Mengingat sistem pembayaran untuk stimulan dibagi dalam dua tahap. Setelah menerima tahap pertama, bisa diajukan untuk termin berikutnya. Menurutnya RT 21 merupakan tahun pertama budi daya madu lanceng.
Rencananya nanti Satimpo di-launching menjadi kampung madu. Mengingat stimulan yang saat ini dijalankan rata-rata ialah budi daya tersebut. “RT 19 juga baru tahun pertama ini,” ucapnya.
Selain madu, RT 21 juga akan mengembangkan usaha berupa pembuatan keripik dan aneka kue kering. Warga sudah dibekali ilmu agar bisa membuat produk tersebut. Pertimbangan keripik, karena wilayah ini merupakan kawasan pertanian.
Jadi, warga mudah untuk mendapatkan singkong, pisang, dan nangka. “Berbagai olahan keripik akan dibuat oleh RT 21. Khususnya kaum ibu. Sementara kaum bapak fokus untuk budi daya madu lanceng,” tutur dia.
Alat masak yang diberikan berupa kompor dan perkakas lain. RT 21 juga memperoleh alat press sepatu. Usaha pembuatan sepatu telah ditekuni warga melalui stimulan tahun lalu. Berbagai jenis sepatu dibuat berdasarkan pesanan konsumen.
Tentunya dengan harga terjangkau dengan kualitas yang baik. Sementara untuk RT 19, kaum ibu akan mengembangkan usaha pembuatan kue kering.
Sebelumnya, dua RT yakni 14 dan 18 telah menerima barang serupa. Khusus RT 14 memperoleh 30 glodok madu lanceng. “Ini merupakan lanjutan dari program tahun sebelumnya. Sebab mereka berhasil membudiayakannya,” sebutnya.
Sementara RT 18 mendapatkan 5 glodok madu lanceng dan 200 backlog jamur tiram. Nantinya jumlah ini dipastikan bertambah. Sebab, sesuai aturan pencairan dana stimulan untuk tahap pertama diberi 50 persen terlebih dahulu. Setelah dilaporkan, menjadi ketentuan untuk pencairan sisanya.
“Jadi ini diadakan oleh pokmas. Skemanya dengan swakelola tipe IV. Setelah itu barang diberikan kepada pokmas RT untuk pembudidayaannya,” terangnya.
Beberapa RT di Kawasan Perum HOP memang lebih memilih budi daya madu lanceng. Pasalnya, perawatannya lebih mudah. Apalagi sudah ada keberhasilan di tahun berikutnya, sehingga ini menjadi acuan warga. Sementara untuk pemasarannya masih konvensional. (ak/kri/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria