Hanya saja Dewa belum membeberkan secara rinci terkait jumlah peningkatan kasus yang terjadi. Menurutnya peningkatan kasus sifilis ini, telah diprediksi sebelumnya, seiring dengan banyaknya pekerja yang masuk ke Kalimantan Timur dan mencari hiburan di Kota Balikpapan.
Selain sifilis, Dewa juga mengungkapkan bahwa kasus HIV di Balikpapan juga masih menjadi perhatian. Meski kasusnya stagnan, masih berada pada tingkat yang sama dengan tahun lalu.
Namun, tren epidemiologi menunjukkan bahwa infeksi menular seksual sering menjadi pintu masuk sebelum terjadi peningkatan kasus HIV dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Menanggapi situasi ini, Dinas Kesehatan Balikpapan telah meningkatkan upaya pencegahan, termasuk memperluas screening untuk deteksi dini. Terrutama pada populasi kunci seperti pekerja seks, komunitas waria, transgender, dan laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama jenis.
"Kita juga telah menambah jumlah layanan pengobatan di Puskesmas, sehingga pengobatan kini dapat diakses lebih mudah di fasilitas-fasilitas tersebut," jelasnya.
Lebih lanjut, Dinas Kesehatan juga gencar melakukan edukasi. Salah satu upaya terbaru adalah kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) untuk memberikan pembekalan pada masa orientasi sekolah.
"Sasaran edukasi ini adalah kelompok usia muda, mengingat tren kasus infeksi menular seksual semakin banyak ditemukan pada usia yang lebih muda," tambah Dewa.
Dengan meningkatnya upaya pencegahan dan deteksi dini, diharapkan lonjakan kasus infeksi menular seksual di Balikpapan dapat dikendalikan, serta mencegah peningkatan kasus HIV di masa depan.
(FREDY JANU/KPFM)