Peristiwa longsor kembali melanda kawasan Jalan Merdeka, RT 94, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda. Hujan yang mengguyur dalam beberapa hari terakhir memperparah kondisi bukit yang memang telah lama terpantau rawan longsor. Akibatnya, jalan alternatif yang biasa digunakan warga untuk menuju kawasan Sambutan tertutup total oleh material longsor.
Jalan tersebut merupakan jalur penting bagi mobilitas harian warga, khususnya pengendara yang ingin menghindari kemacetan di jalan utama. Kini, tumpukan tanah dan puing-puing beton menghalangi seluruh permukaan jalan.
Baca Juga: Tiga Bandara Statusnya Jadi Bandara Internasional, Bandara Supadio Belum Masuk List, Ini Alasannya
Tidak hanya itu, rumput liar mulai tumbuh di sekitar longsoran, menandakan tidak adanya penanganan signifikan dalam waktu yang lama. Kondisi ini mendapat sorotan dari masyarakat setempat yang merasa khawatir dan kecewa.
Deni (39), warga sekitar, mengungkapkan rasa frustrasinya. "Sudah bertahun-tahun ini terjadi. Setiap musim hujan pasti longsor. Tapi tidak pernah ada penanganan jangka panjang. Paling-paling cuma dibersihkan seadanya, lalu ditinggal," ujar Deni, Jumat (25/4).
Deni menambahkan, material longsor yang dibiarkan menumpuk di kanan-kiri bukit justru memperbesar risiko bencana serupa terulang.
"Seharusnya material itu dibuang jauh dari lokasi. Kalau dibiarkan di situ, pasti turun lagi saat hujan deras," kesalnya.
Ketua RT 94, Ipung, juga menyampaikan bahwa kejadian ini telah terjadi berulang kali. Setidaknya, tiga kali longsor besar tercatat hanya dalam beberapa bulan terakhir.
"Terakhir kali ada penanganan pada bulan Maret. Tapi setelah itu, tidak ada kelanjutan. Sekarang tanah turun lagi, bahkan lebih parah karena jalan tertutup total," jelasnya.
Menurut Ipung, lumpur yang terbawa air hujan hingga ke permukiman membuat jalan di sekitar kawasan menjadi licin dan becek. Kondisi tersebut membahayakan keselamatan pengguna jalan. "Sudah banyak pengendara yang terjatuh. Ini bukan sekadar gangguan mobilitas, ini soal nyawa," tegasnya.
Warga kini mendesak pemerintah kota dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret dan menyeluruh. Tidak hanya pengerukan material, tetapi juga upaya pencegahan jangka panjang seperti pembangunan dinding penahan tanah, penguatan struktur bukit, dan sistem drainase yang baik. "Penanganan sementara tidak akan menyelesaikan masalah. Kami butuh solusi permanen agar jalur ini benar-benar aman digunakan," kata Ipung mengakhiri. (kis/beb)
Editor : Indra Zakaria