Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tekankan Pentingnya Menghargai Perbedaan

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 21 Mei 2019 - 17:56 WIB

TARAKAN - Minggu pagi ratusan umat Budha Kota Tarakan menggelar prosesi ibadah waisak di Vihara Sinar Borobudur di RT 17 Jalan Slamet Riyadi Kelurahan Karang Anyar Kota Tarakan.

Dalam prosesi pindapata dalam perayaan Waisak tersebut, ratusan umat Budha tampak antusias memberikan sedekah kepada biksu sebagai syarat prosesi Waisak.
Bikhu Silagutto selaku biksu Vihara Sinar Borobudur Tarakan mengungkapkan, kegiatan pindapata merupakan proses menaruh makanan ke dalam mangkuk yang dibawa seorang bikhu/biksu yang kemudian diisi makanan dari jemaat sebagai tanda pemberian kepada biksu untuk memenuhi kebutuhan sebagai rasa terima kasih karena telah melayani umat.
"Hari ini kegiatannya pindapata nanti sore baru acara waisak di vihara. Pindapata itu saya membawa mangkuk nanti umat ya g menaruh makanan di mangkuk itu. Tidak ada makna khusus dalam pindapata itu hanya cara bikhu mencari makan," ujar Bikhu Silagutto, Minggu (19/5).
Selain perayaan pindapata, ratusan anak-anak umat Budha juga merayakan ritual pradaksina, yaitu ritual mengelilingi vihara sebanyak 3 kali yang dilakukan oleh anak-anak. Selanjutnya prosesi pradaksina yang dilakukan orang dewasa baru dilakukan pada sore hari.
"Tadi pagi (kemarin) ada rangkaian waisak bagi anak-anak dengan proses juga tadi mengelilingi vihara 3 kali membawa lilin, dupa dan bunga. Nanti sore baru untuk orang dewasa jam 5 sore," tuturnya.
Bikhu Silagutto menjelaskan, perayaan Waisak merupakan peringatan dari 3 peristiwa penting yang terjadi dalam peradaban umat Budha. Yaitu peristiwa kelahiran Sidharta Gautama, tercapainya penerangan sempurna Gautama, mangkatnya (meninggal) sang Budha Gautama di usia 80 tahun pada tahun 543 sebelum masehi.
"Waisak sering disebut Hari Raya Tri Suci Waisak. Disebut Hari Raya Tri Suci Waisak karena pada hari Waisak terjadi tiga peristiwa penting yang pertama hari Kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum masehi. Kedua, Tercapainya penerangan sempurna oleh Pertama Gautana pada usia 35 tahun pada tahun 588 sebelum masehi, ketiga mangkatnya Sang Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 sebelum masehi," tukasnya.
Dikatakannya, makna waisak tahun ini adalah "Mencintai Kehidupan Berbudaya, Penjaga, Persatuan" yang menekankan pentingnya menjaga keberagaman dan perbedaan. Karena menurutnya, menghargai dan rukun kepada sesama manusia, maka perdamaian dunia dapat terwujud.
"Tema Waisak tahun ini mencintai kehidupan berbudaya, penjaga persatuan. Perayaan kali ini tidak ada perbedaan secara khusus cuma mungkin dari temanya saja. Makna Waisak tahun ini adalah saling menghormati, sikap dan ramah dan rukun kehidupan ini pasti akan damai. Kalau kita tidak bisa rukun dan menghargai orang lain mau menerima orang lain kita pasti cekcok dan sikap egois tidak akan pernah mendamaikan kehidupan," jelasnya.
Ia berharap perayaan Waisak tahun ini, umat manusia dapat lebih menghargai dan menghormati perbedaan. Karena menurutnya,  perbedaan merupakan anugerah kehidupan.
"Kalau kita bisa menghargai satu sama lain dan bisa memberi kepada satu sama lain. Karena apa pun latar belakang kita, kita semua sama-sama manusia. Perbedaan ada bukan untuk diperdebatkan," tukas Bikhu Silagutto. (*/zac/lim)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#waisak