TARAKAN – Memasuki musim kemarau, permukiman warga yang berdampingan dengan lahan kosong patut waswas akan terjadinya kebakaran lahan. Rabu (7/8) terjadi kebakaran lahan di tiga titik di Bumi Paguntaka yakni daerah Amal Lama, Belalung dan Perumahan PNS Juata Permai.
Analisis Kebakaran pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan, Retno Hendriyanto mengatakan, laporan pertama adanya kebakaran lahan terjadi di Pantai Amal Lama. Di mana ada lahan dekat dengan SMP 10 yang terbakar.
“Kami tidak tahu pemicu pastinya, tapi kami menduga pemicunya karena adanya batu bara di lokasi tersebut. Pada saat itu panas karena sedang musim kemarau sehingga kami menduga api berasal dari batu bara tersebut,” tuturnya, Kamis (8/8).
Pihaknya hanya bisa melakukan pemadaman terhadap lahan yang terbakar. Lahan yang di dalamnya terdapat batu bara hanya bisa dilakukan pendinginan.
“Meski kami lakukan pendinginan, tetap saja berasap, memang untuk mengatasi lahan yang di dalamnya ada batu bara harus dilakukan dengan pengerukan tanah menggunakan alat berat, namun dilihat lokasinya yang sulit dijangkau saya rasa tidak bisa dilakukan,” bebernya.
Sementara kebakaran kedua terjadi di daerah Belalung. Area tersebut kemudian ditangani oleh PMK Sektor Utara.
“Kebakaran lahan ketiga terjadi di Perumahan PNS, karena PMK Sektor Utara sedang berusaha melakukan pemadaman kebakaran lahan di Belalung, jadi kami menurunkan personel dari Mako PMK Tarakan langsung ke lokasi kebakaran lahan di Perumahan PNS,” tuturnya.
Khusus kebakaran lahan di Perumahan PNS, pihaknya mendatangi pada siang hari, namun karena lokasinya yang jauh dan akses masuk ke lokasi yang tidak ada, pihaknya berinisiatif kembali ke Mako PMK Tarakan.
“Kami mendapatkan laporan lagi kebakaran lahan di Perumahan PNS pada pukul 12.00 Wita, dikarenakan warga waswas api mulai mendekat ke perumahan, baru pulul 12.40 WITA kami bisa padamkan api di lokasi tersebut,” ucapnya.
Terkait peristiwa kebakaran lahan di Belalung dan Perumahan PNS, dirinya tidak mengetahui penyebab pastinya, namun dirinya memperkirakan adanya unsur kesengajaan.
“Kita tahu sendiri kalau musim kemarau banyak yang berusaha membuka lahan dengan cara dibakar, sehingga kami menduga peristiwa kebakaran diduga adanya unsur kesengajaan. Tapi kami harapkan itu disebabkan faktor alam saja,” tuturnya.
Dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas kegiatan membakar sampah, karena hal tersebut bisa menjadi pemicu kebakaran lahan.
“Kalau mau bakar, setidaknya diawasi, jangan sampai tidak, karena berbahaya,” ucapnya.
Salah seorang warga Kelurahan Juata Permai, Ridwan mengaku waswas dengan musim kemarau di mana aktivitas orang membuka lahan dengan cara dibakar mulai terjadi.
“Kalau lahannya tidak masalah, tapi kalau apinya sudah mendekat ke rumah warga yang kami takutkan,” ujarnya.
Dirinya mengharapkan pemerintah bisa menindak tegas pelaku pembakaran lahan yang dapat mengancam lingkungan penduduk.
“Seharusnya orang-orang seperti ini bisa dilakukan penindakan karena selain mengancam nyawa orang lain, juga mengganggu kegiatan kami karena asapnya,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan, Putri Oktaviani warga Kelurahan Amal yang menilai pembukaan lahan dengan cara melakukan pembakaran selain membahayakan orang lain juga mencemari udara. “Seharusnya mereka paham bahwa membuka lahan dengan cara membakar bukanlah solusi yang baik, karena selain membahayakan orang lain juga mencemari udara sekitar,” imbuhnya. (jnr/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan