Peranan bintara pembina desa (babinsa) Kodim 0907 Tarakan sebagai pendamping kelompok tani (poktan) sangat penting dalam mewujudkan swasembada pangan. Babinsa bisa menjadi penyambung lidah poktan terkait kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam upaya mewujudkan swasembada pangan di Bumi Paguntaka.
—JANURIANSYAH—
MESKI hujan sempat mengguyur Bumi Paguntaka pada Senin (9/9), tidak membuat para babinsa Kodim 0907 Tarakan bersama Poktan Mapan Sejahtera menghentikan kegiatan panen padi di area sawah seluas 1 hektare di RT 07, Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur.
Keakraban terlihat antara babinsa dan para anggota Poktan Mapan Sejahtera selama memanen padi. Memang sejak beberapa tahun terakhir bersama-sama, bersinergi dalam pengembangan pertanian Kota Tarakan.
“Sejak adanya instruksi dari pusat di mana Panglima TNI dan Kementerian Pertanian melakukan MoU untuk menyukseskan program pemerintah pusat dalam meningkatkan program swasembada pangan nasional khususnya padi, jagung dan kedelai (pajelai), babinsa kami turun langsung untuk memberikan pendampingan kepada poktan yang ada di Tarakan,” tutur Danramil 0907/01 Tarakan Timur Mayor Inf Sarwono.
Pendampingan yang dilakukan oleh babinsa terdiri dari penyuluhan kepada poktan terkait bagaimana caranya untuk meningkatkan hasil pertanian terutama tiga jenis pangan yakni padi, jagung dan kedelai.
“Apa yang mereka butuhkan, kami upayakan memfasilitasinya, bahkan babinsa kami ikut turut langsung dalam setiap proses pertanian yang dilakukan poktan, mulai dari pembukaan lahan, penanaman hingga memanen hasil pertanian,” ucapnya.
“Kita tahu sendiri, untuk mewujudkan swasembada pangan di Kota Tarakan tidaklah mudah, karena banyak faktor yang menghambat, mulai dari ketersediaan lahan pertanian yang kurang, fasilitas penunjang pertanian yang kurang dan banyak lagi faktor penghambat lainnya. Yang tentunya perlu ada solusi dalam menyelesaikan hambatan ini,” ucapnya.
Sementara salah satu perwakilan Poktan Mapan Sejahtera, Hamzar mengatakan, kehadiran TNI dalam kegiatan pertanian merupakan hal yang sangat membantu petani. Terutama petani yang baru akan mulai bertani.
“Mereka (babinsa) membimbing kami dalam kegiatan pertanian, tentu ilmu yang diberikan tersebut sangat membantu kami dalam mengembangkan pertanian menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.
Pria yang mengaku sudah bertani sejak tahun 1975 ini juga menilai banyak hal yang menjadi kendala petani terselesaikan berkat bantuan babinsa.
“Sejauh ini padi IR-16 yang kami tanam bersama babinsa menghasilkan padi yang cukup banyak pada sawah seluas 1 hektare, yakni sebanyak 1 ton lebih. Di mana panennya dilakukan 3 bulan kemudian setelah ditanam,” ujarnya.
Terkait hama, sejauh ini, petani Tarakan hanya menghadapi hama dari ulat dan burung pipit. Sementara pasokan air di sawah mengandalkan aliran air yang turun dari dataran tinggi.
“Alhamdulillah kalau soal air tidak ada kendala, kami berharap sinergi antara Poktan Mapan Sejahtera dan TNI bisa terus berjalan. TNI sangat membantu kami dalam mengembangkan pertanian di Tarakan,” ucapnya.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DP3) Tarakan Elang Buana mengapresiasi sinergitas TNI dengan Poktan. Dirinya menilai keberadaan babinsa ini juga ikut membantu DP3 dalam hal penyuluhan kepada petani mengingat saat ini penyuluh petani di DP3 terbatas.
“Jumlahnya ada sekitar 13 penyuluh yang ada di DP3, itu pun masih dibagi pada penyuluh pertanian, pangan dan perikanan,” bebernya.
Terkait keinginan swasembada pangan di Bumi Paguntaka, dirinya nilai hal tersebut bisa dilakukan asalkan tersedia lahan pertanian yang cukup, tersedia air, dan faktor-faktor lain penunjang kegiatan pertanian.
“Mengingat Tarakan dengan jumlah penduduk yang terbanyak di Kaltara yakni sekitar 256 ribu jiwa dan bertambah 10 ribu jiwa setiap tahunnya, setidaknya membutuhkan lahan pertanian khusus padi lebih dari 3 juta hectare. Bila hal ini dipenuhi tentu bukan tidak mungkin bisa swasembada, perlu diketahui saat ini lahan yang digunakan untuk pertanian ada sekitar 70 hingga 80 hektare saja di Tarakan,” bebernya.
Namun baginya hal itu sulit, mengingat Bumi Paguntaka merupakan wilayah berupa pulau yang dikelilingi lautan. Selain itu faktor lain yang memengaruhi pertanian tidak lain ketersediaan air.
“Saat ini Tarakan baru memenuhi 5 persen kebutuhan akan beras yang dihasilkan dari petani lokal, sementara sisanya 95 persen masih dipenuhi dari luar Tarakan. Namun kami tetap optimistis untuk mengurangi jumlah ketergantungan ini, dengan memaksimalkan petani yang ada,” ucapnya.
Keberadaan TNI dengan babinsa diharapkan dapat meningkatkan hasil panen padi Poktan Mapan Sejahtera. “Sinergi TNI dengan Poktan kami harapkan bisa berjalan terus, dari pihak pemerintah siap mendukung apa saja yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan hasil pertanian di Kota Tarakan,” ulasnya. (***/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan