SUNGGUH teriris hati ini ketika melihat anak yang masih berusia 1 tahun 8 bulan ini harus menanggung sakit, yang belum tentu kuat dirasakan orang dewasa. Tapi inilah yang dihadapi bocah laki-laki, yang memiliki nama lengkap Juan Christian Kairos. Ia merupakan warga RT 19, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Tarakan Barat.
Melihat secara fisik, bocah ini terlihat sehat dan aktif bermain. Lincah, seperti balita pada umumnya. Tapi siapa sangka, begitu bajunya dibuka, terlihat sebuah plastik transparan. Lebih sering disebut plastik es batu.
Terlihat jelas menggantung di perut Juan, dengan bantuan selang kecil untuk merekatkannya. Diperhatikan lebih saksama, ada benjolan yang muncul tepat di bagian pinggang, sebelah kiri. Berwarna merah, itu adalah usus yang sengaja dimunculkan di atas permukaan perut Juan.
“Sebenarnya ada kantong plastik dari rumah sakit, tapi kasihan karena direkatkan jadi cepat berkeringat. Makanya kami ganti pakai plastik es batu,” kata ibunya.
Lahir di Tarakan, tepat 4 Januari 2018 lalu, bocah laki-laki ini lahir normal. Namun menginjak usia 3 bulan, ibunya melihat perut anak pertamanya ini gembung. Sempat ia mengira putra semata wayangnya ini masuk angin.
Dibawalah ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, hingga dilakukan pemeriksaan di Surabaya. Dari analisis dokter yang memeriksa, disampaikanlah bahwasanya terdapat penyempitan usus. Atau dalam bahasa medisnya disebut atreasia ani.
Solusinya, dioperasi. Tapi orang tua mana yang sampai hati melihat badan anak berusia 3 bulan, terbaring di meja operasi dan disayat pisau bedah. “Katanya mau dicungkil. Tapi bapaknya belum siap, karena anak masih sekecil itu mau diopersi. Bapaknya bilang, nantilah tunggu setahun,” kata ibunya Juan.
Keluarga pun memutuskan agar operasi ditunda. Penundaan operasi rupanya memberikan dampak buruk. Usus balita ini tidak memiliki saraf. Untuk buang feses melalui usus pun cukup sulit.
Apalagi untuk Juan, yang masih sangat belia untuk menahan rasa sakit. Setiap ingin mengeluarkan feses atau kotoran, Juan selalu menangis, ia kesakitan. Untuk membuang feses saja, badannya membiru.
“Kadang seminggu, 2 minggu baru buang air besar. Itu pun mengejang kuat, sampai biru badannya. Menangis,” cerita ibunya.
Juni 2019, Juan pun harus dioperasi untuk pembuatan saluran pembuangan, melalui perutnya. Awal yang tak enak bagi kedua orang tuanya, melihat Juan harus membuang feses melalui perutnya.
Setelah operasi, Juan tetap aktif bermain. Tidak sakit. Buang feses pun lancar, meski tidak normal seperti anak-anak pada umumnya. “Awalnya takut, karena pasti sakit. Kasihan juga. Jadi kalau dia mau BAB, lewat samping,” kata ibunya.
Rencananya Desember mendatang, Juan dijadwalkan dioperasi kembali agar dapat membuang feses lewat anus. Agar normal, seperti anak-anak pada umumnya.
Tapi ada kecemasan di hati kedua orang tuanya. Saat ini, orang tuanya tengah berjuang agar dapat perubahan status peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), dari peserta penerima upah (PPU) ke penerima bantuan iuran (PBI) dari pemerintah.
Sebelumnya, ayah Juan bekerja di salah satu perusahaan swasta yang cukup terkenal di Tarakan. Segala biaya pengobatan Juan, ditanggung oleh asuransi perusahaan. Tapi sayangnya, ayah Juan sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut. Tidak ada lagi asuransi yang menanggung biaya pengobatan Juan.
“Dulu orang kantor bilang, bapaknya sering minta izin karena memang waktu itu anaknya ini sering kambuh. Jadi setiap kambuh, bapaknya minta izin sampai seminggu. Karena bapaknya kerjanya di Sebatik. Jadi bapaknya berhenti kerja, makanya asuransi juga ditutup,” jelasnya.
Untuk meringankan biaya pengobatan Juan, orang tuanya bermaksud ingin menjadi peserta jaminan yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “Jadi belum ada BPJS, karena bulan 12 mau dioperasi lagi. Mau bayar mandiri juga kami tidak bisa, karena bapaknya sekarang hanya ayak kerikil,” katanya.
Jangankan untuk biaya operasi, untuk membeli susu Juan saja, ayahnya ayak batu kerikil di Jembatan Kuning, Tarakan Utara. Dalam hal ini pun besar harapan kedua orang tua Juan mendapatkan uluran tangan dari pemerintah. “Berharap BPJS bisa diaktifkan sebelum Juan dioperasi,” harapnya.
Ketua RT 19, Karang Anyar Pantai, Jonian mengatakan ia sudah mengusulkan data warganya ini ke kader JKN-KIS BPJS Kesehatan Tarakan, yang bertugas di wilayah Karang Anyar Pantai. “Sudah kami usulkan ke kader BPJS yang mendata, dan memang butuh proses. Karena kalau keluarga ini mau mandiri juga tidak mampu. Saya sempat ke Dinsos (Dinsos Tarakan) juga, tapi belum sempat ketemu, karena sedang tidak di tempat saat ke kantornya. Kartu keluarga (KK) juga sudah jadi, karena kemarin sempat terkendala di KK-nya,” jelas Pak RT.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tarakan dr. Wahyudi Putra Pujianto mengatakan perpindahan segmen kepesertaan ke PBI bisa dilakukan. Misalnya warga yang merasa tidak mampu, cukup melaporkan diri melalui pemerintah.
“Melalui dinkes, dinsos, atau kepala daerahnya. Kalau didaftarkan pemerintah ke kami, itu pasti kami terima. Kami pasti masukkan ke PBI. Meskipun misalnya yang bersangkutan berada pada segmen PPU, tapi yang sudah enggak atau tidak bekerja lagi atau sudah tidak dibayarkan lagi oleh perusahaannya,” jelas Wahyudi, kemarin (19/9).
Kepesertaan PBI terpusat di dinsos masing-masing daerah, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. “Kalau misalnya enggak ketemu kepala daerahnya, bisa ke dinas sosial, melaporkan. Nanti dinas sosial yang memverifikasi. Kalau secara umum, PBI daerah tidak mengharuskan pesertanya tidak mampu. Tetapi, validasi sekarang ini dilakukan dinsos, mengklasifikan mampu atau tidaknya. Kalau di kami, ketika diserahkan ke kami datanya, kami terima. Jika butuh penjelasan lebih luas bisa bertanya pada kader JKN kami,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimatan Utara (Kaltara) dr. Franky Sientoro, Sp. A, mengatakan, perawatan untuk kasus ini harus mengutamakan kebersihan, agar tidak mudah terinfeksi.
“Kasus ini namanya atreasia ani, ususnya tersumbat atau belum terbentuk. Biasanya usia sekitar 3 tahun, dioperasi dan disambung kembali. Karena buang kotoran lewat perut, jadi harus rutin dibersihkan supaya tidak terinfeksi. Itu ada kantong plastik khusus dari rumah sakit, tapi tidak masalah kalau pakai plastik seperti es batu yang penting bersih,” terangnya singkat.(***/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan