Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dijatah 200 Ribu Lembar

uki-Berau Post • 2020-08-19 19:58:16
STOK TERBATAS: Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara Amran Ardiyan memperlihatkan UPK RI ke 75, Selasa (18/8).
STOK TERBATAS: Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara Amran Ardiyan memperlihatkan UPK RI ke 75, Selasa (18/8).

PAKAIAN adat salah satu suku di Kalimantan Utara, suku Tidung, terpilih menjadi desain uang edisi khusus Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia (UPK 75 Tahun RI) berbentuk uang kertas pecahan Rp 75.000.

Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Bumi Benuanta. Meskipun sempat menuai kritikan di media sosial (Medsos) lantaran dianggap budaya China.

Bank Indonesia (BI) pun memberikan penjelasan terkait pemilihan unsur kebhinekaan tersebut. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Marlison Hakim, untuk menetapkan budaya Nusantara, Bank Indonesia terlebih dulu melakukan diskusi dengan pihak-pihak terkait. Mulai dari budayawan, sejarawan hingga pemerintah daerah yang terpilih.

“Untuk menetapkan budaya Nusantara ini, kami tentunya melakukan berbagai FGD (Forum Group Discution) dengan beberapa pihak terkait,” ujar Marlison, Selasa (18/8).

Menurut Marlison, pakaian adat yang ditampilkan berasal dari sembilan daerah. Dengan pertimbangan yang belum pernah ditampilkan pada uang yang diterbitkan Bank Indonesia.

Dari wilayah barat terpilihlah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Riau dan Jawa Tengah. Sementara dari wilayah Tengah diwakili Kalimantan Barat, Gorontalo dan Kalimantan Utara. Untuk wilayah timur terpilih Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua.

“Untuk menggambarkan pakaian adat ini kita tampilkan anak-anak asli dari daerah tersebut. Sehingga kita gambarkan keanekaragaman dari sisi penduduk dan juga budaya yang ditampilkan dari pakaian adat daerah,” tegasnya.

Sebagai contoh, kata Marlison, untuk di Papua, Kalimantan Utara dan Gorontalo, pihaknya melakukan koordinasi dan verifikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan dan Gorontalo, serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Adat Tidung dan Budaya.

Selanjutnya, dilakukan verifikasi dan pembahasan. Lalu digabungkan dalam sebuah desain gambar mata uang ini. Kemudian tiga tema digabungkan semua, jadilah sebuah desain, baik tampak depan yang menggambarkan tentang uang ini.

Untuk kebhinekaan, tidak hanya digambarkan dengan pakaian adat daerah. Tapi digambarkan juga dengan unsur khas daerah dengan nemampilkan tiga kain, yakni kain Gringsing Bali, batik Kawung Jawa dan Songket Sumatera Selatan, ditambah Gunungan.

Di pihak lain, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara yang juga Kepala Tim Sistem Pengawasan Pengelolaan Uang Rupiah (SP PUR) dan Manajemen Inten Amran Ardiyan, Kalimantan Utara hanya mendapatkan kuota 200 ribu lembar dari BI. Hingga batas waktu penukaran yang ditetapkan 3 September, kuota sudah terpenuhi.

“Yang sudah verifikasi sampai dengan saat ini sudah penuh sampai 3 September. Jadi, 150 orang jatahnya per hari sampai 3 September,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan ada di kantor pusat. Pihaknya hanya melaksanakan kebijakan dan berlaku sama di kantor perwakilan BI lainnya. Untuk pendistribusiannya di Kalimantan Utara, menurut Amran, tidak membagi per daerah. Akan tetapi, siapa yang cepat masuk ke aplikasi PINTAR, maka berhak yang mendapatkan.

Namun harus melalui proses verifikasi untuk memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mencegah, satu orang mendapatkan lebih dari satu lembar. Karena satu KTP, satu lembar.

KPwBI Provinsi Kaltara telah membuka penukaran UPK RI ke 75 ini mulai Selasa (18/8), dengan  membatasi jam pelayanan mulai pukul 08.00 – 11.00 Wita, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Suriansyah, salah satu warga Tarakan, datang ke Kantor KPwBI Provinsi Kaltara untuk menukarkan uang edisi khusus, kemarin (18/8). Ia tertarik memiliki uang tersebut, selain edisi khusus memperingati HUT kemerdekaan RI ke 75, juga terkesan ada busana Adat Tidung yang terpampang dalam desain uang tersebut.

“Pertama untuk memeringati 17 Agustus yang ke 75 tahun kemerdekaan kita. Kebetulan momennya sangat tepat sekali, pemerintah mengeluarkan nominal uang Rp 75.000 ini. Kedua antusias dari teman-teman maupun warga Tarakan, kebetulan salah satu gambar yang tertera di nomimal uang itu merupakan anak Tarakan. Pakaian adat yang digunakan pun Adat Tidung,” ujarnya.

Terkait busana Adat Tidung yang ditampilkan, menurut budayawan Tarakan, Datu Norbeck, busana tersebut diperuntukkan bagi pengapit pengantin Tidung.

“Jadi itu baju pengapit pengantin. Dalam busana itu, termasuk dalam rangkaian baju yang disebut Sina Beranti. Jadi ada beberapa jenis busana pengantin Tidung itu, salah satu namanya Sina Beranti,” bebernya.  

Datu Norbeck menegaskan, busana ini tidak ada hubungannya dengan budaya China. Hanya saja orang  Tidung Tarakan menyebut kata China dengan Sina. Sehingga, jika diartikan Sina Beranti adalah China berhenti, yang lahir dari cerita zaman dulu.

“Tapi tidak ada hubungan dengan budaya China. Konon satu ketika baju itu awal tidak ada nama. Tidak macam kita sekarang bikin desain, kasih nama dulu. Orang dulu bikin saja, berkembang, orang suka, sering dipakai berulang-ulang, sampai satu ketika orang ramai-ramai mengantar pengantin laki-laki ke tempat perempuan, ada serombongan orang China baru datang,” bebernya.

Busana pengapit pengantin Tidung tersebut memiliki dekorasi tambahan lainnya. Dibeberkan Datu Norbek, sepert topi yang sebut Jamong Punsok Melaka atau diartikan Jamong puncak Nanas.

Perbedaannya antara Jamong yang dipakai pengapit dan pengantin ada pada susunan Punsok Melaka.

“Kalau yang dipakai pengantin, Punsoknya dua susun. Kalau yang di foto cuma satu, itu pengapit punya, bukan pengantin. Tak ada hubungannya dengan negeri Melaka di Malaysia, Melaka ini maksudnya Nanas,” tutupnya. (mrs/uno)

Editor : uki-Berau Post
#Seputar Kaltara