Telapak kaki hasil inovasi Alfiana Fitri Istiqomah dkk membuat mereka yang diamputasi seperti punya kaki kembali. Harganya jauh lebih murah daripada produk impor, tengah dijajaki kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar pembeliannya bisa di-cover.
M. HILMI SETIAWAN, Kabupaten Bogor
TESTIMONI itu membuat semangat Alfiana Fitri Istiqomah kian tinggi. “Rasanya kok enak, ada mental-mentulnya,” kata Alfiana Fitri Istiqomah, menirukan pengakuan satu di antara empat orang yang diminta menjajal telapak kaki buatan setelah menjalani amputasi.
Dengan bahan karbon yang kuat, telapak kaki buatan tersebut mampu menahan beban hingga 200 kg. “Orang itu mengaku berjalan nyaman seperti punya telapak kaki kembali,” papar CEO PT Amputee Technology yang memproduksi telapak kaki buatan tersebut di sela InaRI Expo 2023 beberapa waktu lalu.
Inovasi produksi perusahaan rintisan binaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu melalui proses pengkajian yang panjang. Dimulai pada 2018. Saat itu tim dari Universitas Diponegoro berkolaborasi dengan tim dari Poltekkes Surakarta dan Universitas Negeri Semarang.
Kajian yang dilalui, di antaranya, material, desain, dan biomekanika.
Ada produk serupa dari Jerman yang juga menjadi rujukan. Memasuki 2021, produknya mulai terwujud. Dan, dua tahun berselang, produknya sudah jadi dan telah dijual untuk masyarakat umum.
Alfiana, jebolan S-1 Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Kemenkes Surakarta, menyebut kebutuhan akan telapak kaki buatan di Indonesia sangat tinggi. Khususnya bagi orang-orang yang baru menjalani amputasi.
Produk di pasaran selama ini semuanya impor. Dengan harga yang lumayan mahal, yaitu Rp 15 juta hingga Rp 20 jutaan. Nama resmi inovasinya adalah The Energy Storage and Return (ESAR) Foot Prosthesis. Sesuai dengan namanya, telapak kaki buatan inovasi Amputee Technology itu mampu menyimpan energi (energy storage).
Jangan dibayangkan kemampuan menyimpan energi itu seperti sebuah power bank atau UPS. Energi yang dimaksud adalah energi yang dikeluarkan seseorang ketika berjalan.
Dengan tingkat elastisitas yang dibuat sedemikian rupa, tenaga dari seseorang saat berjalan tersimpan di dalam material karbon telapak kaki buatan itu. Setelah itu, energi tadi dilepaskan dan membantu orang tadi untuk melangkah. Kinerjanya mirip seperti pegas.
Ketika ditekan menggunakan tangan, telapak kaki buatan itu terasa keras sekali. Hampir tidak bergerak. Tapi, saat digunakan, telapak kaki buatan itu dengan mudah menyimpan tenaga seseorang.
“Karena kemampuan menyimpan dan melepas tenaga itu, si pengguna tidak gampang capek ketika menggunakan alat ini,” tuturnya kepada Jawa Pos.
Inovasi telapak kaki buatan itu, lanjut Alfiana, secara keseluruhan memiliki tujuh keunggulan. Di antaranya, mampu menyimpan energi atau energy storage. Kemudian, mampu melepaskan energi yang disimpan itu menjadi energi dorong. Dua keunggulan itu membuat seseorang bisa berjalan sempurna seperti orang umumnya.
Keunggulan berikutnya adalah mampu meminimalkan energi metabolisme, meningkatkan performa gaya berjalan, dan penggunaan bahan material prepreg carbon fiber.
Selain itu, keunggulan selanjutnya adalah harga lebih terjangkau dibandingkan produk impor dan mendukung penggunaan produk dalam negeri.
Menurut Alfiana, selama ini orang-orang yang kehilangan telapak kaki menggunakan alat pengganti yang disebut solid foot. Kelemahan alat itu adalah si pengguna tidak bisa bergerak dengan lincah. Gerakan telapak kaki mereka kaku.
Telapak kaki buatan yang selama ini digunakan juga sering memicu terjadinya kesalahan pola jalan. Kemudian, membuat metabolisme si pengguna tidak teratur. Buntutnya, si pengguna gampang capek.
Sampai saat ini, ESAR sudah terjual sekitar lima unit. Harga satu unitnya dipatok Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Alfiana berharap telapak kaki buatan itu bisa membantu masyarakat lebih luas. Apalagi, saat ini mereka sedang menjajaki kerja sama dengan BPJS Kesehatan supaya nanti ESAR bisa di-cover BPJS Ketenagakerjaan.
Dalam waktu dekat, paten untuk desain industri dan paten merek Amputee Technology diharapkan sudah keluar. Selain itu, hasil analisis penggunaan alat tersebut akan ditulis dalam jurnal-jurnal ilmiah dalam maupun luar negeri. “Akhirnya, ketergantungan akan produk impor bisa dikurangi lewat produk inovasi ini,” paparnya. (*/c19/ttg/jpg/uno)
Editor : uki-Berau Post