Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Krisis Air Bersih Mengintai, Pesisir Selatan Kotim Dibayangi Ancaman Intrusi Air Laut

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Ilustrasi kemarau.
Ilustrasi kemarau.

Advertisement

 SAMPIT — Selain ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ancaman serius lainnya kini tengah mengintai wilayah pesisir selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyoroti adanya potensi penurunan debit air sungai secara drastis di kawasan tersebut seiring dengan masuknya musim kemarau panjang.

Jika penyusutan air sungai terus berlanjut tanpa adanya pasokan hujan yang berarti, fenomena intrusi air laut dipastikan akan terjadi. Masuknya air laut ke aliran sungai ini dapat menyebabkan air berubah menjadi payau atau asin. Dampaknya, sumber air permukaan yang selama ini diandalkan warga tidak akan layak lagi digunakan untuk konsumsi maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menyikapi berbagai potensi risiko tersebut, pemerintah daerah bersama BMKG mengimbau keras agar seluruh lapisan masyarakat mulai bijak dan menghemat penggunaan air bersih sejak dini. Selain itu, warga juga diingatkan secara tegas untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan dengan tidak sekali-kali membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar demi mencegah karhutla. Meskipun rintik hujan masih sesekali menyapa, status wilayah Kotim saat ini telah sepenuhnya berada dalam mode siaga menghadapi kemarau panjang.

Advertisement

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa fenomena hujan yang masih terjadi saat ini merupakan bagian alami dari fase peralihan menuju musim kemarau yang lebih stabil." Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak salah mengartikan sisa-sisa hujan tersebut sebagai tanda kembalinya musim penghujan. Pada fase awal kemarau, hujan memang masih bisa terjadi, namun frekuensi dan intensitasnya dipastikan akan terus menurun," katanya.

Kondisi cuaca di Sampit belakangan ini memang terbilang fluktuatif. Pada siang hari, suhu udara terasa sangat menyengat dan gersang, namun menjelang sore atau malam hari, langit mendadak mendung dan menumpahkan hujan ringan. Berdasarkan analisis klimatologis BMKG, pasokan curah hujan di Kotim akan terus menyusut drastis dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dari kondisi normal, dengan estimasi durasi mencapai 100 hingga 120 hari. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Bakar Mantan Kekasih Gegara Tak Terima Diputus, Sayidi Dituntut 5 Tahun 6 Bulan Penjara

Bakar Mantan Kekasih Gegara Tak Terima Diputus, Sayidi Dituntut 5 Tahun 6 Bulan Penjara

Bakar Mantan Kekasih Gegara Tak Terima Diputus, Sayidi Dituntut 5 Tahun 6 Bulan Penjara SAMPIT – Aksi nekat Sayidi Maulana bin Suyadi yang

Wujudkan Gedung Serbaguna Raksasa 15 Ribu Penonton, Pemkab Kotim Gelontorkan Rp149 Miliar

Wujudkan Gedung Serbaguna Raksasa 15 Ribu Penonton, Pemkab Kotim Gelontorkan Rp149 Miliar

Wujudkan Gedung Serbaguna Raksasa 15 Ribu Penonton, Bupati Halikinnor Gelontorkan Rp149 Miliar SAMPIT — Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Ti

Teror Asap Pekat Kian Mengancam Sampit, Warga Meringis Keluhkan Mata Pedih dan Dada Sesak

Teror Asap Pekat Kian Mengancam Sampit, Warga Meringis Keluhkan Mata Pedih dan Dada Sesak

Kabut asap di Sampit, Kabupaten Kotawaringin, Senin pagi (12/10/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer