PONOROGO – Petaka terjadi di Sidoharjo, Jambon, Ponorogo, Jumat (15/5). Mercon yang dibuat sekumpulan pemuda desa setempat tiba-tiba meledak. Satu orang meninggal dunia di lokasi kejadian. Delapan lainnya terluka. ‘’Ini sangat kami sayangkan. Ternyata tetap ada dan menimbulkan korban,’’ kata Kapolres Ponorogo AKBP Arief Fitrianto.
Arief memimpin langsung olah tempat kejadian perkara (TKP). Ledakan terjadi sekitar pukul 10.00. Total sembilan orang terlibat pembuatan mercon. Bahkan, ada yang masih anak-anak. Mercon dibuat di rumah Lamidi, 45. Rencananya untuk balon udara yang hendak diterbangkan Idul Fitri nanti. ‘’Para korban ini masih keluarga. Ada bahan mercon, mereka mencoba membuat ramai-ramai,’’ ungkapnya.
Penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan polisi. Namun, dari informasi awal, mercon diduga meledak saat coba diperbaiki para pemuda itu. ‘’Awalnya tidak meledak. Saat coba diperbaiki, akhirnya meledak,’’ imbuh Arief.
Ledakan mercon melukai sembilan orang tersebut. Tomi Saputra, 16, pelajar, meninggal di lokasi. Sementara, Fahlul Koiri, 22; Pono, 27; dan Lamidi mengalami luka berat. Lima orang lainnya luka ringan. Berbagai barang bukti telah diamankan. Polisi hingga kemarin sore telah memerika sembilan saksi. ‘’Kami selalu mengimbau tidak membuat mercon dan menerbangkan balon udara. Tradisi ini harus dihilangkan,’’ tegasnya.
Informasi di lapangan, para korban dirawat di RSUD dr Harjono dan RSU Aisyiyah. Richi Handriawan, 22, termasuk salah satu korban luka ringan yang dirawat di RSUD. Dia mengalami luka bakar 18 persen pada kaki dan tangannya. Richi juga mengalami trauma. ‘’Panjang rentengan merconnya satu meter untuk balon. Saya tidak tahu pasti kejadiannya. Tiba-tiba ada asap dan terjadi ledakan,’’ tuturnya.
Sutini, ibunda Richi, terkejut mendapati anaknya pulang ke rumah dalam kondisi berdarah-darah. Dia langsung membawa sang anak ke rumah sakit. Dia pun baru tahu anaknya berada di rumah Lamidi lantaran merakit petasan. ‘’Saya dengar suara ledakan, tahu-tahu anak sudah lari pulang dengan kondisi berdarah,’’ terangnya. (naz/c1/sat)
Editor : izak-Indra Zakaria