Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pakai Visa Nonhaji, Dua WNI Nyaris Telantar

Indra Zakaria • Rabu, 29 Mei 2024 - 15:29 WIB
MELUBER: Jamaah haji Indonesia mengikuti pengajian rutin berbahasa Indonesia yang disampaikan Ustad Ariful bahri di dalam Masjid Nabawi, Madinah, setelah salat Magrib, Sabtu (25/5). (ARIS IMAM M)
MELUBER: Jamaah haji Indonesia mengikuti pengajian rutin berbahasa Indonesia yang disampaikan Ustad Ariful bahri di dalam Masjid Nabawi, Madinah, setelah salat Magrib, Sabtu (25/5). (ARIS IMAM M)

MADINAH – Tidak salah jika Kementerian Agama (Kemenag) getol mengampanyekan larangan penggunaan visa nonhaji. Sebab, tidak sedikit warga Indonesia yang ingin berhaji via jalur ’’lain’’. Mereka akhirnya mengalami kejadian tak mengenakkan. Bahkan, tak sedikit yang tidak diurus pihak yang mengajak. Akhirnya mereka ditangani Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Hingga Senin (27/5), ada dua warga Indonesia yang memiliki visa nonhaji ditangani PPIH Arab Saudi Daker Madinah. Berdasar laporan yang diterima tim perlindungan jamaah (linjam), satu WNI berasal dari Tuban, Jawa Timur. Namanya Jamik. Satunya lagi adalah warga Kudus bernama Suci. ’’Keduanya sudah dijemput pihak yang mendampingi mereka,’’ kata Kasi Perlindungan Jamaah (Linjam) PPIH Arab Saudi Daker Madinah Ahmad Hanafi.

Kejadian yang dialami dua WNI itu nyaris persis. Sama-sama tertinggal rombongan di area Masjid Nabawi. Mereka lalu tak bisa kembali ke penginapan karena tidak hafal jalan. Seperti yang dialami Jamik. Nenek sepuh itu sempat lama berdiam diri di kawasan Nabawi. Sampai akhirnya dia ditemui seorang mukimin (warga Indonesia yang bermukim di Saudi). Jamik lantas diantar ke kantor PPIH Arab Saudi Daker Madinah di kawasan Sayyid As Shouhada.

Saat tiba, sang nenek terlihat lelah. Nyaris tak ada identitas apa pun yang dibawanya sehingga sulit diidentifikasi. Sampai akhirnya, mencuat sebuah unggahan di media sosial. Dinarasikan, nenek itu adalah jamaah haji yang terpisah dari rombongan serta menjadi korban pencopetan dan ditemukan tanpa identitas.

Akhirnya, setelah ditelusuri lebih lanjut oleh PPIH Arab Saudi, sosok sang nenek itu diketahui. Dia bukan jamaah haji reguler 2024 yang terdata di Kementerian Agama (Kemenag) RI. Diduga, dia adalah peserta rombongan jamaah haji yang menggunakan visa nonhaji.

Sang nenek sempat diinapkan di kantor PPIH Arab Saudi Daker Madinah sambil menunggu pihak keluarga atau penanggung jawab rombongan. Sebenarnya tim PPIH sudah menginfokan agar Jamik dijemput penanggung jawabnya. Namun, ternyata dia dijemput wakil keluarganya.

Kepala PPIH Arab Saudi Daker Madinah Ali Machzumi memastikan nenek itu bukan jamaah haji reguler 2024. ’’Meski demikian, tetap kami bantu dan coba fasilitasi untuk dikembalikan ke rombongan yang membawanya ke sini. Sebab, bagaimanapun beliau adalah warga negara Indonesia,” terangnya.

Cerita sama dialami Suci. Dia juga diantarkan orang tak dikenal ke kantor PPIH Arab Saudi Daker Madinah. Yang menjemputnya bukan penanggung jawab perjalanan, melainkan seseorang yang mengaku sebagai pendamping.

PAKAI APLIKASI

Satu aplikasi lagi diluncurkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Namanya Kawal Haji. Sesuai namanya, aplikasi itu dirancang untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dialami jamaah haji. Mulai problem jamaah haji terpisah dari kloter hingga barang hilang. Bahkan, laporan sandal jepit hilang pun boleh.

Untuk menggunakan aplikasi itu, masyarakat atau jamaah haji bisa mengunduh melalui Play Store atau handphone berbasis Android. Untuk pengguna iOS, saat ini aplikasi masih diproses. Setelah diunduh, jamaah haji bisa memasukkan nomor paspor. Sementara itu, masyarakat umum bisa log in dengan akun Google. Di dalam aplikasi itu terdapat fitur untuk menyampaikan permasalahan jamaah haji. Nanti ada admin yang mengawasi penyelesaian persoalan.

Staf Khusus Menteri Agama Wibowo Prasetyo menjelaskan, aplikasi itu merupakan instruksi dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang ingin memperluas partisipasi masyarakat dalam perbaikan pelaksanaan haji. ’’Ini melengkapi berbagai fitur haji, seperti WA Center,’’ jelasnya.

Dalam aplikasi Kawal Haji, jamaah dan masyarakat bisa melaporkan berbagai masalah. Misalnya, jamaah haji terpisah dari rombongan atau kloter. ’’Lapor saja ke Kawal Haji,’’ terangnya.

Aplikasi tersebut dilengkapi fitur lokasi. Saat fitur itu diaktifkan, petugas bisa mengetahui lokasi jamaah haji. ’’Begitu pun bila kehilangan barang, bisa ditemukan oleh petugas atau malah bantuan dari jamaah haji. Misalnya, lapor ke Kawal Haji ada barang tanpa pemilik,’’ urainya.

Salah satu barang yang paling sering hilang saat beribadah haji adalah sandal jepit. Kendati tampak sepele, sandal jepit memiliki fungsi vital saat pelaksanaan haji. Sebab, sandal itu dapat melindungi telapak kaki jamaah dari sengatan matahari di Tanah Suci. ’’Petugas mempersiapkan bahkan untuk persoalan sekecil itu,’’ paparnya.

Di sisi lain, Kasubdit TIK Pinmas Kemenag Irfan Sembiring menuturkan, aplikasi itu telah diunduh oleh 5 ribu lebih pengguna. Dari jumlah tersebut, 1.933 pengguna adalah jamaah haji. ’’Untuk iOS masih proses. Sebab, iOS ini sangat ketat persyaratannya,’’ jelas mantan koordinator Media Center Haji Daker Madinah angkatan 2018 itu. (idr/c18/oni/jpg/dwi/k16)

 

 

Editor : Indra Zakaria