Bencana tanah longsor masih menjadi ancaman serius di Kota Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sejak Mei hingga pertengahan Juni 2025, telah terjadi 124 titik longsor di berbagai wilayah kota. Namun hingga kini, baru 77 lokasi yang berhasil ditangani.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Samarinda, Edi Susanto. Ia menyebutkan, proses penanganan dilakukan secara bertahap karena terbatasnya alat dan tenaga di lapangan. “Dari jumlah itu, baru 77 titik longsor yang berhasil kami tangani. Sisanya masih dalam proses karena keterbatasan alat dan personel,” jelas Edi.
Salah satu lokasi prioritas yang kini ditangani adalah di Jalan AW Sjahranie, Gang Kejaksaan, Kelurahan Air Hitam. Lokasi ini berada di dekat lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sehingga dianggap sangat berisiko.
“Penanganan kami prioritaskan di area yang berdampak langsung ke fasilitas umum, seperti sekolah,” ujar Edi.
Akibat longsor tersebut, aktivitas belajar mengajar di PAUD sempat dihentikan sementara. Kekhawatiran muncul dari guru dan orang tua murid karena pergerakan tanah masih terjadi dan dikhawatirkan memicu longsor susulan.
Menurut Edi, tingginya angka longsor tak lepas dari kondisi geografis Samarinda yang banyak memiliki lereng curam dan permukiman padat di tepi jurang. Ditambah lagi curah hujan tinggi dan pembangunan yang sering mengabaikan aspek mitigasi bencana.
“Samarinda secara alami rawan longsor. Saat intensitas hujan tinggi, risikonya semakin besar. Ini perlu perhatian bersama,” tegasnya. Edi menambahkan, BPBD membutuhkan tambahan personel dan peralatan berat agar penanganan longsor bisa dipercepat. Ia berharap ada dukungan lebih besar dari pemerintah daerah maupun pihak swasta.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, lereng, dan bantaran sungai agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat hujan deras. Jika ditemukan tanda-tanda seperti retakan tanah atau pohon mulai miring, warga diminta segera melapor atau mengungsi ke tempat aman.
“Pemantauan terus kami lakukan. Tapi masyarakat juga harus peka terhadap kondisi lingkungannya. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya. (kis/beb)
Editor : Indra Zakaria