SAARLAND– ’’Kai belum jadi apa-apa. Dia belum mempersembahkan apa-apa bagi klub ini (Bayer Leverkusen),’’ begitu yang sempat diucapkan salah seorang legenda Leverkusen, Michael Ballack, tentang banderol selangit attacking midfielder Leverkusen Kai Havertz. Nah, di musim ini Havertz bisa menjawab tantangan Ballack itu.
Karena, kemarin WIB (10/6) Leverkusen untuk kali pertama dalam 11 musim melangkah ke final DFB-Pokal. Tanpa Havertz yang belum sembuh dari cedera lutut, Lars Bender dkk lolos setelah mencukur klub level keempat FC Saarbruecken tiga gol tanpa balas. Spesialnya, satu dari ketiga gol itu dicetak substitusi Havertz, Lucas Alario, pada menit ke-19.
Dua gol Die Werkself, julukan Leverkusen, lainnya tercipta melalui kreasi Moussa Diaby (menit ke-11) dan Karim Bellarabi (58’). Momen bagi Havertz tersebut akan datang pada final di Olympiastadion, Berlin, 5 Juli mendatang, menghadapi pemenang antara Bayern Muenchen dan Eintracht Frankfurt yang baru bertanding dini hari tadi WIB.
Jika sudah juara, akankah wonderkid 20 tahun itu layak meninggalkan Kurtekotten, kamp latihan Leverkusen? Sampai kemarin WIB, godaan untuk mesin gol Leverkusen itu masih tinggi. Selain Manchester United dan Bayern Muenchen, Chelsea juga masih agresif membidik bintang-bintang Bundesliga usai mendapatkan Timo Werner.
Dilansir laman Evening Standard, klub milik Roman Abramovich itu disebut menyiapkan EUR 80 juta (Rp 1,27 triliun) demi Havertz. Atau, lebih rendah dari banderol EUR 100 juta (Rp 1,59 triliun) yang sudah diproklamirkan Leverkusen. Nilai besar untuk Havertz yang mempunyai kontrak berdurasi sampai musim panas 2022 mendatang.
Berkaca dari performa jebolan akademi Leverkusen, plus peluangnya memenangi gelar di musim ini, Leverkusen pun enggan berpaling dengan tawaran yang masih berada di bawah angka banderol EUR 100 juta tersebut. ’’Kami sekarang ini dalam posisi yang bagus,’’ ungkap Direktur Olahraga Leverkusen Rudi Voeller kepada stasiun televisi ARD.
Leverkusen pun mencoba untuk menggandoli rival gelandang Borussia Dortmund Marco Reus dalam perebutan gelar Pemain Terbaik Bundesliga musim lalu tersebut. ’’Kami sampai saat ini belum menyerah untuk berharap dia (Havertz) tetap tinggal bersama kami. Selanjutnya, kami pun akan berusaha memberinya kemungkinan baginya supaya bisa meningkatkan kualitasnya,’’ sambung Voeller yang pensiun bersama Leverkusen pada musim 1995 – 1996 itu.
Dalam wawancara kepada Sky, der trainer Leverkusen Peter Bosz menganggap skuadnya bermain berbeda saat bermain tanpa Havertz kemarin. Terutama dari sisi agresivitasnya. ’’Puas karena tim kami sudah mampu unggul dua gol dalam 30 menit, dan laga pun berakhir,’’ seloroh Bosz.
Meski, dengan nyinyirnya surat kabar Jerman Deutsche Welle menyebutnya bahwa hasil itu karena yang dia hadapi kemarin hanya klub yang levelnya tiga setrip di bawah Leverkusen. Beda ceritanya kalau mereka menghadapi Bayern atau Eintracht, dua semifinalis lainnya. ’’Terlepas dari semua itu, yang penting kami dapat lolos ke final,’’ sebut Bosz. (ren)
+++
…
Editor : izak-Indra Zakaria