BERGAMO– Italia bermakna penting untuk wide attacker Liverpool FC Mohamed Salah. Sebab, setelah terbuang dari Chelsea, dia langsung menjelma menjadi seorang bintang. Baik ketika dia membela Fiorentina (2015) maupun setelah pindah ke AS Roma (2015–2017).
Bisa dibilang, Italia telah membuka jalan bagi Salah kembali ke Premier League bersama Liverpool FC. Tapi, begitu sudah berkostum The Reds, julukan Liverpool, klub-klub Italia-lah yang malah memberinya kutukan. Terutama ketika bertemu di pentas Eropa.
Nah, kutukan coba dia patahkan saat bertandang ke Gewiss Stadium, Bergamo, menantang tuan rumah Atalanta BC (siaran langsung Champions TV 1 pukul 03.00 WIB). ’’Saya sudah berbicara dengannya (Salah, Red), dan yang dia rasakan masih sama (berambisi menjebol gawang klub Italia),’’ sebut tactician Liverpool Juergen Klopp, dalam sesi konferensi pers di Melwood, kandang Liverpool, tadi malam WIB.
La Dea, julukan Atalanta, bisa menjadi klub ketiga yang meneruskan kutukan Italia untuk Salah. Sebelumnya, atau pada musim pertamanya bersama Liverpool (2017–2018), dia kembali ke Roma menghadapi mantan klubnya dalam second leg semifinal. Dia harus pulang ke Liverpool tanpa gol. Padahal, di Anfield, kandang Liverpool, dia menyumbangkan 2 gol dan 2 assist!
Kota Naples menjadi saksi kedua melempemnya pemain kunci timnas Mesir tersebut dalam dua musim beruntun (2018–2019 dan 2019–2020). Bersama Salah, Liverpool tak pernah dapat menjebol gawang tuan rumah SSC Napoli dalam matchday kedua fase grup 2018–2019.
Nah, pertahanan Atalanta tak hanya bisa menyulitkan Salah. Demikian pula serangan baliknya yang dapat menyaingi kolaborasi serangan pemain-pemain LFC seperti Salah, Roberto Firmino, Sadio Mane, plus Diogo Jota. Kloppo, panggilan akrab Klopp, bahkan menyebut, kalau pada laga ini dia bisa saja mengubah pendekatan taktikalnya.
Begitu pula dengan peran Salah. Minimal, jika tidak bisa mencatatkan namanya di papan skor, Salah dapat memberikan ruang untuk rekan-rekannya membobol gawang Marco Sportiello, portiere Atalanta. Seperti yang pernah diungkapkan allenatore Atalanta Gian Piero Gasperini. Di Serie A, sebelum pindah ke LFC, Salah pernah membuatnya pusing.
Tepatnya pada musim 2016–2017, atau musim terakhir Salah di Serie A. Dalam giornata 13, Atalanta mempecundangi Salah bersama klubnya, Roma, dengan skor 2-1 di Bergamo. Salah memang tak menciptakan gol. Tetapi. pergerakannya membuat bek Atalanta Rafael Toloi melakukan handball. Sayang, bukan Salah yang jadi eksekutor penalti. Melainkan Diego Perotti.
’’Kesalahan kami cuma karena kami gagal mengendalikan Salah. Kami tahu sedikit saja kami melewatkannya, maka dia (Salah, Red) pasti akan membunuh kami,’’ seloroh Gasperson, julukan Gasperini, dilansir laman La Gazzetta dello Sport.
Attaccante Atalanta Duvan Zapata pun ikut-ikutan mengomentari head-to-head-nya lawan Salah. Dilansir laman Tuttomercatoweb, Duvan menganggap Salah sebagai salah satu role model pemain yang melesat cepat karirnya. ’’Saya melihat ini hanya soal peluang. Dia kini jadi pemain penting dan dia sudah menempuh jalur yang berbeda. Saya juga bisa seperti dia,’’ klaim Duvan.
Atalanta harus lebih waspada. Sebab, pada fase grup Liga Champions, Salah punya tradisi unik. The Pharaoh, julukan Salah, selalu mampu mengoleksi dua gol atau lebih dalam tiga matchday pertama fase grup. Dan, musim ini dia sudah merintis lagi tradisi golnya tersebut dengan satu gol ke gawang Midtjylland, 28 Oktober lalu. (ren/c13/bas)
Editor : izak-Indra Zakaria