PROKAL.CO- Di balik ambisi besar Indonesia menuju eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030, realita di lapangan justru menunjukkan kondisi yang mencemaskan. Dalam sebuah diskusi mendalam yang digelar Balikpapan Pos bersama PKBI menyambut Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, terungkap fakta pahit bahwa Indonesia kini menduduki peringkat kedua dunia dalam kasus TBC, tepat di bawah India. Kota Balikpapan pun tak luput dari ancaman ini dengan catatan 2.619 kasus sepanjang tahun 2025.
Ketua Tim Kerja Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, dr. I Dewa Gede Dony Lesmana, mengungkapkan bahwa TBC masih menjadi "musuh dalam selimut" karena pengobatannya yang memakan waktu lama, minimal enam bulan. Masalah utama muncul ketika pasien merasa membaik setelah satu atau dua bulan lalu memutuskan berhenti minum obat secara sepihak. "Ini sangat berbahaya karena bisa memicu TBC kebal obat yang jauh lebih sulit disembuhkan," tegas dokter Dewa. Selain kedisiplinan, faktor rumah yang lembap dan ventilasi buruk menjadi sarana empuk penularan melalui droplet bagi orang-orang yang tinggal serumah.
Menyadari beban berat ini, DKK Balikpapan menegaskan bahwa sektor kesehatan tidak bisa berjalan sendirian. Penanganan TBC membutuhkan gerak serempak lintas sektor layaknya saat menghadapi pandemi COVID-19. Salah satu kolaborasi yang kini menonjol adalah peran BAZNAS Balikpapan yang masuk melalui jalur sosial dan nutrisi. Wakil Ketua III BAZNAS Balikpapan, Anwar Arifin, menjelaskan bahwa pihaknya telah turun tangan merenovasi sekitar 35 rumah tidak layak huni sejak 2022 dengan anggaran Rp30 juta per unit. Langkah ini penting karena banyak pasien TBC ditemukan tinggal di hunian yang sangat tidak sehat, bahkan masih berlantai tanah.
Selain perbaikan tempat tinggal, BAZNAS juga menyalurkan insentif bulanan sebesar Rp500 ribu bagi pasien kurang mampu agar kebutuhan gizi mereka terpenuhi selama masa pengobatan. Potensi dukungan ini sebenarnya bisa jauh lebih besar, mengingat zakat di Balikpapan diprediksi mencapai Rp700 miliar, meski saat ini serapannya baru menyentuh angka 10 hingga 15 persen. Jika potensi dana umat dan CSR perusahaan bisa dimaksimalkan, percepatan eliminasi TBC bukan lagi sekadar mimpi.
Meski target eliminasi 2030 terasa kian berat tanpa sinergi yang kuat, dr. Dewa tetap optimis dan mengajak masyarakat untuk membuang rasa takut dalam memeriksakan diri. Ia mengingatkan bahwa TBC bukanlah aib dan bisa disembuhkan total asalkan ada kepatuhan dalam pengobatan serta dukungan penuh dari lingkungan keluarga. Kini, bola panas penanganan TBC ada pada sejauh mana seluruh elemen di Balikpapan, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta, mau bergerak bersama menuntaskan penyakit menular ini.(*)
Editor : Indra Zakaria