Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kartini di Garis Depan: Kisah Irma Suryani Menghidupkan Keberanian di Kalimantan Timur

Redaksi Prokal • Sabtu, 18 April 2026 - 09:09 WIB
Irma Suryani bersama sang suami yang merupakan perwira Polri dalam sebuah momen resmi. Irma kini menjadi sorotan publik sebagai salah satu penggerak aksi 21 April di Kalimantan Timur.
Irma Suryani bersama sang suami yang merupakan perwira Polri dalam sebuah momen resmi. Irma kini menjadi sorotan publik sebagai salah satu penggerak aksi 21 April di Kalimantan Timur.

 

PROKAL.CO- Bulan April selalu identik dengan semangat Raden Ajeng Kartini, namun di Kalimantan Timur, napas perjuangan itu kini menemukan wujud nyatanya pada sosok Irma Suryani. Menjelang aksi besar 21 April 2026, perempuan yang akrab disapa "Mami" ini mendadak menjadi pusat perhatian publik. Bukan sekadar penggerak massa di jalanan, Irma adalah seorang pengusaha dan pengacara bergelar Magister Hukum yang memilih melangkah keluar dari zona nyamannya demi menyuarakan aspirasi masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur.

Di balik kiprahnya yang vokal di ruang publik, Irma menyimpan sisi kehidupan privat yang penuh pengabdian sebagai istri dari seorang perwira menengah Polri yang tengah bertugas di luar negeri. Baginya, jarak dan waktu bukan sekadar rintangan fisik, melainkan ruang untuk memperkuat keteguhan hati. “Perjuangan jarak jauh, ditinggal berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ini semua dari rasa cinta, dari cinta kita dan cinta pada tanah air yang sama,” ungkapnya menggambarkan dedikasi ganda yang ia jalani.

Meskipun latar belakang keluarganya memicu diskusi mengenai netralitas institusi, Polda Kaltim menegaskan bahwa aktivitas Irma merupakan ranah pribadi. Irma sendiri memandang perannya sebagai jembatan pemahaman antara rakyat dan aparat. Di satu sisi ia berdiri di barisan massa menuntut keadilan sosial, namun di sisi lain ia tetap menjadi pendamping setia yang menghormati profesi suaminya. “Mami saksi bahwa polisi yang baik itu masih ada, dan papi adalah satu di antaranya,” tuturnya dengan penuh keyakinan.

Kehadirannya dalam penggalangan logistik aksi menunjukkan bahwa kepeduliannya melampaui kepentingan pribadi. Dengan motto hidup bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang, Irma membuktikan bahwa loyalitas kepada keluarga tidak menghalangi perempuan untuk tetap setia pada nilai-nilai keadilan.

Menjadi Kartini masa kini bagi Irma Suryani bukanlah soal mengenang sejarah dalam balutan kebaya, melainkan tentang keberanian bersikap di tengah kompleksitas zaman. Di Hari Kartini ini, ketika banyak orang hanya memutar memori masa lalu, Irma memilih untuk menuliskan versinya sendiri tentang keberanian bersuara. “Ini adalah panggilan nurani,” tegasnya singkat, menjadikan semangat emansipasi tetap hidup, nyata, dan relevan di bumi Kalimantan Timur. (*)

Editor : Indra Zakaria
#aksi massa 21 april