Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ironi Kota Minyak: Solar Langka, Sopir Truk di Balikpapan Stok Solar di Jeriken Besar

Redaksi Prokal • Selasa, 12 Mei 2026 | 12:00 WIB
Antrean kendaraan truk maupun bus di SPBU kilometer 15 Jalan Soekarno-Hatta, Jumat (8/5/2026) lalu. (ARIF FADILLAH)
Antrean kendaraan truk maupun bus di SPBU kilometer 15 Jalan Soekarno-Hatta, Jumat (8/5/2026) lalu. (ARIF FADILLAH)

 

BALIKPAPAN — Kelangkaan Biosolar yang masih melanda Balikpapan memaksa para sopir truk ekspedisi memutar otak agar roda ekonomi tetap berputar. Kini, membawa cadangan solar dalam jeriken besar menjadi pemandangan lazim sekaligus syarat wajib sebelum mereka menembus jalur lintas Kalimantan, demi menghindari risiko mogok akibat kehabisan bahan bakar di tengah hutan.

Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas di SPBU KM 15, Balikpapan Utara, di mana antrean kendaraan besar masih mengular panjang. Amin Suradi, salah satu sopir ekspedisi rute Balikpapan-Berau, menuturkan bahwa perjalanan pulang-pergi membutuhkan sedikitnya 500 liter solar. Dengan pasokan yang seret di sepanjang jalur utara, ia mengaku tidak punya pilihan selain menimbun stok tambahan di bak truknya.

"Kalau belum terkumpul 500 liter, kami tidak berani jalan. Soalnya di sepanjang jalan solar juga susah didapat," ungkap Amin saat ditemui di tengah antrean, Senin (11/5/2026). Masalahnya, sistem pengisian Biosolar subsidi saat ini dibatasi maksimal 120 liter per transaksi, sehingga para sopir harus rela mengantre berkali-kali hanya untuk memenuhi kebutuhan jeriken cadangan mereka.

Perjuangan para sopir ini tergolong berat; beberapa di antaranya bahkan mengaku harus bermalam hingga dua hari di sekitar SPBU demi mendapatkan jatah subsidi. Meski Pertamina telah menambah distribusi dan mengoperasikan layanan 24 jam di SPBU KM 13 dan KM 15 pasca-aksi demonstrasi sopir truk beberapa waktu lalu, langkah tersebut dinilai belum cukup efektif mengurai kemacetan karena tumpuan pengisian masih terpusat di kawasan Balikpapan Utara.

Harapan besar pun digantungkan para sopir kepada pemerintah dan instansi terkait agar sebaran SPBU yang melayani solar subsidi diperluas. "Karena cuma dua SPBU, makanya antrean tetap panjang. Kami berharap ada tambahan SPBU lain yang menjual solar subsidi agar antrean bisa semakin terurai," pungkas Amin. Hingga berita ini diturunkan, krisis solar masih menjadi tantangan utama bagi sektor logistik di Kalimantan Timur, mengingat Biosolar merupakan urat nadi bagi distribusi barang antarwilayah. (*)

Editor : Indra Zakaria
#balikpapan