Kisah Inspiratif Ruslan IB07 Balikpapan; Menolong Tanpa Tarif, Bertahan karena Hati Nurani

Wawan • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 18:41 WIB
Ruslan atau karib disapa IB07 selalu terdepan dalam tugas dan pertolongan ketika ada musibah di Balikpapan.
Ruslan atau karib disapa IB07 selalu terdepan dalam tugas dan pertolongan ketika ada musibah di Balikpapan.

 

PROKAL.co, BALIKPAPAN – Ketika sebagian orang memilih menjauh dari lokasi bencana, Ruslan justru bergerak mendekat. Radio komunikasi menjadi salah satu perlengkapan yang menemani langkahnya ketika informasi mengenai kejadian darurat mulai terdengar.

Bagi pria yang dikenal dengan panggilan IB 07 itu, membantu masyarakat bukan pekerjaan yang mendatangkan gaji. Tidak pula ada tarif yang harus dibayar ketika relawan turun ke lapangan.

Selama 13 tahun, Ruslan bersama relawan Info Bencana Balikpapan (IB) memilih tetap berada di jalur kemanusiaan. Mereka hadir ketika kebakaran terjadi, ketika masyarakat membutuhkan bantuan, maupun saat kondisi darurat membutuhkan koordinasi cepat. “Kami bergerak dari getaran hati nurani yang paling dalam. Kami tulus membantu pemerintah, salah satunya ketika ada peristiwa atau kondisi emergensi di Kota Balikpapan,” kata Ruslan, Jumat (2/10/2026).

Perjalanan panjang IB di Balikpapan tidak dibangun dari proposal bantuan yang rutin diajukan kepada perusahaan atau pemerintah daerah.

Ruslan mengatakan, selama belasan tahun menjalankan aktivitas kemanusiaan, pihaknya tidak pernah menjadikan permintaan sumbangan sebagai cara utama untuk menghidupi kegiatan relawan.
Dukungan yang datang justru diberikan dalam bentuk perlengkapan yang dibutuhkan di lapangan.

Ada kendaraan pikap, radio komunikasi handy talky (HT), hingga jaket relawan. Peralatan tersebut kemudian digunakan untuk menunjang komunikasi dan mobilitas personel ketika berada di lokasi kejadian.
“Tidak berupa uang. Ada mobil pickup, radio HT, jaket. Barang-barang itu yang kemudian kami suplai kepada jajaran di lapangan,” ujarnya.

Bagi Ruslan, dukungan semacam itu bukan sekadar bantuan berupa barang. Perlengkapan tersebut menjadi bagian penting agar relawan dapat bergerak ketika informasi bencana membutuhkan respons cepat.

Ada hal menarik dalam perjalanan IB.
Di dalam grup komunikasi mereka, tercatat sekitar 1.024 anggota. Namun, jumlah relawan yang benar-benar aktif dan memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) hanya sekitar 12 orang.

Jumlah itu tentu bukan angka besar jika dibandingkan dengan luas wilayah Kota Balikpapan dan beragam potensi bencana yang harus dihadapi.

Namun, Ruslan tidak melihat jumlah personel sebagai satu-satunya ukuran kekuatan relawan. Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana informasi dapat diterima, diteruskan dan dikoordinasikan dengan cepat.

Tak sedikit pihak yang sempat mempertanyakan bagaimana belasan orang dapat menjalankan sistem koordinasi one gate atau satu pintu.

Jawabannya justru ada pada pola komunikasi yang selama ini mereka bangun.
“Berarti ini salah satu getaran hati dari bentuk kemanusiaan. Kami ikhlas membantu pemerintah,” katanya.

Di lapangan, IB tidak bekerja sendirian.
Relawan membangun komunikasi dengan berbagai unsur yang memiliki peran dalam penanganan keadaan darurat. Mulai dari TNI-Polri, BPBD, Basarnas, perangkat RT, relawan lain hingga masyarakat.

WhatsApp menjadi salah satu kanal utama untuk menghubungkan informasi tersebut.
Ketika sebuah kejadian dilaporkan, informasi dapat diteruskan melalui jaringan komunikasi yang telah terbentuk.

 Dari sana, koordinasi dilakukan agar unsur yang berkaitan dapat mengetahui kondisi di lapangan dan menentukan langkah penanganan maupun mitigasi.
Sistem tersebut terus dijaga selama bertahun-tahun. “Koordinasi satu pintu itu terus berjalan dan keadaan baik,” tegas Ruslan.

Bagi Ruslan, kecepatan informasi sangat penting dalam situasi bencana. Sebab, keterlambatan beberapa menit saja terkadang dapat memengaruhi proses penanganan di lapangan.

Salah satu aktivitas terbaru IB terlihat ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Balikpapan.
Relawan turun langsung membantu penanganan bersama BPBD, masyarakat, TNI-Polri serta unsur pemerintah.
Mereka tidak datang untuk mengambil alih tugas lembaga resmi.

Sebaliknya, keberadaan relawan menjadi bagian dari jejaring yang membantu mempercepat komunikasi dan penanganan di lokasi. “Alhamdulillah ada beberapa relawan kita terjun langsung ke lapangan membantu BPBD, membantu masyarakat, membantu TNI dan Polri maupun membantu pemerintah kota,” ucap Ruslan.

Keterlibatan tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Balikpapan.
Namun bagi Ruslan, apresiasi bukan alasan utama mengapa dirinya dan relawan IB terus bertahan.

Selama 13 tahun, mereka datang dan pergi dari berbagai lokasi kejadian dengan satu alasan sederhana: masih ada masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Ketika Kemanusiaan Menjadi Pilihan
Ketua Umum IB, H. Julpikar, disebut Ruslan turut memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan tersebut dengan tetap berpegang pada norma dan aturan yang berlaku.
Kepercayaan itu kemudian dijalankan bersama para relawan.

Boleh jadi jumlah mereka tidak banyak. Tidak pula ada seragam mewah atau anggaran besar yang menjadi modal utama.
Tetapi ketika informasi darurat muncul, jaringan komunikasi kembali bekerja.

Bagi IB 07, menjadi relawan bukan tentang seberapa banyak orang yang tercatat dalam sebuah daftar. Bukan pula tentang berapa besar bantuan yang diterima. Lebih dari itu, menjadi relawan adalah tentang kesediaan untuk datang ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Dan selama 13 tahun, Ruslan bersama IB memilih untuk tetap datang.

Editor : Wawan
bencana balikpapan