Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Harganya Lebih Bagus, Petani Berau Banyak Jual Sawit ke Kutim

Redaksi • Senin, 12 Mei 2025 - 19:00 WIB
Aktivitas pengangkutan TBS yang makin marak dijual ke Kutai Timur karena harga belinya yang relatif mahal. (BERAU POST)
Aktivitas pengangkutan TBS yang makin marak dijual ke Kutai Timur karena harga belinya yang relatif mahal. (BERAU POST)

 

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutamimenyoroti penurunan harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Berau per Maret lalu. Ia menyebut, selain karena harga yang tidak kompetitif, jarak pabrik pengolahan di Berau yang tergolong jauh juga menjadi kendala tersendiri bagi para petani.

Dalam rapat bersama Dinas Perkebunan dan hasil pemantauan lapangan, Sutami menjelaskan banyak petani sawit di pesisir lebih memilih menjual hasil panen mereka ke perusahaan di Kutai Timur (Kutim), seperti BHL dan PTH, karena harga yang ditawarkan lebih tinggi.

“Memang dari laporan lapangan, mereka membeli dengan harga lebih tinggi. Karena itu, petani kita banyak yang menjual ke sana,” ujarnya. Sutami menyesalkan lambannya perusahaan di Berau dalam menyesuaikan harga TBS berdasarkan ketetapan terbaru dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Ia menyebut saat harga naik, perusahaan di Berau cenderung lambat menyesuaikan, sementara saat harga turun, penurunan justru dilakukan dengan cepat.“Kami minta Dinas Perkebunan tegas menegakkan aturan harga dari provinsi. Jangan sampai perusahaan di Berau seenaknya sendiri dan merugikan petani,” ucapnya.

Ia menambahkan, disparitas harga di wilayah pesisir seperti Labalang bisa mencapai selisih Rp 300–Rp 400 per kilogram dibandingkan daerah lain. Hal ini tentu berdampak terhadap keberlangsungan industri perkebunan lokal dan pencapaian target produksi daerah.

Sutami mencurigai adanya oknum yang bermain dalam lambannya penyesuaian harga di tingkat perusahaan. “Kami belum bisa pastikan apakah ada keterlibatan dari pihak dinas atau oknum perusahaan. Tapi ini harus diusut. Karena jika dibiarkan, petani yang akan terus dirugikan,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, Komisi II DPRD Berau berencana turun langsung ke lapangan, serta memanggil sejumlah perusahaan untuk mencari solusi konkret dan memastikan harga sawit yang adil bagi petani.

“Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri di tengah kondisi ekonomi yang berat seperti sekarang,” pungkasnya.(hmd)

Editor : Indra Zakaria