BALIKPAPAN - Tidak berlebihan rasanya bila menyebut Kota Balikpapan sebagai surganya para penikmat kuliner. Karena berbagai makanan yang hadir, rata-rata memiliki tingkat kelezatan yang istimewa. Rumah Kue Brownies milik Dewi Angraeni pun tak mau ketinggalan memperkenalkan kudapan terbarunya dari total 55 jenis yang diproduksi secara reguler.
Populer dengan produksi aneka kue dan brownies, usaha milik Dewi Angraeni kian lengkap menyusul hadirnya onde pandan isi kacang hijau dan onde ubi ungu. "Sebenarnya produksi sejak dua tahun lalu tapi hanya tersedia untuk pesanan snack box dan nampan. Tapi sejak tiga bulan terakhir (volume) produksi ditambah seiring banyaknya permintaan di luar kebutuhan tersebut, jadi bisa dibeli satuan tanpa harus satu paket dalam snack box atau nampan," ucap Dewi saat ditemui di kediamannya di kawasan Gunung Malang, pekan lalu.
Disebutkan, kala itu produksi onde pandan kacang hijau dan onde ubi ungu tergantung jumlah pesanan yang diterimanya. "Awalnya 50 hingga 100 buah, itu pun tidak setiap hari," akunya.
Ukurannya pun terbilang mini. Tapi kini kedua kudapan yang menjadi andalannya, sudah ready stock dan berukuran lebih besar. Tersedia di gerainya yang terletak di kawasan Stalkuda. "Kami siapkan 200 buah per hari. Dan itu habis," ungkapnya.
Tekstur kulit yang crunchy alias garing dan isian yang lembut yang menjadikan onde pandan kacang hijau beserta onde ungu miliknya disukai penikmatnya. Soal tampilan tidak usah diragukan. Menggoda selera bagi siapa pun yang memandang. Tengok saja penggunaan biji wijen yang menyelimuti onde pandan kacang hijau dan onde ubi ungunya, hadir dalam dua warna sukses menggugah rasa.
Tak heran bila camilan buatannya tersebut kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan Kota Balikpapan. Apalagi harga yang dibandrol diklaim terjangkau hanya Rp 5 ribu per buah.
Bencana di Sigi, Palu dan Donggala beberapa waktu lalu konon mempengaruhi produksinya lantaran terkendala ketersediaan bahan baku. "Terutama ubi ungu karena rata-rata bahan baku dari sana," paparnya.
Tapi kekhawatirannya kini sirna seiring jamaknya petani lokal yang menjadikan ubi ungu sebagai komoditas tanam. "Ada alternatif. Kalau pasokan luar daerah kosong, ada dari lokal," pungkasnya. (dra/cal)
Editor : amir-Amir KP