Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi, Warga Migrasi ke Pertalite, Pendapatan Ojol Berkurang

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 20:23 WIB
Photo
Photo

Pertamina melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 1 Oktober 2023. Hal ini membuat masyarakat banyak yang migrasi ke Pertalite. Antrean di SPBU pun mengular.

 

TERIK mentari tak menyurutkan Asnadi untuk ikut mengantre demi mendapatkan 3 liter Pertalite di SPBU Karang Anyar. Antrean di SPBU ini terpantau panjang, mengular hingga ke badan Jalan Letjen Suprapto, Balikpapan Barat. Bersama puluhan pengendara roda dua lainnya, area Pertalite lebih banyak diminati dibandingkan Pertamax.

Asnadi merupakan driver dari salah satu aplikasi ojek online (ojol). Sebagai pengguna, dirinya mengaku dulu sempat menggunakan Pertamax. Hanya saja, disebabkan harga Pertamax tersebut terus melonjak membuatnya terpaksa beralih ke Pertalite.

"Awal-awal pas Pertamax masih harga Rp 12 ribuan saya pakai, karena kan antreannya nggak panjang biar narik (ojek online) jadi lebih cepat. Tapi sekarang, biar nutupin pengeluaran juga, jadi pakai Pertalite biar nggak terlalu mahal," ucap Asnadi.

Mengingat mobilisasinya yang tinggi, ia mengatakan dalam sehari setidaknya mesti merogoh kocek hingga Rp 300 ribu untuk membeli Pertalite. "Harga tarif ojek sekarang sangat kompetitif, dan harga BBM ikut naik tentu ngaruh ke pendapatan. Semoga Pertalite tetap di harga Rp 10.000 lah jangan naik lagi. Apalagi jika sampai dihapus, masyarakat pastinya yang terdampak," keluh Asnadi.

Di SPBU Karang Anyar tidak hanya menyediakan BBM subsidi, yakni Pertalite, tapi juga terdapat BBM nonsubsidi kecuali Dexlite. Awak media juga sempat memantau di area SPBU Kilometer 4 Batu Ampar, Balikpapan Utara. Antrean roda dua pembeli Pertalite juga tidak kalah panjang. Untuk BBM jenis Pertamax sendiri tidak tersedia.

Diketahui, per 1 Oktober 2023 pengusaha lembaga penyalur BBM SPBU/SPBUN di Kalimantan Timur dan Utara diminta melakukan penyesuaian harga. Di mana Pertamax menjadi Rp 14.300 per liter, Pertamax Turbo Rp 16.950 per liter, Pertamina Dex Rp 18.250 per liter dan Dexlite Rp 17.550 per liter.

Terkait itu, awak media juga sempat bertanya kepada pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan. Termasuk kaitan kenaikan harga BBM nonsubsidi dengan wacana Pertamax Green yang digadang menggantikan Pertalite.

Mengenai itu, Area Manager Communication Relations and CSR Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Arya Yusa Dwicandra memberikan jawaban, bahwa Pertamina secara berkala melakukan perubahan harga untuk produk-produk BBM nonsubsidi sesuai regulasi yang berlaku.

Ini sekaligus mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak dunia, yakni harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS)/Argus serta nilai tukar mata uang rupiah. "Perubahan harga berkala dilakukan Pertamina Patra Niaga setiap bulannya mengacu kepada tren harga publikasi MOPS/Argus pada periode tanggal 25 hingga tanggal 24 pada bulan sebelumnya," terangnya.

Sedangkan, menanggapi pertanyaan mengenai rencana penghapusan Pertalite? Arya mengatakan, sejauh ini belum ada arahan terkait penghapusan Pertalite. Walaupun tidak secara detail, dirinya juga menuturkan, pihak Pertamina memastikan untuk kuota dan stok BBM hingga akhir tahun dalam kondisi aman dan tercukupi.

"Kita pastikan BBM subsidi dan nonsubsidi di wilayah Kalimantan tetap tercukupi hingga akhir tahun nanti," pungkasnya. (ndu/k15)

 

Ulil

Yin.khazan@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria