Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Wow! Harga Minyak Kratom Tembus Rp 2 Juta per 50 Mililiter

Aristono Edi Kiswantoro • 2024-03-05 07:25:48
Salah satu stand yang menjual produk kratom dalam pameran Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada 14-17 Februari lalu. (Ist)
Salah satu stand yang menjual produk kratom dalam pameran Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada 14-17 Februari lalu. (Ist)

 

Produk turunan kratom dari Kalimantan Barat menjadi primadona dalam pameran rokok, vape, dan suplemen kesehatan terbesar dunia, Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada 14-17 Februari lalu. 

Pameran dagang dan industri tahunan yang sudah digelar sejak tahun 1999 ini dihadiri oleh puluhan ribu orang dari seluruh dunia. Satu diantara yang hadir adalah Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalbar, Rudyzar Zaidar Mochtar. Dia menceritakan bagaimana kratom sedang sangat digandrungi di Amerika Serikat.

“Saya lihat banyak sekali orang dari seluruh Amerika Serikat dan dunia datang ke pameran itu. Ada juga dari kalangan selebritis, musisi, bahkan petinju di sana. Mereka penasaran dengan kratom ini,” sebutnya.

Tidak hanya wajah-wajah orang top yang membuatnya kagum, pengusaha ekspor ini juga terkejut melihat label harga yang diberikan pada produk turunan dari kratom.

 

“Ada puluhan tenant yang saya lihat di Champs Trade Shows yang menjual produk turunan dari kratom. Dan yang bikin saya terkejut adalah harga yang ditawarkan di sana. Salah satunya kratom diolah menjadi suplemen CBD (Cannabidiol) berupa tablet atau cairan. CBD oil kratom harganya mencapai 120 dolar AS (sekira Rp2 juta) untuk ukuran 50 mililiter,” ungkap Rudyzar.

Dia menceritakan ada banyak produk akhir dari kratom yang dipamerkan dalam ajang akbar tersebut. Produk-produk itu adalah suplemen kesehatan berupa kapsul dan tablet, liquid untuk vape, teh, minuman saset, balsem, aroma terapi, dan lain-lain. “Para produsennya sebagian besar Amerika Serikat. Tapi ada juga dari Eropa,” ungkapnya.

Menurutnya harga produk dari kratom di Amerika bisa puluhan kali lipat lebih besar dari harga bahan baku yang ada di Kalbar.

Saat ini harga kratom di Kalbar untuk daun basah sekira Rp6.000 per kilogram. Sedangkan harga daun remahan kering di angka Rp20.000 sampai Rp 30.000, - per Kg.

Padahal, bila diperhatikan produk akhir yang dihasilkan di Amerika tidak membutuhkan teknologi yang terlalu tinggi. “Misalnya untuk kapsul kratom ya tinggal kapsul diisi bubuk kratom saja kan. Tidak susah. Begitu juga CBD oil atau misalnya untuk liquid vape (rokok elektrik), itu kan seperti ekstrak atau esensial dari kratom saja. Tetapi begitu sudah jadi produk akhir dan diberi merek, harganya jadi tinggi sekali,” ungkap Rudyzar.

Indonesia sendiri tak bisa memproduksi produk turunan kratom. Ada aturan Pemerintah yang melarangnya, lantaran masih ada kontroversi bahwa tanaman bernama latin mytragyna speciosa ini mengandung zat adiktif.

Kratom tak boleh diperdagangkan di dalam negeri. Kratom hanya boleh dijual ke luar negeri atau ekspor. Itu pun dalam bentuk tepung, alias bukan produk jadi.

Namun, kata Rudyzar, negara seperti India juga memberlakukan aturan mirip Indonesia. Kratom tak boleh diperdagangkan untuk pasar domestik.

Namun para pengusaha lokal diizinkan membuat produk akhir atau turunan dari kratom. Kendati produk tersebut juga harus diekspor, setidaknya nilai jualnya meningkat berkali lipat ketimbang hanya menjual bahan baku.

 

 

Photo
Photo
Rudyzar Zaidar mengunjungi pameran Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada 14-17 Februari lalu.

 


Perlu Tata Niaga Kratom

Hal yang cukup membuatnya bangga pada pameran Champs Trade Shows 2024 di Las Vegas adalah pengakuan para pengusaha di sana tentang kratom Kalimantan Barat. Menurutnya saat ini ada banyak negara yang menanam kratom, namun kualitas kratom dari Indonesia, terutama Kalbar dinilai banyak orang sebagai yang terbaik di dunia.

“Impor kratom Amerika Serikat itu tidak hanya dari kita, banyak juga dari Thailand, Vietnam, dan negara-negara Indocina. Bahkan beberapa negara Afrika juga mulai menanam. Tetapi kratom dari Kalimantan Barat yang paling baik kualitasnya, dari sisi kandungan mitragine-nya,” jelas dia.

Namun sayangnya kualitas kratom Kalbar belakangan kerap dipertanyakan oleh pembeli dari Amerika. Pasalnya sering ditemukan produk yang tidak higienis, bahkan tercampur dengan dedaunan lain. Hal tersebut, menurutnya, lantaran tidak ada standarisasi produk dan fasilitas usaha, sehingga siapa pun bisa mengekspor, bahkan orang yang tak berpengalaman sekali pun.

Akibatnya terjadi persaingan harga yang gila-gilaan. “Belum lagi kualitas produk yang buruk dan merusak citra kratom Indonesia, terutama Kalbar. Paling dirugikan tentu saja petani kratom,” ungkap Rudyzar.

Saat ini di pasaran internasional, harga tepung kratom berada di kisaran 5 hingga 6 dolar AS per kilogramnya. Padahal beberapa tahun lalu, komoditas ini pernah menyentuh nilai 40 dolar. Di tingkat petani harga daun basah tinggal Rp4.000. Adapun daun kering remahan sekitar Rp20.000-30.000, tergantung kualitas.

Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pembeli yang seenaknya. Menurutnya, banyak eksportir Kalbar yang menderita kerugian lantaran kirimannya tidak dibayar pembeli.

“Sering barang sudah sampai, buyer tidak mau membayar. Alasan mereka produk yang dikirim setelah diuji kualitas oleh lab di sana, ternyata kratom kita banyak dicampur daun tumbuhan lain. Katanya tidak higienis, atau kandungan mitragine-nya rendah,” sebut dia.

Ia tak menyangkal bila ada segelintir oknum eksportir yang melakukan kecurangan demi meningkatkan volume pengirimannya. Hal itu merugikan semua pihak. Termasuk petani di daerah. “Tentu ini merusak citra para eksportir lainnya. Terutama petani di daerah,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Rudyzar mendorong agar seluruh produk kratom yang diekspor wajib diuji laboratorium dulu di dalam negeri. Ia juga meminta pemerintah mengintervensi dan memberlakukan aturan terkait produksi kratom ekspor. 

Lanjut Rudyzar, hendaknya para pelaku ekspor juga distandarisasi dan diawasi pemerintah. Harus ada syarat minimum bagi eksportir yang bisa melakukan ekspor. Pasalnya saat ini siapapun bisa mengekspor, sehingga berdampak persaingan harga yang tidak sehat dan buruknya citra produk kratom Kalbar.

“Harus ada syarat untuk mengekspor. Misalnya minimal harus ada gudang 2.000 ribu meter persegi. Eksportir harus punya fasilitas penggilingan dan pengeringan yang standar. Supaya tertib dan teratur,” sebutnya.

Dia mencontohkan komoditas kopi, rotan, dan sejumlah produk lainnya, yang harganya selalu stabil. "Di komoditas kopi misalnya ada kuota ekspor yang diberikan kepada pelaku usaha. Syaratnya mereka harus punya tempat produksi yang standar. Akibatnya jadi lebih terkontrol," paparnya.

Namun aturan tersebut hendaknya jangan sampai menimbulkan praktik monopoli atau oligopoli ekspor. “Yang penting tidak seperti sekarang, dimana semua bisa kirim semaunya,” imbuh Rudyzar. 

Selain itu, kata dia, saat ini ekspor kratom sebagian dijalankan via Jakarta, Surabaya, dan pelabuhan kota-kota lain. Beberapa penampung di sana memborong kratom Kalbar. Akibatnya, pemerintah daerah Kalbar tidak mendapatkan pajak ekspor dari pengiriman tumbuhan yang menjadi obat herbal tersebut.Rudyzar berharap ada aturan yang mengatur hal ini. “Ini untuk melindungi petani dan pelaku usaha lokal di bidang kratom ini. Sebaiknya ekspor dilakukan di Pontianak, sehingga pajaknya masuk ke daerah,” ucap dia.

Sebagai informasi, kratom adalah tumbuhan endemik Kalbar yang telah lama menjadi obat herbal bagi warga lokal. Belakangan permintaan internasional akan komoditas ini meningkat, sehingga kratom pun menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Kalbar.

Di Kalbar ada sekira ribuan masyarakat yang hidupnya tergantung dari produk yang awalnya adalah tumbuhan liar ini. Selain memiliki fungsi bagi dunia pengobatan, kratom juga saat ini memiliki fungsi ekologis dalam sebagai paru-paru dunia di Kalimantan. (ars)

 

 
Editor : Indra Zakaria
#kratom