SAMARINDA- Berdasarkan Data Dinas Perdagangan, Senin (7/7) kenaikan harga cabai rawit di Pasar Segiri mengalami lonjakan yang cukup signifikan yakni Rp.70.000 perkg, dibanding bulan lalu harga cabai rawit di Pasar Segiri memiliki pasokan harga hanya Rp.55.000 perkg nya.
Namun berdasarkan pantauan dari pasar tradisional lainnya di Samarinda harga cabai rawit memiliki harga yang berbeda-beda perkilogramnya dalam satu pasar.
Menurut data pada website Dinas Perdagangan Kota Samarinda, pada Pasar Ijabah pasokan cabe rawit memiliki peningkatan harga ketimbang Pasar Segiri yakni Rp80.000 perkg nya dan Pasar Bengkuring mengalami peningkatan harga cabai rawit seharga Rp90.000 perkilonya.
Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan harga cabai di pasar tradisional menjadi sorotan utama masyarakat, terutama para emak-emak yang sehari-harinya mengelola kebutuhan dapur keluarga. Harga cabai yang biasanya relatif stabil kini meroket hingga dua kali lipat bahkan lebih, membuat para ibu rumah tangga harus berpikir keras untuk mengatur pengeluaran sehari-hari.
Kenaikan harga cabai ini tidak hanya membuat emak-emak mengelus dada, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi keluarga. Banyak ibu rumah tangga yang terpaksa mengurangi penggunaan cabai dalam masakan sehari-hari, bahkan ada yang memilih mengganti dengan bumbu alternatif agar pengeluaran tetap terjaga.
Beberapa pedagang juga mengalami dampak penurunan penjualanan karena daya beli masyarakat yang ikut menurun dikarenakan harga cabai rawit yang menjolak tinggi.
Para petani dan ahli, menunjukan beberapa alasan utama mengapa harga cabai naik secara signifikan. Yang pertama adalah cuaca yang sangat tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir, yang menyebabkannya gagal panen di daerah-daerah yang banyak menghasilkan cabai. Hasil panen cabai menurun drastis karena hujan yang sangat banyak dan serangan hama.
Di samping itu, terdapat gangguan dalam distribusi akibat naiknya biaya transportasi yang juga mempengaruhi kenaikan harga di pasar. Permintaan yang masih tinggi, terutama menjelang hari-hari besar dan waktu tertentu, semakin menambah tekanan pada jumlah cabai yang tersedia.
Pemerintah juga berusaha melakukan intervensi melalui dinas pertanian dan perdagangan dengan mempercepat pengiriman cabai dari daerah yang memproduksi ke pasar utama dan memberikan bantuan keuangan kepada petani agar produksi dapat meningkat lagi, emerintah Kota Samarinda sudah melakukan tindakan untuk mengatasi kenaikan harga cabai rawit. Pemerintah setempat juga telah menyelenggarakan pertemuan koordinasi untuk mengurangi efek dari naiknya harga cabai, serta melakukan inspeksi ke pasar untuk memeriksa harga dan ketersediaan bahan pangan, termasuk cabai rawit, supaya harga bisa kembali stabil.
Selain itu, ada juga inisiatif untuk mendidik masyarakat agar bisa mengelola penggunaan cabai dengan bijak. (fitrinovitasari)
Editor : Indra Zakaria