TANJUNG SELOR – Sektor perkebunan kakao di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kini tengah berada dalam fase krusial akibat fluktuasi harga yang cukup tajam. Meskipun potensi luas lahan sebesar 55 hektare di wilayah Tanjung Palas, Tanjung Palas Timur, dan Sekatak masih sangat menjanjikan, tantangan muncul ketika nilai jual komoditas unggulan ini merosot di bawah angka psikologis seratus ribu rupiah per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Bulungan, Kristianto, mengungkapkan bahwa saat ini harga biji kakao kering hasil fermentasi berada di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode Agustus hingga November 2025 lalu, di mana harga kakao di tingkat petani sempat melonjak hingga Rp 120 ribu, bahkan mencapai Rp 145 ribu di tingkat pengepul. Sementara itu, untuk biji non-fermentasi, harga merosot lebih jauh ke angka Rp 40 ribu, dan biji basah dihargai pada kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.
Menyikapi tren penurunan ini, Pemerintah Kabupaten Bulungan fokus pada penguatan kualitas pasca-panen sebagai kunci utama untuk tetap bersaing di pasar global. Salah satu faktor krusial yang terus disosialisasikan kepada petani adalah pentingnya proses fermentasi yang benar selama tiga hingga lima hari sebelum proses penjemuran. Hal ini dikarenakan kualitas atau mutu biji kakao sangat bergantung pada standar pengolahan, yang nantinya akan menentukan apakah produk tersebut bisa menembus harga premium atau tidak.
Pemerintah tetap optimis bahwa dalam lima tahun ke depan, permintaan pasar global terhadap kakao akan tetap tinggi. Oleh karena itu, pembinaan dari hulu ke hilir terus diperkuat dengan penyediaan fasilitas nyata. Pemkab Bulungan kini mulai menyalurkan bantuan alat pengering dan kotak fermentasi untuk memastikan para petani memiliki sarana yang memadai dalam menjaga mutu produksi mereka. Dengan dorongan standarisasi ini, diharapkan kesejahteraan petani tetap terjaga meski berada di tengah dinamika harga pasar yang tidak menentu. (*)
Editor : Indra Zakaria