Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pasar Properti Balikpapan: Harga Rumah Baru Meroket, Angka Penjualan Justru Anjlok Drastis

Redaksi Prokal • Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:45 WIB
Ilustrasi properti
Ilustrasi properti

PROKAL.CO, BALIKPAPAN — Dinamika kontradiktif tengah melanda pasar properti residensial di Kota Balikpapan pada awal tahun ini. Berdasarkan Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) terbaru yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan, harga rumah baru atau residensial primer mengalami lonjakan tajam, namun di sisi lain volume penjualannya justru terjun bebas.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan I 2026 sukses menyentuh angka 107,67. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy), melonjak signifikan dibanding triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh melambat di angka 0,43 persen (yoy).

“Kenaikan IHPR utamanya disebabkan oleh peningkatan harga jual rumah untuk seluruh tipe, baik tipe besar, kecil, maupun menengah,” jelas Robi Ariadi dalam keterangan resminya.

Kenaikan harga rumah baru ini terpantau merata di semua segmen pasar. Rumah tipe besar mencatatkan lonjakan harga tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 2,93 persen (yoy), melesat jauh dari triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,27 persen. Tren kenaikan ini disusul oleh rumah tipe kecil yang ikut terkerek naik sebesar 1,85 persen (yoy), menunjukkan lompatan besar dibanding periode sebelumnya yang hampir stagnan di angka 0,14 persen. Sementara itu, rumah tipe menengah mengalami kenaikan paling landai yakni sebesar 0,38 persen (yoy), meski rapor tersebut tetap lebih tinggi daripada raihan triwulan sebelumnya yang berada di angka 0,07 persen.

Menurut analisis Bank Indonesia, meroketnya harga hunian baru ini dipicu oleh langkah strategis sejumlah pengembang (developer). Mereka terpaksa melakukan penyesuaian harga jual demi mengakomodasi pembengkakan biaya produksi, mulai dari kenaikan harga bahan bangunan hingga upah tenaga kerja yang kian tinggi di lapangan.

Volume Penjualan Rumah Baru Anjlok Hingga 55 Persen

Ironisnya, kebijakan penyesuaian harga tersebut harus dibayar mahal dengan lesunya transaksi di pasar karena volume penjualan rumah baru di Kota Minyak justru mengalami penurunan tajam. Sepanjang triwulan I 2026, jumlah rumah baru yang berhasil terjual hanya menyentuh 72 unit, anjlok hingga 55,56 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mampu menembus 162 unit.

Sektor rumah tipe kecil menjadi korban yang paling terdampak atas lesunya pasar ini, di mana penjualan hunian minimalis tersebut merosot tajam dari 109 unit menjadi hanya 36 unit atau ambrol sebesar 66,97 persen (yoy). Menyusul di belakangnya, rumah tipe besar susut menjadi 19 unit setelah turun 40,62 persen, sedangkan rumah tipe menengah relatif bertahan dengan penjualan 17 unit meski melemah sebesar 19,05 persen. Kendati terpukul paling telak, rumah tipe kecil terpantau masih mendominasi pasar dengan menguasai pangsa penjualan sebesar 50 persen.

Bank Indonesia menilai bahwa selain faktor harga yang kian mahal, merosotnya daya beli properti ini dipengaruhi oleh pergeseran skala prioritas masyarakat. Pada awal tahun ini, konsentrasi pengeluaran konsumen lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, sehingga rencana pembelian aset properti atau hunian baru terpaksa ditunda terlebih dahulu oleh sebagian besar konsumen. (*)

Editor : Indra Zakaria
#properti #balikpapan