MANCHESTER – Di balik deretan trofi berkilau dan tekanan taktik di pinggir lapangan, Pep Guardiola ternyata menyimpan luka personal yang jarang terungkap ke publik. Dalam sebuah momen yang sangat emosional, manajer Manchester City ini menanggalkan jubah "sang pemenang" dan berbicara jujur sebagai seorang ayah yang hancur hatinya.
Guardiola mengenang sebuah malam kelam yang mengubah hidup keluarganya selamanya. Fokusnya tertuju pada sang putri, Maria, yang saat itu harus menyaksikan keretakan hubungan kedua orang tuanya.
"Orang-orang hanya melihat sepak bola, gelar, dan tekanan... tapi mereka tidak melihat momen di rumah," ungkap Pep dengan nada bergetar. "Saya ingat satu malam dengan sangat jelas. Putri saya, Maria... dia menangis sepanjang malam. Dia tidak ingin keluarga ini hancur."
Dengan suara parau, Pep menceritakan bagaimana Maria kecil berulang kali menghampiri ibunya, memohon agar sang ibu tidak pergi. Pemandangan itu, menurut Pep, adalah tekanan yang jauh lebih berat daripada final Liga Champions mana pun.
"Dia menghampiri ibunya, lagi dan lagi, memintanya untuk tetap tinggal. Hanya seorang anak kecil, tapi dengan perasaan yang begitu dalam. Saya tidak bisa diam saja melihat itu. Saya menghampirinya. Kami berdua di sana, meminta, memohon... bukan sebagai manajer, bukan sebagai siapa pun—hanya sebagai seorang ayah dan suami."
Momen pilu itu memuncak ketika Pep dan Maria menangis bersama dalam keputusasaan. "Kami berdua menangis. Kami mencoba segalanya. Tapi terkadang... tidak peduli seberapa besar kamu menginginkannya, dia (sang istri) tetap memutuskan untuk pergi," tambahnya.
Namun, di balik perpisahan yang menyakitkan itu, Pep menemukan kekuatan baru pada sosok Maria. Ia menyebut bahwa malam itu mengubah putrinya menjadi sosok yang jauh lebih dewasa dari usianya. Sejak saat itu, Maria menjadi pilar pendukung utama dalam hidup dan karier Pep.
"Setelah malam itu, sesuatu berubah dalam diri Maria. Dia selalu berada di sisi saya. Diam, kuat, mendukung saya tanpa perlu banyak bicara. Dia memahami lebih dari yang seharusnya dipahami seorang anak kecil. Dan saya pikir... dia tahu itu tidak mudah bagi siapa pun. Tidak bagi saya, tidak baginya, dan tidak bagi ibunya. Tapi dia memilih untuk tetap tinggal bersama saya," tutup Pep.
Kisah ini memberikan perspektif baru bagi para penggemar sepak bola di seluruh dunia, bahwa di balik strategi brilian dan dominasi di lapangan hijau, seorang Pep Guardiola tetaplah manusia biasa yang bergulat dengan rapuhnya sebuah hubungan dan besarnya cinta seorang ayah kepada putrinya.(*)
Editor : Indra Zakaria