LIVERPOOL – Bintang lini serang Liverpool, Mohamed Salah, akhirnya buka suara mengenai situasi sulit yang sedang dihadapi klubnya musim ini. Melalui sebuah curahan hati yang emosional sekaligus sarat akan kritik membangun, penyerang asal Mesir tersebut merefleksikan perjalanan panjangnya di Anfield, sembari menuntut pengembalian identitas bermain The Reds yang belakangan dinilai mulai memudar.
Salah mengenang kembali bagaimana ia menjadi saksi hidup transformasi besar Liverpool di bawah asuhan Jurgen Klopp dahulu. Dari sebuah tim yang penuh keraguan, perlahan tumbuh menjadi skuad yang penuh keyakinan, hingga akhirnya sukses menancapkan taring sebagai penguasa Inggris dan Eropa.
“Saya telah menyaksikan klub ini berubah dari para penyangkal menjadi para percaya, dan dari para percaya menjadi para juara. Itu membutuhkan kerja keras dan saya selalu melakukan segala yang saya bisa untuk membantu klub mencapainya. Tidak ada yang membuat saya lebih bangga daripada itu,” ungkap Salah emosional.
Namun, kebanggaan tersebut kini terusik oleh inkonsistensi yang ditunjukkan Liverpool sepanjang musim bergulir. Salah secara blak-blakan mengakui bahwa rentetan hasil buruk dan performa tim yang kolaps di beberapa laga krusial terasa sangat menyakitkan. Menurutnya, penurunan performa ini sama sekali bukan hal yang pantas diterima oleh para pendukung setia yang selalu memenuhi Anfield.
Bagi Salah, standar yang dimiliki Liverpool tidak boleh disamakan dengan klub semenjana. Ia memberikan sentilan keras bahwa meraih tiga poin secara acak di beberapa pertandingan bukanlah jati diri Liverpool yang sebenarnya.
“Memenangkan beberapa pertandingan di sana-sini bukanlah apa yang seharusnya menjadi Liverpool. Semua tim memenangkan pertandingan,” sentilnya tajam.
Sebagai pemain yang telah mempersembahkan hampir seluruh trofi bergengsi bagi publik Merseyside, Salah mendesak adanya restorasi taktik. Ia menegaskan keinginannya untuk melihat Liverpool kembali ke bentuk terbaiknya, yaitu sebagai tim penyerang agresif dengan gaya heavy metal yang digdaya dan ditakuti oleh lawan manapun di atas lapangan hijau.
Bagi Salah, karakter bermain yang meledak-ledak dan haus akan trofi adalah satu-satunya sepak bola yang ia pahami. Ia menegaskan bahwa identitas tersebut adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi oleh siapa pun yang berseragam Merah. Semua orang yang bergabung dan menjadi bagian dari klub ini, tanpa terkecuali, harus menyesuaikan diri dengan standar tinggi tersebut demi menjaga nama besar klub selamanya.
Meskipun masa depannya kerap dispekulasikan seiring berjalannya waktu, komitmen Salah terhadap klub yang telah membesarkan namanya ini tetap tidak tergoyahkan. Ia menegaskan bahwa Liverpool akan selalu memiliki tempat yang sangat spesial di hati sanubari diri dan keluarganya, bahkan ia berharap melihat klub ini terus merajai kompetisi lama setelah dirinya memutuskan hengkang suatu hari nanti.
Menatap sisa kompetisi yang ada, Salah memastikan fokusnya tidak akan terpecah. Ia mematok target realistis bahwa mengamankan tiket kelolosan ke UEFA Champions League musim depan adalah batas paling minimal bagi klub sebesar Liverpool, dan ia berjanji akan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya di atas lapangan demi mewujudkan hal tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria