Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pengakuan Jujur Pep Guardiola: Sejak Ditinggal Jurgen Klopp, Liverpool Kehilangan Faktor Horor

Indra Zakaria • Selasa, 26 Mei 2026 | 09:00 WIB
Juergen Klopp dan Pep Guardiola.
Juergen Klopp dan Pep Guardiola.
 

 
MANCHESTER – Di tengah momen perpisahan emosionalnya dengan Manchester City, Pep Guardiola sempat melontarkan pandangan mendalam mengenai rivalitas terbesarnya di Liga Inggris. Pria asal Spanyol itu secara terbuka membahas penurunan performa Liverpool sejak ditinggalkan oleh sang arsitek legendaris, Jürgen Klopp.

Bagi Pep, rivalitas melawan Liverpool era Klopp adalah ujian terberat sekaligus paling melelahkan sepanjang karier manajerialnya. Karakteristik permainan The Reds saat itu diakui Pep selalu berhasil meneror pikirannya, bahkan di musim-musim saat Manchester City keluar sebagai juara.

Guardiola mengenang bagaimana Liverpool di bawah asuhan Klopp bermain dengan intensitas yang mengerikan. Skuad Merseyside Merah saat itu tampil bak singa lapar yang siap menerkam setiap jengkal kesalahan yang dibuat oleh lawannya.

"Selama bertahun-tahun saya menghadapi Jürgen Klopp, Liverpool adalah satu-satunya tim yang membuat saya merasa bahwa setiap kesalahan sekecil apa pun bisa menghukum Anda. Mereka bermain dengan rasa lapar, amarah, dan kepribadian yang kuat. Bahkan ketika kami memenangkan liga, Liverpool-nya Klopp tetap membekas di pikiran kami karena mereka memiliki identitas yang sangat jelas," kenang Guardiola.

Hilangnya 'Faktor Horor' di Anfield

Namun, dinamika itu kini telah berubah. Menatap kondisi Liverpool saat ini, Guardiola melihat ada sesuatu yang menguap dari tubuh sang rival. Meski raksasa Anfield itu masih dihuni oleh deretan pemain berkualitas dan didukung oleh basis suporter yang fanatik, mereka dinilai tidak lagi mengintimidasi seperti dulu.

"Sekarang Anda melihat Liverpool dan ada sesuatu yang hilang. Mereka masih memiliki kualitas, mereka masih memiliki suporter yang luar biasa, tetapi faktor ketakutan (fear factor) itu tidak lagi sama," jelas Pep.

Menurut analisa Guardiola, apa yang dibangun Klopp di Anfield melampaui strategi dan papan taktik. Klopp berhasil menanamkan jiwa ke dalam tim hingga mereka dijuluki sebagai "Monster Mentalitas". Ketika sosok asal Jerman itu angkat kaki, pondasi emosional itulah yang paling goyah.

"Klopp membangun monster mentalitas. Ketika dia pergi, sebagian dari identitas itu ikut pergi bersamanya. Menggantikan manajer seperti itu hampir mustahil dilakukan karena Anda tidak hanya menggantikan ide-ide sepak bola, Anda sedang mencoba menggantikan sebuah emosi," pungkas Guardiola.

Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bagi dunia sepak bola bahwa taktik jenius bisa direplikasi, namun ikatan emosional dan determinasi tinggi yang ditiupkan seorang manajer karismatik ke dalam dada para pemainnya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli atau digantikan dengan mudah. (*)

Editor : Indra Zakaria
#pep guardiola #juergen klopp