VANCOUVER – Momen bersejarah siap diukir pelatih kepala Australia, Tony Popovic, saat memimpin skuadnya melakoni laga perdana Grup D Piala Dunia 2026. Bertempat di BC Place, Vancouver, Kanada, pada Minggu (14/6) pukul 11.00 WIB, laga kontra Turki ini akan menobatkan Popovic sebagai orang Australia pertama yang sukses mencicipi atmosfer Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih.
Sukses membawa Socceroos lolos otomatis ke putaran final setahun lalu memberikan Popovic kemewahan waktu untuk merombak tim. Ia memilih memarkir sebagian nama lama dan berani mengorbitkan fondasi anyar yang diisi oleh barisan pemain muda bertalenta.
Australia menapakkan kaki di Amerika Utara dengan membawa angin perubahan. Sepanjang satu tahun terakhir, Popovic secara konsisten memberikan panggung bagi para darah muda seperti Mohamed Toure, Nestory Irankunda, Lucas Herrington, Jacob Italiano, dan Paul Okon Jr untuk masuk ke dalam tim utama.
Guna menjaga keseimbangan taktik di dalam maupun luar lapangan, barisan daun muda ini akan dikawal oleh kuartet mentor senior yang sarat pengalaman, yakni Mathew Ryan, Mathew Leckie, Jackson Irvine, dan Aziz Behich. Meskipun chemistry antarpemain dinilai belum mencapai titik sempurna, perpaduan lintas generasi ini menunjukkan progres yang sangat menjanjikan dalam beberapa laga uji coba terakhir.
Mengacu pada hasil laga pemanasan kontra Meksiko dan Swiss dalam dua pekan ke belakang, analisis ESPN memprediksi Australia akan tetap setia pada pakem permainan disiplin. Mereka bakal mengandalkan organisasi pertahanan yang rapat dikombinasikan dengan tekanan tinggi (pressing ketat) di wilayah lawan.
Efektivitas penyelesaian akhir akan menjadi kunci utama runtuhnya pertahanan lawan. Tim medis Socceroos saat ini tengah fokus memantau kebugaran penyerang muda Mohamed Toure yang diproyeksikan menjadi mesin gol utama. Di sisi lain, bek sayap Jordan Bos dilaporkan berada dalam kondisi fisik puncaknya. Kemampuan Bos dalam melakukan tusukan dan membantu serangan dari sektor kiri bakal menjadi senjata rahasia Australia untuk membongkar taktik lawan, sementara duet kokoh Harry Souttar dan Alessandro Circati siap menjadi tembok tebal di lini belakang.
Tugas Australia dipastikan tidak mudah karena di atas kertas Turki lebih difavoritkan. Setelah menanti selama 24 tahun untuk kembali ke panggung Piala Dunia, tim asuhan Vincenzo Montella ini datang dengan modal mentereng sebagai semifinalis Euro edisi terakhir dan hanya menelan satu kekalahan sepanjang fase kualifikasi. Turki bahkan disebut-sebut sebagai tim terkuat di Grup D mengungguli tuan rumah Amerika Serikat secara peta kekuatan tim.
Daya ledak utama tim berjuluk Ay-Yildizlilar ini terletak pada dua jenderal lapangan tengah mereka yang tengah naik daun di kompetisi elite Eropa, yakni Arda Guler (Real Madrid) dan Kenan Yildiz (Juventus). Kendati kondisi Kenan Yildiz dilaporkan belum fit 100 persen dan masih berlatih terpisah, kreativitas Arda Guler tetap menjadi ancaman paling nyata bagi pertahanan Australia.
Status non-unggulan justru ditanggapi dengan santai oleh kubu Australia. Tekanan besar yang berada di pundak Turki dinilai menjadi keuntungan psikologis bagi skuad asuhan Popovic untuk tampil lepas. Asisten pelatih Australia, Hayden Foxe, menegaskan bahwa kekuatan sejati Socceroos tidak bertumpu pada kemilau individu, melainkan pada kolektivitas dan etos kerja tim yang solid.
"Tim juara selalu bisa mengalahkan kumpulan individu hebat, tetapi kami harus tampil maksimal dan fokus penuh selama 90 menit penuh," cetus Foxe saat diwawancarai oleh ESPN.
Dengan regulasi baru format Piala Dunia yang meloloskan delapan tim peringkat ketiga terbaik, peluang Australia untuk melaju ke babak gugur sebenarnya masih terbuka lebar walau andai gagal memetik poin penuh di laga perdana. Namun, mencuri kemenangan atau hasil imbang dari tim kuat seperti Turki jelas akan menjadi suntikan modal moral yang luar biasa bagi armada Tony Popovic di sisa turnamen. (*)
Editor : Indra Zakaria